Darmin sebut Singapura sudah lama tak lirik Kota Batam
Merdeka.com - Menteri Koordinasi Bidang Perekonomian Darmin Nasution mengakui saat ini, Kota Batam tak pernah dilirik investor Singapura. Padahal, Kota Batam sendiri sangat berdekatan dengan Negara Singapura.
"Sebenarnya memang sudah lama Singapura tidak investasi disini, walaupun tiap tahun investasi nomor satu di Indonesia itu Singapura," ujar Darmin di Kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, Senin (19/9)
Darmin mengakui infrastruktur di Kota Batam masih belum memadai, salah satunya bandara dan pelabuhan. Hal ini, katanya, guna menarik investor datang ke Batam.
"Ya memang masih ada yang perlu perbaikan yang bagaimana pun sudah cukup lama, Batam itu belum diperbaiki. Kita mulai dari yang kecil-kecil dulu karena dananya kita tidak punya dana khusus apalagi dengan situasi APBN seperti ini," tegasnya.
Menurutnya, Darmin berbeda dengan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) yang tengah dibangun pemerintah. Akan tetapi, Mantan Gubernur Bank Indonesia ini menambahkan nantinya Kota Batam akan dijadikan KEK bukan lagi Free Trade Zone (FTZ).
"Karena setelah MEA berlaku, itu barang dari Malaysia atau singapura bisa masuk ke sini dengan bea masuk rendah. Semenatara dari Batam enggak bisa kalau FTZ. Makanya kita harus mengubah KEK," pungkasnya.
Sebelumnya, Badan Pengusahaan (BP) Batam melakukan penandatangan nota kesepahaman (MoU) bersama dengan PT Enerco RPO Internasional selaku investor asal Singapura dan PT Kabil Citranusa selaku pemilik Kawasan Industri Terpadu Kabil, guna membangun kilang di Batam dengan jumlah investasi mencapai USD 98 juta atau sekitar Rp 1,28 triliun.
Melalui Program Klik (Kemudahan Investasi Langsung Konstruksi), BP Batam akan memfasilitasi semua proses perizinan yang dibutuhkan Enerco agar dapat segera melaksanakan konstruksi pembangunan Kilang TDAE (Treated Distillate Aromatic Extract) di Batam. Sementara itu, proses pengurusan dokumen tetap berjalan sesuai dengan aturan yang berlaku.
"Sudah terlalu lama Batam tidak begitu menarik untuk investor. Dengan upaya yang dilakukan selama 7 bulan terakhir, kami percaya bahwa kita telah menempuh jalur yang benar. Kita percaya bahwa Batam adalah kawasan menarik bagi pengembangan usaha. Kalau itu sudah mulai ditunjukkan dengan MoU pada hari ini," ujar Menko Perekonomian Darmin Nasution di kantornya, Jakarta, Senin (19/9).
Darmin menambahkan, investasi yang dilakukan terdiri dari biaya investasi dan modal kerja yang sepenuhnya didukung oleh investor swasta nasional. Pekerjaan engineering telah dimulai sejak Oktober 2015 sehingga pekerjaan pengadaan barang dan konstruksi diharapkan dapat segera dimulai dan ditargetkan akan selesai pada akhir tahun 2017.
Kilang TDAE sendiri ini akan dibangun di Kawasan Industri Terpadu Kabil, Batam di atas lahan seluas 2,3 hektar. Lokasi Kilang di Batam ini secara geografis sangat strategis di mana armada tanker akan dipersiapkan langsung dari Batam ke wilayah Indonesia dan negara tujuan ekspor di Singapura, China, Korea, Jepang dan India.
Kilang TDAE ini juga dirancang dengan kapasitas produksi lebih dari 100.000 ton TDAE per tahun. Investasi ini menggunakan teknologi berbasis Hak Paten Proses yang dimillki oleh perusahaan swasta nasional bekerjasama dengan salah satu BUMN terkemuka di Indonesia.
Selain itu, PT Enerco bekerjasama dengan beberapa perusahaan engineering dan manufacturing asal Eropa untuk pembangunan kilang TDAE ini. Darmin berharap, PT Enerco mampu menarik Investor asal Singapura lainnya untuk bermitra di Indonesia khususnya Batam.
"Semua akan ada investor dari Singapura lagi yang mau bermitra dengan kitam. Saat ini Walau baru memandatangani mou investor udah pada datang. Kita ingin mewujudkan batam yang efisien dan kondusif untuk investasi," pungkasnya. (mdk/sau)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya