Ancaman Iran Tutup Selat Hormuz Bikin Dunia Kalang Kabut hingga Seluruh Kementerian di Korea Selatan Berstatus Tanggap Darurat

Empat importir minyak Iran terbesar adalah India, Jepang, Korea Selatan, dan China.

Yunita Amalia
Oleh Yunita Amalia - Reporter
Ancaman Iran Tutup Selat Hormuz Bikin Dunia Kalang Kabut hingga Seluruh Kementerian di Korea Selatan Berstatus Tanggap Darurat
Ancaman Iran Tutup Selat Hormuz Bikin Dunia Kalang Kabut hingga Seluruh Kementerian di Korea Selatan Berstatus Tanggap Darurat (Merdeka.com)

Presiden Korea Selatan, Lee Jae Myung menginstruksikan kantor kepresidenan dan semua kementerian berada dalam sistem tanggap darurat, guna mengatasi meningkatnya ketegangan di Timur Tengah menyusul serangan Amerika Sserikat terhadap situs nuklir Iran.

Dilansir dari kantor berita Yonhap, dalam pertemuan pertamanya dengan para pembantu senior presiden sejak menjabat, Lee menyebut situasi Timur Tengah "sangat mendesak" dan meminta pihak berwenang untuk melakukan segala upaya guna memastikan keselamatan warga negara Korea Selatan di kawasan tersebut.

Ia juga mengarahkan kementerian untuk mempertimbangkan langkah-langkah tambahan untuk mengatasi krisis Timur Tengah dalam anggaran tambahan yang akan datang, jika diperlukan.

Pertemuan tersebut dihadiri oleh Kepala Staf Kepresidenan Kang Hoon-sik dan Penasihat Keamanan Nasional Wi Sung-lac, di antara para pembantu utama lainnya.

Ini menandai pertemuan pertama semacam ini sejak pelantikan Lee pada tanggal 4 Juni.

Selata Hormuz dan Dampaknya Bagi Korea Selatan

Ketegangan Iran dengan Israel dan Amerika Serikat semakin tinggi dan mengancam stabilitas perdagangan minyak. Iran berencana menutup Selat Hormuz, jalur pengiriman minyak paling vital di dunia.

Merujuk laporan Energy Information Administration (EIA), negara-negara yang paling bergantung pada impor minyak dari kawasan Teluk kemungkinan akan menjadi korban pertama. Empat importir minyak Iran terbesar adalah India, Jepang, Korea Selatan, dan China. Dalam ulasan di laporan EIA dijelaskan, empat negara tersebut bukan hanya akan menghadapi lonjakan harga energi, tetapi juga kenaikan biaya produksi, inflasi pangan, hingga potensi gangguan stabilitas ekonomi.

"Kami memperkirakan bahwa 83% minyak mentah dan kondensat yang melewati Selat Hormuz dikirim ke pasar Asia pada tahun 2023. Tiongkok, India, Jepang, dan Korea Selatan merupakan tujuan utama minyak mentah yang dikirim melalui Selat Hormuz ke Asia, dengan jumlah sebesar 69% dari seluruh aliran minyak mentah dan kondensat Hormuz pada tahun 2023," demikian penjelasan EIA yang dikutip pada Senin (23/6).

Penutupan Selat Hormuz bahkan membuat Amerika cukup terguncang. Dilansir dari The Strait Times, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio pada Minggu, 22 Juni meminta China untuk mendorong Iran agar tidak menutup Selat Hormuz setelah Washington melakukan serangan terhadap situs nuklir Iran.

Pernyataan Rubio dalam acara Sunday Morning Futures bersama Maria Bartiromo di Fox News muncul setelah Press TV Iran melaporkan bahwa Parlemen Iran menyetujui tindakan untuk menutup Selat Hormuz , yang dilalui sekitar 20 persen minyak dan gas global.

"Saya mendorong pemerintah Cina di Beijing untuk menghubungi mereka mengenai hal itu, karena mereka sangat bergantung pada Selat Hormuz untuk minyak mereka," kata Rubio, yang juga menjabat sebagai penasihat keamanan nasional.

Rekomendasi