Hari Ulang Tahun Republik Indonesia ke-77 (HUT RI) tinggal hitungan hari. Ide lomba 17 Agustus pun tengah ramai dipersiapkan di berbagai daerah. Bahkan hiasan dengan nuansa merah-putih pun telah banyak terpasang dan berkibar di tiap sudut kota.
Dalam peringatan kemerdekaan ini, gelaran lomba di setiap kampung merupakan salah satu kegiatan yang paling dinanti. Semua orang dapat terlibat merasakan keseruan dan bersuka cita dengan perlombaan di tempat mereka masing-masing.
Pernahkah terbesit latar belakang lahirnya perlombaan 17 Agustusan ini? Siapa sangka di balik kemeriahan lomba 17 Agustus, rupanya menyimpan sejumlah cerita. Baik dari segi sejarah, makna di balik perlombaan tradisional, hingga kisah miris sekaligus tragis.
Memang tak semua perlombaan mempunyai sejarah. Hal ini dikarenakan sejumlah perlombaan termasuk hasil kreasi anak bangsa. Sebagian lomba 17 Agustus yang lain tercipta karena mengikuti perkembangan zaman.
Simak selengkapnya, beberapa cerita pendek 17 Agustus di balik perlombaan tradisional selama ini, seperti dihimpun dari Liputan6.com, Rabu (10/8).
Advertisement
Lomba 17 Agustus yang kerap ada dan hampir tak pernah absen adalah lomba makan kerupuk. Dikutip dari Good News from Indonesia, kerupuk telah ada sejak abad ke-9 yang tertulis di Batu Pura.
Sejak zaman kolonial hingga saat ini, kerupuk jadi salah satu makanan favorit banyak orang. Begitu pun saat kemerdekaan Indonesia.
Makanan ringan yang terbuat dari tepung ini telah jadi makanan pendamping yang digemari. Lomba makan kerupuk menjadi salah satu lomba favorit saat Agustusan.
Lomba makan kerupuk yang digantung di atas seutas tali ini menggambarkan bentuk perjuangan, serta sikap yang tak pernah menyerah.
Advertisement
Lomba tradisional di momen 17 Agustus selanjutnya adalah lomba balap karung. Anda cukup memasukkan kedua kaki di dalam karung goni, lalu beradu cepat dengan pemain lainnya.
Lomba ini membutuhkan kecepatan dan keseimbangan yang paling populer. Buat Anda yang lahir di era 90-an pasti pernah mengikuti perlombaan ini.
Asal usul mengenai lomba balap karung ini tak begitu banyak ditulis. Tapi beberapa sumber tertulis, lomba balap karung digelar sebagai peringatan atas Indonesia yang dijajah Jepang. Rakyat Indonesia menjalani kerja paksa atau Romusha.
Ketika penjajahan Jepang merajalela, sebagian besar masyarakat Indonesia mengenakan pakaian dari karung goni. Meski banyak kutu dan kurang bersih, tapi ini kondisi miris tanah air di masa kelam itu.
Advertisement
Lomba 17 Agustus yang tradisional dan masih terjaga hingga saat ini adalah pertandingan panjat pinang. Lomba ini termasuk paling seru dan tak terlewatkan saat memperingati HUT RI.
Kelompok yang berhasil mencapai puncaknya, akan mendapatkan berbagai hadiah menarik bagi para peserta.
Sebelum dipanjat oleh para peserta, pohon pinang dibalut dengan oli terlebih dahulu. Cerita pendek di balik lomba panjat pinang ini disebutkan bahwa perjuangan bangsa Indonesia melawan penjajahan sangat panjang, demi bisa meraih kemerdekaan.
Advertisement
Perlombaan 17 Agustus terfavorit lainnya adalah tarik tambang. Perlombaan ini biasa diikuti anak-anak hingga orang dewasa. Lomba ini memiliki taktik permainan, mulai dari penempatan peserta, kekuatan tarikan, serta teknik tumpuan pada tanah.
Dalam permainan tarik tambang antar-lawan, biasanya sama jenis kelamin. Saat para pemainnya perempuan, maka lawannya juga perempuan. Untuk memperoleh kemenangan, tim harus menahan dan menarik tali melewati garis batas.
Bila tali tersebut tertarik dan kelompok lawan melewati batas, maka kelompok Anda dinyatakan menang. Lomba tarik tambang ini diketahui telah ada sejak zaman penjajahan Belanda.
Lomba yang melibatkan dua kelompok ini berusaha menggambarkan bahwa dengan bersatu, maka akan bisa mengalahkan lawan.
Tepatnya saat para pribumi menjalankan kerja paksa. Mereka menggunakan tali tambang untuk menarik suatu benda, seperti batu, pasir atau benda-benda berat lainnya.
Saking kurangnya hiburan di masa penjajahan kala itu, para pekerja yang tengah menarik tali tambang pun dijadikan guyonan oleh para menir Belanda. Pasca merdeka, tarik tambang justru dijadikan salah satu perlombaan yang awet sampai sekarang.
Itulah beberapa cerita pendek 17 Agustus di balik setiap perlombaan tradisional. Sebagian mengandung makna mendalam terkait perjuangan para pahlwana. Sementara yang lain mengandung kisah miris kondisi tanah air di masa penjajahan.