Panglima Komando Gabungan Wilayah Pertahanan (Pangkogabwilhan) I Letjen Kunto Arief Wibowo ikut menginap di atas Kapal Perang Republik Indonesia (KRI) bersama prajuritnya yang bertugas di Pulau Nipa.
Bersama jajarannya, Kunto Arief mengamati aktivitas para prajuritnya selama bertugas di atas kapal.
Sang jenderal bintang tiga itu pun melihat secara langsung suka duka mereka selama berada di KRI termasuk masalah apa yang sering dijumpai.
Bagaimana ulasan selengkapnya? Melansir dari kanal YouTube halo biru, Senin (3/3) simak ulasan berikut ini.
Advertisement
Letjen Kunto di Perbatasan Indonesia-Singapura
Pulau Nipa diketahui merupakan pulau terluar Indonesia yang berada di perbatasan Indonesia dengan Singapura, dan merupakan wilayah dari pemerintah kota Batam, provinsi Kepulauan Riau.
Sebagai salah satu gerbang negara, pulau tersebut dijaga ketat oleh para prajurit yang utamanya adalah prajurit TNI AL.
Letjen Kunto pun ingin melihat langsung bagaimana para prajuritnya melaksanakan tugas dari atas KRI, termasuk kala malam hari.
Ia pun berkeliling kapal untuk melihat perlengkapan dan ruangan yang ada di dalam kapal tersebut.
Karena alasan tersebut, Kunto Arief memilih bermalam sementara waktu bersama para prajuritnya.
Advertisement
Keluh Kesah Prajurit TNI Jaga Perbatasan
Kelasi Dua (Kld) Amrizal dan Prajurit Satu (Pratu) Marinir Alvian menceritakan suka duka mereka selama bertugas di gerbang negara.
Meski berada satu jengkal dengan Singapura, tempat mereka bertugas justru jauh dari gemerlap negara seberang.
Menurut pengakuannya, listrik tidak ada di pulau tersebut sehingga hanya mengandalkan genset.
"Kita tuh di sini listrik masih menggunakan genset nah kadang kan mesin genset itu rusak kan mengalami problem kan karena Ya lumayan tua juga genset itu kan enggak bisa pakai lampu kan enggak bisa ngecas, api padam," kata Pratu Mar Alvian.
Selain masalah listrik, kedua tentara itu juga menjelaskan masalah air bersih yang sulit. Mereka hanya mengandalkan air hujan untuk kebutuhan sehari-hari termasuk air minum.
"Kalau air kita alhamdulillah ada penampungan kolam di sini..alhamdulillah ada itu air hujan ditampung buat mandi disaring lagi jadi buat mandi. Buat minum dimasak dulu," sambung keduanya.
Advertisement
Punya Cara Menghibur Diri
Para prajurit hidup dengan aksesibilitas yang terbatas. Sehingga mereka mengalami kesulitan dalam berkomunikasi dengan keluarga.
Alhasil, mereka biasanya menghibur diri dengan memancing, maupun memandang gemerlap lampu negara seberang dari atas kapal.
"Komunikasi itu di sini ya tergantung kadang tergantung cuaca juga sih...di sini apa ya gembira dibuat gembira di mana pun berada Kita Harus gembira," tandasnya.
Menurut informasi, keduanya tinggal di atas KRI. Mereka pun menjelaskan perbedaan KAL dengan KRI.
"Kalau kapal KRI itu perbedaannya di lencana perangnya..Kalau KAL itu enggak ada lencana perangnya karena kalau KAL kan tuh kapal perang gitu kan sebatas operasi sama ada bendera apa bendera ular-ularnya gitu di paling atas tuh yang gapel kalau di KAL..Senjata pasti punya cuman kan fasilitasnya lebih bagus yang kapal perangnya," ucap Kld Amrizal.