Letjen Kunto Arief Wibowo bersama rombongan datang berkunjung ke Batalyon Infanteri 10/Satria Bhumi Yudha atau yang disingkat dengan Yonif 10/Cheetah Malaka, di Batam. Yonif 10/Mar adalah satuan pelaksana yang berada di bawah langsung Komando Brigif 4/Marinir, di Setoko, Batam, Kepulauan Riau.
Di sana, Letjen Kunto disambut oleh prajurit dengan meriah. Letjen Kunto juga sekaligus bernostalgia, bertemu dengan kawan lamanya yang saat ini bertugas di Yonif 10/Cheetah Malaka.
Di sana, Letjen Kunto memberikan pesan yang mendalam kepada prajurit dan komandan yang bertugas. Pesan penting tersebut adalah agar para komandan selalu memperhatikan kesehatan dan kesejahteraan prajurit.
Advertisement
Letjen Kunto Arief Wibowo Kunjungan ke Yonif 10
Momen itu diunggah dalam sebuah video di channel halo biru. Dalam video tersebut terlihat sambutan yang sangat meriah dari anggota Yonif 10/Cheetah Malaka, yang telah menunggu kedatangan Letjen Kunto.
Di sana, Letjen Kunto diberikan kesempatan untuk memberikan sambutan di depan anggota. Ia pun memberikan arahan yang sangat mendalam kepada prajurit TNI, sekaligus cerita tentang pengalaman saat bertugas.
Ia bercerita bagaimana saat dirinya menangani masyarakat Aceh yang terafiliasi dengan GAM, dengan menggunakan pendekatan kekeluargaan.
“Kita aja di sana ngebina anak. Anaknya kita urus bapaknya nurut itu. Turun, menyerahkan senjata, segala macam,” ucap Letjen Kunto.
Oleh karena itu, putra eks Wapres Try Sutrisno itu memberikan arahan kepada prajurit agar menggunakan pendekatan yang sama. Ia meminta agar para komandan memperhatikan kesehatan keluarga anggota.
“Jadi di sini kalian yang di kuorum ini harus punya target. Orang kesehatan itu itu suruh keliling setiap jam ganjil, datangi rumahnya anggota. Jadi membantu fungsi komando kesehatan,” tuturnya.
Advertisement
Membantu Keluarga Prajurit
Memberikan perhatian kepada prajurit dan keluarganya akan sangat membantu mereka dalam mendapatkan kesejahteraan. Menurut Kunto, jika prajurit tidak didatangi rumahnya, maka ia akan kesulitan untuk berobat dan mendapatkan obat yang layak.
“Kalau nunggu sakit dulu harus berobat keluar. Obat nggak ada, duit nggak punya. Tapi karena didatangi itu membantu, perhatiannya komandan,” jelas Kunto.
Di sana, Letjen Kunto juga secara langsung memerintahkan seorang dokter agar terus memeriksa anggota. Meski hanya sekadar dilakukan tensi. Dengan begitu, anggota tidak akan berobat ke luar dan menggunakan fasilitas kesehatan dengan baik.
“Kadang ditensi, kadang beli obat segala macam. Kasih itu obat jangan banyak-banyak di stok di gudang. Obat itu untuk habis. Kalau nggak kalian pasti berobatnya di luar. Nggak ada yang mau ke KSA, nggak ada yang mau ke polkes segala macam,” terangnya.
Di akhir pidatonya, Kunto memanggil salah seorang prajurit yang ternyata adalah seorang kawan lama Letjen Kunto. Ia adalah Kopka Mari Safrizal, sahabat Letjen Kunto yang pernah sama-sama bertugas di Aceh.