Sahoun Ayam Pak Kartim merupakan kuliner yang fenomenal dan jadi satu-satunya olahan sahoun di Indonesia. Dikenal berkat cita rasa yang khas dan porsi yang melimpah, hidangan ini kini menjadi populer di Purwokerto, Banyumas, Jawa Tengah.
Kuliner ini dipelopori oleh Kartim sejak tahun 2003, ketika mewarisi resep sahoun yang ia peroleh dari seorang pedagang China. Saat itu, pemilik sebelumnya tidak lagi melanjutkan usaha sahounnya sehingga Kartim memutuskan untuk mengambil alih dan memperkenalkan kembali hidangan ini ke masyarakat.
Kartim memulai dengan modal yang relatif kecil, namun ia mampu mengembangkan usaha ini dan berhasil mendirikan empat cabang Sahoun Ayam Pak Kartim di Purwokerto. Salah satu cabang sahoun ayam, dikelola oleh Heri yang merupakan anak kandung Kartim.
Menurut pernyataan Heri, awal merintis usaha Kartim hanya mampu menjual satu porsi sahoun ayam. Kini, ia mampu menjual 500 porsi setiap harinya dengan harga Rp13.000 per porsi. Harga tersebut kian melonjak setelah sebelumnya pada tahun 2003 dihargai Rp1.500 per porsi.
"Dulu Rp1.500 per porsi. Sekarang naik Rp13.000 karena dulu ayam masih sekitar Rp6.000 per kilogram, yah naik jadi Rp35.000," kata Heri dalam tayangan YouTube Rajarasa, dikutip pada Senin (30/9).
Salah satu ciri khas sahoun terletak pada proses pembuatannya yang unik. Sahoun terbuat dari campuran tepung beras dan tapioka, memiliki tekstur lebih tebal dan dilipat sebelum diiris tebal. Sementara itu, kwetiau terbuat dari tepung beras dan disajikan dalam bentuk lembaran yang diiris tipis.
Proses pembuatan sahoun masih dilakukan secara manual, sehingga memerlukan ketelitian dan keahlian. Proses itu dilakukan di rumah Kartim yang berlokasi sekitar 2 kilometer dari cabang 1.
Tidak hanya proses pembuatan, dari segi pengolahan pun cenderung berbeda. Kuah sahoun memiliki cita rasa yang lebih gurih dan bening karena menggunakan bumbu penyedap maupun kaldu ayam. Sementara olahan kwetiau, sering kali disajikan dengan saus, kecap atau bumbu lainnya. Perbedaan ini menjadikan sahoun sebagai hidangan khas dan berbeda dari kwetiau pada umumnya.
Kartim dan keluarga berencana untuk membuka cabang di kota lain, seperti Purbalingga maupun Cilacap. Pasalnya, ke empat cabang di Purwokerto juga ramai didatangi pelanggan, termasuk dari luar Purwokerto seperti Jakarta dan bahkan Qatar.
"Rencana buka cabang ada, ya sekitar Purbalingga dan Cilacap. Cuman belum ada tenaganya," ujar Heri.
Sahoun Ayam Pak Kartim menjadi bukti bahwa dalam usaha kuliner, keberanian untuk berinovasi dapat membawa kesuksesan yang tidak terduga. Bagi sebagian masyarakat Purwokerto, sahoun bukan hanya sekadar makanan, tetapi juga simbol dari dedikasi dan kreativitas yang menginspirasi banyak orang.
Reporter magang: Thalita Dewanty
Advertisement