Arab Saudi dan Pakistan telah resmi menandatangani pakta pertahanan yang dikenal sebagai "Perjanjian Pertahanan Strategis Bersama" pada Rabu, 17 September 2025. Perjanjian ini ditandatangani oleh Putra Mahkota sekaligus Perdana Menteri Saudi, Mohammed bin Salman, dan Perdana Menteri Pakistan, Muhammad Shehbaz Sharif.
Kesepakatan ini menandai langkah signifikan dalam memperkuat kerja sama keamanan antara kedua negara di tengah ketegangan yang meningkat di kawasan Timur Tengah.
Isi perjanjian ini menegaskan bahwa setiap agresi terhadap salah satu pihak akan dianggap sebagai agresi terhadap keduanya. Hal ini menunjukkan komitmen kedua negara untuk saling melindungi dan memperdalam kerja sama pertahanan, serta berkontribusi pada perdamaian kawasan dan dunia.
Pakta ini muncul hanya dua hari setelah serangan Israel ke Doha, Qatar, yang menewaskan lima anggota Hamas dan seorang petugas keamanan Qatar.
Serangan Israel tersebut memicu kekhawatiran di negara-negara Teluk, dan pakta pertahanan ini dianggap sebagai langkah strategis untuk mengantisipasi potensi agresi lebih lanjut.
Seorang pejabat senior Saudi menyatakan bahwa kesepakatan ini bukanlah respons spontan terhadap serangan Israel, melainkan hasil dari pembahasan panjang bertahun-tahun. Benarkah demikian? Simak ulasan selengkapnya dilansir dari berbagai sumber.
Advertisement
Pakta Pertahanan Arab Saudi dan Pakistan
Perjanjian Pertahanan Strategis Bersama yang ditandatangani oleh Arab Saudi dan Pakistan bertujuan untuk memperkuat kerja sama militer antara kedua negara. Sejak 1967, hubungan militer antara Arab Saudi dan Pakistan telah terjalin erat, dengan lebih dari 8.200 personel angkatan bersenjata Saudi dilatih di Pakistan.
Latihan militer bersama juga rutin dilakukan untuk meningkatkan kemampuan pertahanan kedua negara. Pakta ini menegaskan bahwa setiap agresi terhadap salah satu negara akan dianggap sebagai agresi terhadap keduanya, yang menunjukkan komitmen untuk saling melindungi.
Hal ini menjadi penting di tengah meningkatnya ketegangan di Timur Tengah, terutama setelah serangan Israel ke Qatar yang mengejutkan banyak pihak.
Dengan adanya pakta ini, Arab Saudi dan Pakistan berharap dapat menciptakan stabilitas di kawasan yang sering kali dilanda konflik. Namun, kesepakatan ini juga menimbulkan kewaspadaan di negara-negara lain, termasuk India, yang baru saja terlibat konflik singkat dengan Pakistan pada Mei 2025.
Advertisement
Dampak terhadap Keseimbangan Kekuatan di Timur Tengah
Pakta pertahanan ini berpotensi mengubah peta geopolitik di Timur Tengah. Meskipun pejabat senior Saudi menegaskan bahwa kesepakatan ini bukanlah reaksi terhadap serangan Israel, timing penandatanganan yang berdekatan dengan peristiwa tersebut menimbulkan spekulasi.
Negara-negara Teluk lainnya mulai mempertanyakan keamanan mereka dan mencari cara untuk melindungi diri dari potensi serangan di masa depan.
Serangan Israel ke Qatar pada 9 September 2025, yang menargetkan gedung perumahan, telah menimbulkan kekhawatiran mendalam di kalangan negara-negara Teluk yang bergantung pada perlindungan Amerika Serikat.
Pengamat menilai bahwa dampak serangan ini akan meluas ke negara-negara lain di kawasan, yang juga merasa terancam oleh agresi Israel.
"Negara-negara Teluk pasti bertanya-tanya apa yang bisa mereka lakukan untuk mencegah serangan di masa depan, dan arsitektur keamanan macam apa yang harus mereka bangun selain bergantung pada mitra yang bahkan tak mampu melindungi mereka dari sekutunya sendiri," kata HA Hellyer, peneliti di Carnegie Endowment for International Peace.
