Bahan Baku Tempe Terakhir
Merdeka.com - Ada pemandangan tak biasa di Sentra Industri Tahu dan Tempe Rumahan yang ada di Johar, Jakarta Pusat, Sabtu (2/1). Biji kedelai hanya tersisa sedikit saja. Dibungkus plastik, berbaris di rak buatan dari rotan. Ini bahan baku terakhir yang tersisa.
©2021 Merdeka.com/Imam Buhori
Bak kosong berukuran besar warna warni. Biasanya penuh terisi bahan baku tempe dan tahu yang akan dicuci. Tapi kini kering.
©2021 Merdeka.com/Imam Buhori
Banyak pekerja yang berdiam diri. Salah satunya Khaerun. Dia punya banyak waktu berbagi cerita. Mengenai kabar kedelai hari ini.
©2021 Merdeka.com/Imam Buhori
Beberapa hari terakhir, Khaerun dan teman-temannya sulit mendapat kedelai untuk diolah menjadi tahu dan tempe. Panganan yang akrab di lidah sebagian besar orang Indonesia.
©2021 Merdeka.com/Imam Buhori
Kalaupun ada bahan bakunya, harganya tak masuk akal. Bisa mencapai Rp9.700 per kilogram. Jauh di atas biasanya. Biasanya hanya Rp7.200 per kilogram.
©2021 Merdeka.com/Imam Buhori
"Ini salah satu sisa bahan baku kedelai yang terlanjur di belinya ya hanya 1-2 saja yang memproduksi itu juga untuk konsumsi hari Senin (4/1)." Kata Khaerun.
©2021 Merdeka.com/Imam Buhori
Khaerun yang juga Ketua Paguyuban Perajin Tempe tak berdaya. Begitu juga rekan-rekannya. Keadaan seolah 'memaksa' mereka untuk berhenti produksi. Bukan atas keinginan sendiri.
©2021 Merdeka.com/Imam Buhori
"Berhenti produksi tempe karena harga kedelai tinggi. Kami tidak bisa menutup kebutuhan sehari-hari," katanya.
Ada sekitar 5.000 pelaku UKM yang tergabung Pusat Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia (Puskopti) DKI Jakarta menghentikan produksi hingga 3 Januari 2021.
(mdk/noe)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya