Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Apatis adalah Sikap Tak Acuh Terhadap Lingkungan Sekitar, Ketahui Bahayanya

Apatis adalah Sikap Tak Acuh Terhadap Lingkungan Sekitar, Ketahui Bahayanya Ilustrasi cuek. ©2014 Merdeka.com/shutterstock.com/PathDoc

Merdeka.com - Apatis adalah sikap tak acuh atau tak peduli atas apa yang terjadi di lingkungan sekitar. Mungkin, Anda sering menemukan beberapa orang di sekitar yang memiliki sikap tersebut. Lalu, apakah apatis adalah sebuah gangguan mental?

Seseorang yang memiliki sikap apatis cenderung tidak peduli, tidak tertarik, dan tidak memiliki antusias terhadap apapun. Bahkan, mereka tidak tertarik terhadap berbagai hal yang pada umumnya dapat menarik perhatian banyak orang.

Sikap ini sering dikaitkan dengan beberapa masalah kesehatan seperti demensia, skizofrenia, hingga penyakit parkinson. Penyebabnya, sikap apatis dapat menurunkan kualitas hidup seseorang secara signifikan. Simak ulasan selengkapnya dilansir dari laman Alodokter dan berbagai sumber, Senin (3/1/2022):

Sikap Apatis

Menurut News Medical Life Science, seseorang dapat dikatakan apatis jika mereka menunjukkan kurangnya perasaan minat dan perhatian khusus tentang situasi tertentu, atau kehidupan secara umum.

Dalam dunia psikologi, sikap apatis terbagi menjadi dua tipe. Yang pertama ialah sikap saat seseorang melihat tindak kejahatan namun tidak melakukan apapun untuk membantu korban. Sikap itu disebut dengan bystander apathy.

Kedua, apabila seseorang tidak memiliki ketertarikan untuk melakukan aktivitas sosial, seperti berinteraksi dengan orang lain, kondisi itu disebut sebagai social apathy.

Tanda-Tanda Apatis

Sebenarnya sikap apatis sendiri sering kali dianggap sebagai suatu sindrom atau suatu kumpulan gejala. Kondisi ini ditandai dengan beberapa tanda-tanda seperti: 1. Kurang semangat atau kurang bertenaga untuk melakukan apa pun2. Tidak termotivasi untuk menggapai suatu tujuan3. Kesulitan atau tidak tertarik untuk melanjutkan tugas yang harusnya diselesaikan4. Tidak tertarik lagi dengan hal-hal yang tadinya disukai5. Bergantung pada orang lain dalam merencanakan sesuatu6. Tidak memiliki keinginan untuk mempelajari hal-hal baru dan tak acuh dengan orang baru di sekitarnya7. Tidak tertarik dengan pengalaman baru8. Tidak merasakan emosi apa pun saat hal baik atau hal buruk terjadi9. Tidak peduli dengan masalah yang sedang menimpa diri sendiri10. Kurang tertarik dengan berita, acara sosial, dan pemikiran yang mendalam    11. Tidak dapat berkomitmen dalam segala hal

Penyebab Sikap Apatis

Biasanya, seseorang dapat menjadi apatis juga ada sebab yang dapat memengaruhinya. Secara umum, apatis juga bisa terjadi akibat gejala dari beberapa gangguan kejiwaan dan neurologis yang meliputi:

  • Penyakit Alzheimer
  • Gangguan depresi persisten (alias dysthymia, sejenis depresi ringan kronis)
  • Demensia frontotemporal
  • Penyakit Huntington
  • Penyakit Parkinson
  • Kelumpuhan supranuklear progresif
  • Skizofrenia
  • Stroke
  • Demensia vascular
  • Namun, seseorang juga bisa mengalami sikap apatis tanpa kondisi medis yang mendasarinya. Sikap apatis bisa terbentuk karena pengaruh dari pengalaman hidup yang pernah dialami, di antaranya:  - Tidak percaya lagi pada orang lain, hal tersebut terjadi disebabkan seseorang itu terlalu sering dikecewakan serta merasa dikhianati oleh orang yang disayangi atau juga orang yang dipercaya.- Tekanan emosional, hal tersebut dapat disebabkan disebabkan seseorang menerima perilaku yang tidak menyenangkan dari orang lain, misalnya dirundung terus menerus.- Kekurangan fisik, tidak jarang seseorang menjadi apatis disebabkan kehilangan rasa percaya diri. Misalnya kekurangan fisiknya menjadi cibiran orang lain di lingkungan hidupnya serta membuatnya kehilangan rasa percaya diri.- Kurang kasih sayang, orang yang kurang kasih sayang biasanya dapat atau bisa menyebabkan seseorang menjadi apatis.Meski sering dikaitkan dengan gangguan mental, apatis tidak sama dengan depresi. Namun, apatis termasuk bagian dari gangguan depresi atau terkait dengan penurunan kognitif. Mengutip laman Parkinson’s Foundation, depresi biasanya menimbulkan perasaan tidak berharga atau bersalah.

    Sementara orang dengan sikap apatis tidak akan merasakan suasana hati atau memiliki kondisi emosional yang datar. Jika tak segera diatasi, sikap apatis dapat menurunkan kualitas hidup seseorang secara signifikan.

    Cara Mengatasi Sikap Apatis

    Awalnya, pemilik sikap apatis mungkin tidak akan merasa dirinya bermasalah. Namun, orang-orang di sekitarnya biasanya akan terdampak oleh sikap ini. Beberapa perawatan yang direkomendasikan untuk membantu mengatasi apatis adalah:Obat-obatanJika sikap apatis yang diderita muncul karena penyakit tertentu, dokter akan meresepkan obat sesuai dengan penyakit yang diderita. PsikoterapiJika apatis dipicu oleh depresi atau gangguan kecemasan, dokter mungkin akan merekomendasikan psikoterapi. Salah satu jenis psikoterapi yang sering digunakan adalah terapi perilaku kognitif. Terapi ini dilakukan dengan tujuan untuk mengubah pola pikir dan perilaku negatif menjadi positif.Perubahan gaya hidupPenderita apatis disarankan untuk bersosialisasi kembali dengan orang-orang terdekat, meski keinginan untuk bersosialisasi tersebut tidak ada.Selain itu, melakukan kembali hal-hal yang dulu disukai juga bisa membantu. Menjalani berbagai macam aktivitas yang menyenangkan dapat membangkitkan kembali semangat yang hilang.Tanda-tanda apatis tidak boleh diabaikan, karena sikap ini bisa mengurangi kualitas hidup seseorang. Jika menemui kerabat dekat Anda dengan kondisi tersebut, cobalah untuk ajak bicara dan bujuk agar mau menerima bantuan dokter.

    (mdk/khu)
    Geser ke atas Berita Selanjutnya

    Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
    lihat isinya

    Buka FYP