Asosiasi: Kami konsisten keputusan pemerintah harga gula petani Rp 9.700 per Kg

Selasa, 16 Oktober 2018 21:34 Reporter : Idris Rusadi Putra
Asosiasi: Kami konsisten keputusan pemerintah harga gula petani Rp 9.700 per Kg Gula. agro.kemenperin.go.id

Merdeka.com - Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) menegaskan bahwa seluruh pengurusnya tidak ikut serta dalam unjuk rasa di Monas, Jakarta Pusat, Selasa (16/10). Unjuk rasa ini menuding ketidakberpihakan pemerintah terhadap petani gula.

Pengurus DPP APTRI, Sunardi Edy Sukamto mengatakan, pihaknya tetap konsisten dengan kebijakan pergulaan. Asosiasi mensinyalir ada maksud tertentu di balik demo tersebut. Apalagi, di saat gula petani sudah dibeli, tapi ada yang meneriakkan ingin kenaikan harga.

"Yang demo itu Andalan (Andalan Petani Tebu Rakyat Indonesia), kalau kita konsisten dengan keputusan pemerintah dalam rapat kordinasi terbatas Kemenko Perekonomian, Mendag, dan Menteri BUMN dengan harga Rp 9.700 per Kilogram netto diterima petani dan Bulog tetap konsisten," ujarnya, Selasa (16/10).

Dia menjelaskan, saat ini sebagian besar tebu petani telah selesai tertebang. Dan gula petani telah di beli oleh Bulog atas penugasan dari Pemerintah. Edi mengatakan, gula petani sebagian telah terserap oleh pedagang sebelum penugasan Bulog. "Kok ada tuntutan ganti Mendag segala? Kepentingannya apa? Silakan masyarakat nilai sendiri demo itu," tukasnya.

"Kami paham, meski berat, Bulog tetap jalan, dalam proses ada pembayaran yang kurang lancar, itu memang ada, karena mungkin ada proses administrasi dan jumlah dana yang tersedia di Bulog. Apalagi itu jumlahnya tidak sedikit, sekitar Rp 1,2 Triliun," kata dia lagi.

Namun demikian, lanjut dia, adalah hal aneh ketika gula sudah dibeli namun ada pihak yang menginginkan harga dinaikkan. "Ketika petani sudah billing (penagihan), gula sudah di beli Bulog, dan gula produsen dibeli pedagang dan gula ada di tangan pedagang, lalu ada demo minta harga jadi tinggi, jadi yang menikmati keuntungan jelas bukan petani," tuturnya.

Dia menjelaskan, gula petani di bawah perusahaan gula non BUMN atau swasta juga sebagian besar telah diserap oleh pedagang dan gula dikuasai pedagang. Edi menduga ada pihak-pihak lain yang ingin mengeruk keuntungan jika harga dinaikkan.

"Kami tidak ingin aksi tersebut hanya di manfaatkan pihak lain yang mengatasnamakan petani. Kami tegaskan aksi tersebut bukanlah tuntutan dan tanggung jawab kami. Karena jika harga naik, yang menikmati bukan petani, bukan BUMN dalam hal ini PTPN, jadi kepentingan kita (petani) apa?," tuturnya.

Terkait impor gula, kata dia, sudah diizinkan dan sudah masuk. Sehingga petani tidak terimbas karena sudah dibeli.

Sementara itu, Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) menyebutkan kebutuhan konsumsi gula secara nasional ternyata belum tercukupi oleh produksi dalam negeri ditambah dengan impor yang telah dilakukan oleh pemerintah.

"Dari riset yang dilakukan untuk gula, statistiknya memang agak ganjil karena konsumsinya lebih tinggi dari produksi ditambah dengan impor gula," ujar Kepala Bidang Penelitian di Center for Indonesian Policy Studies (CIPS), Hizkia Respatiadi.

Menurutnya, hal itu sesuai dengan data bahwa terjadi kebocoran gula rafinasi sekitar 300 juta ton setiap tahunnya, yang diduga lari ke pasar konsumen. Adapun sebagian besar gula rafinasi didapat dari impor. Selain itu, jika dilihat sulit dibedakan antara gula konsumsi dengan gula rafinasi.

"Artinya ada kebutuhan yang tidak terpenuhi, di mana konsumen masih membutuhkan gula, tapi di pasar tidak ada, akhirnya yang mengisi gula rafinasi yang seharusnya tidak dijual ke pasaran konsumen," paparnya.

Sebelumnya, sekitar 300 petani tebu yang tergabung dalam Andalan Petani Tebu Rakyat Indonesia (Andalan) menggelar aksi unjuk rasa di depan Istana Merdeka. Para petani tersebut berasal dari sentra-sentra tebu di Jawa Tengah, Jawa Barat, Jawa Timur dan Yogyakarta.

Ketua Umum APTRI, Soemitro Samadikoen mengatakan, dalam aksi ini, para petani membawa empat tuntutan yang ingin disampaikan kepada Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Pertama, para petani meminta agar pemerintah menghentikan impor gula lantaran stok di dalam negeri sudah terlalu banyak. Soemitro menjelaskan, pada 2018 ini stok gula konsumsi mengalami surplus 2,4 juta ton.

Rinciannya, stok sisa di akhir 2017 sebesar 1 juta ton, rembesan gula rafinasi di 2018 sebesar 800 ribu ton. Kemudian produksi gula konsumsi di 2018 sebesar 2,1 juta ton, impor gula konsumsi tahun ini sebanyak 1,2 juta ton,

"Sehingga total stok 5,1 juta ton. Sedangkan kebutuhan gula konsumsi hanya 2,7 juta ton," ujar dia di Jakarta, Selasa (16/10). [idr]

Topik berita Terkait:
  1. Gula
  2. Swasembada Gula
  3. Jakarta
Komentar Pembaca

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini