Armada Militer AS Mulai Dikerahkan ke Timur Tengah, Israel dan Negara Arab Minta Trump Tunda Serang Iran

Pejabat tinggi di AS menyatakan bahwa Trump belum sepenuhnya menutup kemungkinan untuk mempertimbangkan opsi militer yang disarankan oleh para komandannya.

Teddy Tri Setio Berty
Oleh Teddy Tri Setio Berty - Reporter
Armada Militer AS Mulai Dikerahkan ke Timur Tengah, Israel dan Negara Arab Minta Trump Tunda Serang Iran
Kapal Induk USS Harry S Truman (X @@MarioNawfal)

Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, telah meminta Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, untuk menunda rencana serangan militer terhadap Iran. Permintaan ini muncul di tengah gelombang protes nasional yang terus berlangsung di Iran.

Menurut seorang pejabat senior AS, permohonan tersebut disampaikan dalam sebuah percakapan telepon antara Netanyahu dan Trump pada hari Kamis, 15 Januari 2026. Pada hari yang sama, Trump mengungkapkan bahwa ia menerima informasi dari "sumber yang sangat penting di pihak lain" yang menyatakan bahwa otoritas Iran telah menghentikan pembunuhan terhadap para demonstran dan tidak melanjutkan rencana eksekusi.

Pernyataan ini dianggap sebagai tanda bahwa Trump mulai menjauh dari opsi serangan militer yang sebelumnya dipertimbangkan selama beberapa hari terakhir, seperti yang dikutip dari NY Times pada 16 Januari.

Namun, meskipun ada perkembangan tersebut, seorang pejabat senior AS menegaskan bahwa Trump belum sepenuhnya mengesampingkan opsi militer yang diusulkan oleh para komandannya. Keputusan akhir mengenai langkah selanjutnya masih bergantung pada tindakan yang diambil oleh aparat keamanan Iran dalam menanggapi protes massal yang terjadi.

Sejumlah mitra Amerika Serikat di kawasan juga telah melobi Washington agar tidak melancarkan serangan. Negara-negara seperti Qatar, Arab Saudi, Oman, dan Mesir telah menyampaikan pesan yang sama kepada pemerintahan Trump dalam dua hari terakhir, memperingatkan bahwa serangan AS terhadap Iran dapat memicu konflik regional yang lebih luas. \

Pada saat yang sama, negara-negara Arab tersebut juga mengirimkan pesan kepada Teheran agar tidak menyerang negara-negara di kawasan jika AS memutuskan untuk menyerang Iran.

Menurut pejabat tersebut, keempat negara Arab telah mengoordinasikan pesan diplomatik mereka kepada Washington dan Teheran. Dua diplomat regional juga mengonfirmasi bahwa sejumlah negara Arab secara aktif mendesak AS untuk menahan diri.

"Kami percaya pada dialog dan penyelesaian setiap perbedaan di meja perundingan," ujar Menteri Negara Arab Saudi, Adel al-Jubeir, dalam sebuah forum mineral di Riyadh.

Selain berbicara dengan Trump, Netanyahu juga melakukan percakapan dengan Wakil Presiden AS, JD Vance, pada hari Selasa, yang bertepatan dengan pertemuan para pembantu utama Trump di Gedung Putih untuk meninjau opsi militer terhadap Iran, menurut keterangan seorang pejabat AS.

Sekretaris pers Gedung Putih, Karoline Leavitt, mengonfirmasi bahwa Trump telah berbicara dengan Netanyahu, tetapi menolak untuk mengungkapkan rincian dari pembicaraan tersebut. Sementara itu, kantor perdana menteri Israel tidak memberikan komentar terkait hal ini.

Leavitt juga menegaskan bahwa AS menerima laporan bahwa Iran menunda eksekusi yang direncanakan, dan Washington telah memperingatkan Teheran akan adanya "konsekuensi serius" jika pembunuhan terhadap demonstran terus berlanjut.

Iran Peringatkan Serangan ke Fasilitas Energi Arab Saudi, UEA dan Qatar
Pejalan kaki melewati lukisan mural yang menggambarkan pendiri Republik Islam Iran Ayatollah Ruhollah Khomeini dan bendera nasional di sepanjang dinding bekas Kedutaan Amerika Serikat (AS) di © 2026 Liputan6.com

Dua pejabat Israel mengungkapkan bahwa otoritas pertahanan menilai telah terjadi penurunan dalam jumlah demonstran yang dibunuh di Iran. Penurunan ini dianggap terkait dengan tindakan keras yang dilakukan pemerintah, termasuk pemutusan akses internet secara luas, yang berakibat pada mengecilnya skala protes sejak hari Minggu.

Protes anti-pemerintah yang berlangsung sejak akhir Desember lalu dipandang sebagai salah satu yang terbesar dalam beberapa dekade terakhir. Iran bahkan sempat menutup wilayah udaranya untuk penerbangan komersial pada Rabu malam, sebelum akhirnya membuka kembali akses tersebut.

Sementara itu, meski Trump menyiratkan kemungkinan penundaan aksi militer, Pentagon memanfaatkan waktu tersebut untuk memperkuat kehadiran militer AS di kawasan. Kapal induk USS Abraham Lincoln beserta sejumlah kapal pengawalnya sedang dalam perjalanan dari Laut China Selatan menuju Timur Tengah, dengan perkiraan waktu perjalanan sekitar satu pekan.

Selain itu, AS juga mempersiapkan pengerahan tambahan pesawat tempur, termasuk jet tempur, pesawat serang, dan pesawat pengisi bahan bakar, sebagian besar berasal dari Eropa. Beberapa pesawat dijadwalkan untuk menggantikan unit yang sudah ada di Timur Tengah, dengan kemungkinan perpanjangan masa tugas yang bergantung pada perkembangan situasi.

Pentagon juga mengirimkan tambahan sistem pertahanan udara, termasuk rudal pencegat, untuk melindungi pangkalan-pangkalan AS di kawasan, khususnya Pangkalan Udara Al Udeid yang terletak di Qatar. Langkah ini diambil sebagai antisipasi terhadap potensi serangan balasan dari Iran jika AS melaksanakan operasi militer.

Para pejabat AS menyatakan bahwa penguatan militer ini bertujuan untuk menekan Iran agar tidak meningkatkan kekerasan terhadap demonstran, sekaligus memberikan lebih banyak opsi strategis bagi Trump. Washington juga bersiap menghadapi kemungkinan serangan dari Iran terhadap aset militer AS di kawasan, termasuk pangkalan di Qatar serta pasukan yang berada di Irak dan Suriah. Israel juga dinilai berpotensi menjadi sasaran serangan tersebut.

Selama konflik yang berlangsung selama 12 hari antara Iran dan Israel pada bulan Juni lalu, yang juga melibatkan Amerika Serikat, Teheran telah meluncurkan sejumlah rudal balistik ke wilayah Israel. Tindakan ini menunjukkan kompleksitas situasi yang dihadapi oleh semua pihak yang terlibat, serta potensi peningkatan ketegangan yang dapat terjadi di masa depan.

Rekomendasi