Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

9 Jenis Puasa yang Dimakruhkan Menurut Islam Lengkap dengan Penjelasannya

9 Jenis Puasa yang Dimakruhkan Menurut Islam Lengkap dengan Penjelasannya Ilustrasi puasa di belahan dunia lain. © masjidkingkhalid.org

Merdeka.com - Berpuasa menjadi sebuah kewajiban bagi semua umat Islam saat Ramadhan tiba. Meski begitu ada beberapa jenis puasa wajib lain seperti puasa nazar.

Selain puasa wajib, ada pula puasa sunah seperti puasa Senin-Kamis, Syawal, dawud, mutlak, dan lain sebagainya. Keutamaan dan pahala berpuasa akan membuat kita mendapat pahala yang tak terhingga.

Meski puasa bersifat mulia, beberapa jenis puasa ternyata dinilai makruh bahkan haram. Beberapa puasa yang makruh akibat waktu pelaksanaan maupun kondisi seseorang yang melaksanakannya.

Ustadz M Tatam dikutip dari laman NU Online mengatakan bahwa puasa yang awalnya wajib akan menjadi makruh bila dilakukan orang yang akan membahayakan bagi dirinya.

"Dengan melihat kondisi orang yang melakukannya, puasa yang asalnya wajib pun bisa berubah menjadi makruh, seperti halnya puasa Ramadhan dilakukan oleh orang yang sedang sakit atau perempuan hamil, di mana sekiranya tetap ditunaikan akan mendatangkan bahaya tertentu bagi keduanya," tulisnya, dikutip dari laman NU Online.

Lalu apa saja jenis puasa makruh yang perlu diketahui? Dilansir Merdeka.com dari Liputan6.com dan islam.nu.or.id, Senin (17/4) berikut selengkapnya.

9 Jenis Puasa yang Makruh

Lebih lanjut, terdapat 9 jenis puasa makruh yang memang ditegaskan oleh Syekh Abu Al-Hasan bin Al-Muhamili dalam Kitab Al-Lubab menjelaskan ada 10 puasa makruh:

“Adapun puasa yang dimakruhkan ada sepuluh, yaitu (1) puasa orang sakit, (2) puasa orang yang sedang bepergian jauh, (3) puasa perempuan hamil, (4) puasa perempuan yang sedang menyusui, (5) puasa orang yang sudah sangat renta dan khawatir ada bahaya yang cukup berat, (6) puasa pada hari syakk atau diragukan dan puasa pada separuh terakhir bulan Sya’ban kecuali bagi orang yang berpuasa dalam semua bulan tersebut atau sudah terbiasa puasa sebelumnya, (7) puasa pada hari Arafah bagi orang yang menunaikan ibadah haji, (8) puasa sunah bagi orang yang masih memiliki kewajiban qadha puasa Ramadhan, (9) puasa hari Jumat secara terpisah.” (Abu Al-Hasan bin Al-Muhamili, al-Lubab fil Fiqhi asy-Syafi’i, [Madinah: Darul Bukhari], 1416 H, jilid 1, halaman 190).

Menurut penjelasan dari Syekh Abu Al-Hasan bin Al-Muhamili di atas, setidaknya ada 10 jenis puasa makruh yang dilakukan, yaitu:

1. puasa orang sakit,

2. puasa orang yang sedang bepergian jauh,

3. puasa perempuan hamil,

4. puasa perempuan yang sedang menyusui,

5. puasa orang yang sudah sangat renta dan khawatir ada bahaya yang cukup berat,

6. puasa pada hari syakk atau diragukan dan puasa pada separuh terakhir bulan Sya’ban kecuali bagi orang yang berpuasa dalam semua bulan tersebut atau sudah terbiasa puasa sebelumnya,

7. puasa pada hari Arafah bagi orang yang menunaikan ibadah haji,

8. puasa sunah bagi orang yang masih memiliki kewajiban qadha puasa Ramadhan,

9. puasa hari Jumat secara terpisah

Penjelasan Puasa Makruh

Penyebab makruh puasa adalah karena berasal dari orang yang melakukannya seperti waktu pelaksanaanya. Dari penjelasan di atas, puasa orang sakit, orang yang bepergian, puasa perempuan hamil dan menyusui, serta puasa orang yang sudah renta, baik hukum asal puasanya wajib seperti puasa Ramadhan maupun puasa sunat, dimakruhkan karena kondisi orang yang melakukannya.

Puasa mereka yang tetap dilakukan akan mendatangkan bahaya tertentu karena akan memperberat kondisi. Jika kondisi itu tidak terjadi, maka puasa tetap pada hukum asalnya.

Selain itu, puasa pada hari syakk atau satu atau dua hari sebelum Ramadhan dan puasa pada separuh kedua bulan Sya’ban dimakruhkan, terutama kalangan ulama Syafi’i, berdasarkan sabda Rasulullah SAW.

لا يتقدَّمنَّ أحدُكم رمضانَ بصوم يوم أو يومين إلا أن يكون رجل كان يصوم صومَه، فليصم ذلك اليوم

Artinya, “Janganlah salah seorang kalian mendahului Ramadhan dengan satu atau dua hari kecuali seseorang yang biasa menunaikan puasanya. Maka berpuasalah pada hari itu,” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Demikian pula halnya mengkhususkan puasa hanya hari Jumat, berdasarkan sabda Rasulullah saw. “Janganlah kalian mengkhususkan ibadah malam hanya malam Jumat atau berpuasa hanya hari Jumat, kecuali puasa yang biasa kalian jalankan.”

Puasa Makruh Sabtu-Minggu & Lainnya

Puasa makruh lain yang perlu diperhatikan adalah puasa pada hari Sabtu atau Minggu karena merupakan hari yang diagungkan oleh umat Nasrani dan Yahudi.

Ketika umat Muslim akan berpuasa pada hari Jumat, Sabtu, atau Minggu, maka harus diikuti dengan sehari sebelum atau setelahnya agar tidak menyerupai kebiasaan umat lain. Begitu pun puasa Asyura yang disunahkan Rasulullah kepada umatnya, yakni puasa sunat tanggal 10 Muharram.

Hal tersebut dilakukan sehari sebelum atau setelahnya supaya tidak sama persis dengan puasa Asyura umat Yahudi.

Berikutnya adalah puasa sunat, sementara masih ada qadha puasa wajib. Sebaiknya, tunaikan terlebih dahulu puasa wajib, baru menunaikan puasa sunat.

Puasa makruh di kalangan Syafi'i adalah puasa wishal baik puasa wajib atau sunat. Artinya puasa satu hari bersambung dengan puasa hari setelahnya, bahkan terus bersambung dengan puasa hari selanjutnya tanpa berbuka.

Meski begitu bagi sebagian ulama Syafi’i yang lain mengharamkan puasa ini. Menurut mereka, puasa wishal ini haram karena termasuk kekhususan Nabi saw. (Hasyiyatai Qalyubi wa Umairah, jilid II, halaman 78).

Puasa makruh selanjutnya adalah puasa dahri atau sepanjang masa tidak dimakruhkan selama berbuka pada hari-hari terlarang dan tidak khawatir ada bahaya. Sebaliknya, jika khawatir ada bahaya atau bisa melemahkan puasa fardu, puasa tersebut tetap makruh. (Hilyatul Ulama fi Ma’rifati Madzahibil Fuqaha, jilid II, halaman 176). Wallahu a’lam.

(mdk/thw)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP