Cara Mewujudkan Keuangan yang Stabil, Harus Menghindari Impulsive Buying dan Beralih ke Kegiatan Investasi

Beralihlah dari perilaku impulsive buying ke kegiatan investasi untuk mendapatkan kehidupan finansial yang lebih mapan.

Gloria Trivena May Ary
Oleh Gloria Trivena May Ary - Reporter
Cara Mewujudkan Keuangan yang Stabil, Harus Menghindari Impulsive Buying dan Beralih ke Kegiatan Investasi
Cara mewujudkan keuangan yang stabil (© Shutterstock)

Dalam melakukan perencanaan keuangan untuk masa depan, terkadang ada saja kendala atau permasalahan yang menghalangi. Salah satunya adalah kebiasaan melakukan impulsive buying.

Impulsive buying sendiri merupakan perilaku di mana seseorang cenderung membeli sesuatu tanpa pikir panjang lebar. Alhasil, di saat sudah membelinya, bisa saja muncul perasaan menyesal yang terlambat. 

Munculnya impulsive buying ini biasanya dapat terjadi akibat berbagai kemudahan yang ditawarkan dalam berbelanja online. Berbagai diskon, gratis ongkir, hingga promo-promo menarik lainnya dipercaya jadi faktor kuat yang mendorong orang-orang untuk berbelanja secara impulsif.

Padahal faktanya, perilaku impulsive buying ini justru dapat memberikan dampak negatif pada pelakunya. Apalagi jika kebiasaan belanja impulsif ini dilakukan secara terus menerus, hal ini bisa mengakibatkan pemborosan yang tentunya dapat mengancam kesehatan finansial.

Tidak hanya memengaruhi kesehatan finansial, perilaku belanja impulsif juga dapat berdampak negatif pada beberapa hal berikut ini. 

Tidak hanya memengaruhi kesehatan finansial, perilaku belanja impulsif juga dapat berdampak negatif pada beberapa hal berikut ini. <br>
© Shutterstock
  • Penumpukan Barang Tidak Terpakai
Kebiasaan belanja secara impulsif bisa menyebabkan banyak barang menumpuk di rumah. Karena belanja yang hanya didasarkan pada keinginan semata, barang-barang yang sudah dibeli bisa jadi tidak dibutuhkan atau hanya terpakai sekali sehingga barang yang lainnya akan mubazir.

  • Rentan Terjerat Pinjaman
Perilaku belanja impulsif bisa mendorong pelakunya untuk mengambil jalan pintas dengan pinjaman. Apabila dilakukan secara terus menerus dan kemampuan finansial tidak mencukupi, bukan tidak mungkin pelaku impulsive buying ini bisa terjerat pinjaman atau kredit. 
  • Sulit Merencanakan Keuangan untuk Masa Depan
Belanja secara impulsif ini cenderung membuat pelakunya semakin boros. Mereka rela menghabiskan uang untuk belanja hal-hal tidak penting yang sebetulnya tidak terlalu dibutuhkan.

Hal inilah yang pada akhirnya membuat pengeluaran utama harus rela dikorbankan demi keinginan sesaat. Tak heran, perilaku ini pun membuat pelakunya akan kesulitan mengalokasikan dana untuk masa depan. 

Alasan Mengapa Investasi Penting untuk Dilakukan

Perilaku impulsive buying sudah seharusnya dihindari agar kondisi finansial bisa tetap terjaga dan stabil. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah dengan memahami kembali definisi keinginan (wants) dan kebutuhan (needs).

Penting bagi Anda untuk menyusun skala prioritas sebelum melakukan pembelian barang. Anda bisa menggunakan skala perencanaan keuangan dengan alokasi 40% - 30% - 20% dan 10%. 

Porsi 40% dapat dialokasikan untuk jenis kebutuhan rutin, akomodasi dan kebutuhan pokok lainnya. Sebanyak 30% dari dana Anda bisa dialokasikan untuk cicilan atau kredit dengan porsi kredit produktif harus lebih dari 15%.

Sebanyak 20% dari dana Anda bisa digunakan untuk proteksi dan investasi. Sementara itu, 10% sisanya dapat Anda gunakan untuk dana sosial atau bantuan lainnya.

Adapun untuk porsi 20% yang dialokasikan untuk proteksi dan investasi, Anda dapat menggunakan instrumen investasi yang ditawarkan oleh PT Bank Rakyat Indonesia (Persero), Tbk. (BRI).

Sebagai salah satu lembaga keuangan tepercaya di Indonesia, hadir dengan sejumlah instrumen investasi melalui Layanan Wealth Management BRI.

Jadikan Layanan Wealth Management BRI Sebagai Solusi Keuangan yang Tepat

Jadikan Layanan Wealth Management BRI Sebagai Solusi Keuangan yang Tepat
© Shutterstock

Adanya layanan BRI ini memungkinkan kamu untuk mendapatkan berbagai kemudahan dalam pengelolaan aset, termasuk konsultasi perencanaan keuangan dan investasi, proteksi, serta dana pensiun.  Layanan Wealth Management BRI menyediakan beberapa produk investasi yang bisa Anda pertimbangkan untuk membantu merencanakan keuangan Anda di masa depan. Berikut beberapa instrumen investasi yang tersedia di Wealth Management BRI.

Reksa dana merupakan produk investasi yang dirancang untuk menghimpun dana dari masyarakat untuk diinvestasikan ke dalam portofolio efek oleh Manajer Investasi (MI).

Beberapa jenis reksa dana yang tersedia pada layanan BRI Prioritas antara lain reksa dana saham, reksa dana campuran, reksa dana pendapatan tetap, reksa dana pasar uang, reksa dana terproteksi, dan reksa dana penyertaan terbatas (RDPT).
Obligasi Ritel (ORI) adalah Surat Berharga Negara (SBN) merupakan obligasi dijual kepada individu atau perseorangan Warga Negara Indonesia melalui agen penjual di pasar perdana dengan volume minimum yang telah ditentukan.

Obligasi Ritel (ORI) yang tersedia dalam layanan ini adalah Obligasi Ritel seri ORI025-T3 dan ORI025-T6 yang memang merupakan seri terbaru yang ditetapkan oleh pemerintah. Kedua jenis Obligasi Ritel ini mulai dibuka penawarannya sejak 29 Januari 2024 hingga 22 Februari 2024. 

Bagi para nasabah BRI Prioritas yang ingin membeli Obligasi Ritel, maka bisa dilakukan lewat SBN di BRImo. Sementara itu, proses pembelian unit Reksa Dana dapat Anda lakukan di UKER APERD (Agen Penjual Efek Reksa Dana) BRI.

Itu tadi beberapa instrumen investasi yang menjanjikan dan terpercaya pada layanan ini. Dengan hadirnya instrumen-instrumen tersebut, diharapkan agar perilaku berbelanja impulsif bisa dihindari dan impian untuk  finansial stabil di masa depan pun bisa dengan mudah diwujudkan.

Yuk, andalkan Layanan Wealth Management BRI untuk pengelolaan investasi Anda.

Rekomendasi