2019, Pertumbuhan Ekonomi RI Diperkirakan Mentok di 5 Persen

Senin, 4 November 2019 16:52 Reporter : Yayu Agustini Rahayu
2019, Pertumbuhan Ekonomi RI Diperkirakan Mentok di 5 Persen pertumbuhan ekonomi. ©2019 Merdeka.com/Imam Buhori

Merdeka.com - Pertumbuhan ekonomi Indonesia di tahun ini diperkirakan hanya mentok di 5 persen, bahkan ada kemungkinan bisa di bawah 5 persen. Ini karena adanya risiko perlambatan ekonomi global yang tidak diperkirakan di awal tahun ini.

Kepala Kajian Makro LPEM UI, Febrio Kacaribu mengatakan, semula pihaknya memperkirakan pertumbuhan ekonomi masih di kisaran 5 sampai 5,2 persen. Namun, pihaknya melihat risiko perlambatan membuat pertumbuhan ekonomi Kuartal III 2019 hanya di 4,9 persen.

"Di 2019 kami melihat risiko perlambatan dibandingkan dengan yang kami expected di awal tahun. Di Awal tahun kami 5-5,2 persen. Kemungkinan besar data yg kita lihat sejauh ini memang menunjukkan ke arah 5,0 persen, itu sudah kita revisi kedua kalinya," kata dia, dalam acara Indonesia Economic Outlook 2020, di UI Salemba, Jakarta, Senin (4/11).

Trade war atau perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China yang tak kunjung mereda turut memperparah kondisi tersebut. Hal ini tidak hanya berdampak pada Indonesia tetapi juga pada perdagangan seluruh negara termasuk negara maju.

Dampak lainnya adalah melemahnya iklim investasi di Indonesia. Di mana ini juga bisa berlangsung hingga tahun depan. Investasi diharapkan bisa mencapai 6 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) namun hingga kini hanya menetap di 5 persen saja.

"Reformasi yang signifikan untuk meningkatkan iklim investasi dapat menolong aktivitas ekonomi pada tahun 2020," ucapnya.

Selain itu, kinerja sektor manufaktur Indonesia masih tetap rendah karena berkurangnya permintaan global dan masih terbatasnya peningkatan daya saing industri. Namun, ini juga terjadi pada negara maju seperti China, AS, Eropa dan Jepang.

PDB domestik dilaporkan tumbuh sebesar 5,05 persen (yoy) pada Q2 2019, sedangkan sektor manufaktur, sebagai sektor yang paling dominan, tumbuh sebesar 3,59 persen (yoy). Selain pengeluaran konsumsi domestik dan inflasi yang terkendali, data ekonomi makro tidak menunjukkan gambaran yang baik mengenai kondisi ekonomi Indonesia saat ini dan hingga akhir tahun 2019 nanti.

Kinerja ekspor yang relatif lemah karena ketergantungan yang berlebihan pada ekspor komoditas mentah, khususnya minyak kelapa sawit dan batu bara, serta masih lemahnya sektor manufaktur yang juga masih bergantung pada bahan baku dan barang modal dari luar negeri membuat defisit neraca perdagangan terus terjadi hingga Semester I-2019. [azz]

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini