Perjuangan Sabyan Sebelum Sukses, Jadi Marbot Masjid yang Penting Bisa Makan

Di balik kesuksesannya, ternyata ada beberapa kisah perjuangan dari masing-masing personel Sabyan

Khulafa Pinta Winastya
Oleh Khulafa Pinta Winastya - Reporter
Perjuangan Sabyan Sebelum Sukses, Jadi Marbot Masjid yang Penting Bisa Makan
Sabyan Gambus/ISTIMEWA. ©2019 Merdeka.com

Nama grup musik beraliran Gambus yakni Sabyan pernah sangat mencuri perhatian masyarakat Indonesia pada 2018 lalu. Lewat cover lagu 'Deen Assalam' dan 'Ya Maulana' nama Sabyan pernah sangat populer pada saat itu.

Grup musik yang dibentuk pada tahun 2015 ini, memang kerap menyanyikan lagu-lagu yang bersyair shalawat. Kini, Sabyan seolah memiliki tempat tersendiri di industri musik Tanah Air.

Dibalik kesuksesannya, ternyata ada beberapa kisah perjuangan dari masing-masing personelnya. Hal tersebut terungkap dalam sebuah video yang diunggah di kanal Youtube TRANS7 OFFICIAL. Berikut informasi selengkapnya:

Diundang ke Acara Talkshow

Dalam video berjudul '[FULL] Kisah Perjuangan Sabyan dan Syakir Daulay Meniti Karir | SIYAP BOS (01/05/20)' terlihat ke-tiga personel Sabyan diundang ke sebuah acara talkshow yang dipandu oleh Raffi Ahmad.

Mereka pun terlihat menceritakan bagaimana awal mula perjuangan masing-masing personel sebelum meraih kesuksesan seperti sekarang ini.

Band Wedding


Dalam acara tersebut, Ahmad Fairuz alias Ayus (keyboard) mengatakan sebelum mereka menentukan aliran musik Gambus pada grup musik ini, sebelumnya mereka merupakan band yang biasa tampil di acara wedding. Sebagai band wedding, Ayus mengatakan jika mereka dituntut harus bisa membawakan semua genre lagu sesuai permintaan. Namun, seiring berjalannnya waktu akhirnya mereka menemukan dan memutuskan menjadikan Gambus sebagai genre utama dari Sabyan. "Sebelum kita seperti sekarang ini kita kan band wedding, kan kalau wedding kita bawain lagu apa saja ya," ungkap Ayus

Susah Waktu Masih Berkarier Sendiri

Lebih lanjut, Ayus mengatakan jika kisah perjuangan mereka sebenarnya lebih ketika masing-masing personil masih berkarier sendiri dan belum dipertemukan dalam satu grup. "Kalau masa sulitnya sama sabyan alhamdulillah engga terlalu lama, cuma waktu kita belum di Sabyan misal Kamal dimana ayus dimana nissa dimana nah itu dia masa sulitnya," kata Ayus

Ayus Pernah Dibayar Rp30 Ribu

Ayus pun menceritakan jika awal mula saat dia menjadi musisi wedding, ia pernah hanya dibayar Rp30 Ribu untuk seharian. "Kalau dulu-dulu banget Rp30 ribu, dan satu hari mainnya misal dari dzuhur sampai jam 9 malam," ungkap Ayus.

Cerita Kamal Sebelum Gabung Bersama Sabyan


Berbeda dengan Ayus, Kamar (Perkusi) mengatakan jika sebelum bergabung dengan Sabyan ia pernah mencoba beberapa pekerjaan untuk bisa bertahan hidup. "Jaga warnet dulu pernah, jadi marbot musala pernah yang penting bisa makan aja, jadi SPG sepatu juga pernah," kata Kamal.

Sebelum Nissa Bergabung


Sang vokalis sendiri yang biasa kita kenal dengan Nissa Sabyan, merupakan personel termuda di grup musik ini. Ia menceritakan semasa sekolah, dirinya kerap menerima pekerjaan freelance sebagai penyanyi di berbagai acara. "Pernah nyanyi dangdut sebelum gambus dulu, kalau enggak ada nyanyi ya paling sekolah biasa," kata Nissa. 

Awal Mula Ketemu


Nissa pun mengatakan jika awal mula mereka dipertemukan yakni dalam satu panggung ketika mengisi sebuah acara. Dari situlah mulai terjalin komunikasi baik sampai akhirnya terbentuk grup musik Sabyan. "Kan freelance jadi nyanyi-nya dimana saja, terus kita ketemu lah di satu panggung terus akhirnya mereka ngajak gitu buat grup," kata Nissa.

Rekomendasi