Advertisement
Kemampuan Militer Arab Saudi dan Pakistan
Arab Saudi memiliki kekuatan militer yang signifikan, menempati peringkat ke-23 dari 145 negara dalam hal kekuatan militer menurut Global Firepower 2024. Anggaran militer tahunan Arab Saudi mencapai USD71,7 miliar pada tahun 2024, dengan jumlah personel aktif sekitar 257.000 dari total 407.000 tentara.
Peralatan militer modernnya meliputi 1.485 tank, 20.000 kendaraan lapis baja, dan 914 pesawat.
Sementara itu, Pakistan menempati peringkat ke-9 sebagai kekuatan militer terkuat di dunia dengan anggaran pertahanan USD6,34 miliar pada tahun 2024 dan sekitar 654.000 personel aktif.
Pakistan juga dikenal sebagai satu-satunya negara Islam yang memiliki senjata nuklir, dengan perkiraan 170 hulu ledak nuklir yang diprediksi akan meningkat menjadi sekitar 200 unit pada tahun 2025.
Ketika ditanya apakah perjanjian pertahanan ini akan menempatkan Arab Saudi di bawah "payung nuklir" Pakistan, seorang pejabat senior Saudi menjawab, "Ini adalah perjanjian pertahanan komprehensif yang mencakup semua sarana militer."
Hal ini menunjukkan bahwa meskipun Arab Saudi tidak memiliki senjata nuklir, mereka tetap berkomitmen untuk memperkuat pertahanan mereka melalui kerja sama dengan Pakistan.
Advertisement
Analisis Pakta Pertahanan untuk Mengantisipasi Serangan Israel
Pakta pertahanan antara Arab Saudi dan Pakistan ditandatangani di tengah meningkatnya kekhawatiran di Teluk atas agresi Israel. Serangan Israel terhadap Qatar pada 9 September 2025, yang menewaskan beberapa anggota Hamas, telah menimbulkan pertanyaan tentang sejauh mana perlindungan yang dapat diberikan oleh AS kepada negara-negara sekutunya.
Serangan tersebut tidak hanya mengguncang Qatar, tetapi juga menyoroti keterlibatan Amerika Serikat di kawasan Teluk.
"Serangan Israel ke jantung ibu kota Qatar memunculkan pertanyaan mendasar tentang sejauh mana perlindungan AS itu nyata," kata Ted Singer, mantan kepala operasi Timur Tengah untuk Badan Intelijen Pusat AS.
Usulan pembentukan aliansi pertahanan ala NATO di Timur Tengah juga muncul sebagai respons terhadap situasi ini, dengan negara-negara seperti Iran dan Mesir mendorong kerjasama lebih erat di antara negara-negara Muslim.
Hal ini menunjukkan bahwa ketegangan di kawasan semakin meningkat dan negara-negara mulai mencari alternatif untuk perlindungan keamanan mereka.
Advertisement
Analisis Pengamat dan Implikasi Ke Depan
Pengamat menilai bahwa dampak serangan Israel terhadap Doha akan meluas ke negara-negara Teluk lainnya. Mereka mengkhawatirkan bahwa serangan seperti ini dapat terjadi lagi di masa depan dan negara-negara tersebut harus memikirkan strategi pertahanan yang lebih baik.
"Negara-negara itu pasti bertanya-tanya apa yang bisa mereka lakukan untuk mencegah serangan di masa depan," kata HA Hellyer.
Selain itu, laporan media mengungkap bahwa Presiden AS Donald Trump diberi tahu mengenai rencana serangan Israel ke Doha, tetapi tidak mengambil tindakan untuk mencegahnya. Hal ini menimbulkan keraguan tentang komitmen AS dalam melindungi sekutunya di kawasan tersebut.
Dengan adanya pakta pertahanan ini, Arab Saudi dan Pakistan berusaha untuk menciptakan stabilitas di kawasan yang sering kali dilanda konflik. Namun, tantangan besar tetap ada, dan bagaimana negara-negara di Timur Tengah merespons terhadap ancaman yang terus berkembang akan menjadi kunci dalam menjaga keamanan dan stabilitas di kawasan.