Serunya Tradisi Perang Air Suci Gianyar, Jadi Sarana Pembersih Diri

"Splash..byar..byurr" ini lah suara yang terdengar saat menggelar tradisi unik di Desa Suwat, Gianyar Bali. Meski terlihat bak sedang bermain air, namun sebenarnya warga Desa Suwat ini tengah melakukan sebuah tradisi Siat Yeh atau perang air. Sebuah tradisi rutin yang digelar setiap tahun sebagai sarana pembersih diri.

Tyas Titi Kinapti
Oleh Tyas Titi Kinapti - Reporter
Serunya Tradisi Perang Air Suci Gianyar, Jadi Sarana Pembersih Diri
Tradisi Perang Air Gianyar. ©2021 Merdeka.com/Dewa Krisna

"Splash..byar..byurr" ini lah suara yang terdengar saat menggelar tradisi unik di Desa Suwat, Gianyar Bali. Meski terlihat bak sedang bermain air, namun sebenarnya warga Desa Suwat ini tengah melakukan sebuah tradisi Siat Yeh atau perang air. Sebuah tradisi rutin yang digelar setiap tahun sebagai sarana pembersih diri.

Sejak sore tadi, ratusan orang sudah ramai memadati depan Balai desa di Catus Pata (perbatasan) Desa Suwa lengkap dengan baju adat,t. Tak hanya para remaja saja, dari usia tua hingga anak-anak pun tak mau ketinggalan tradisi ini. Gayung dan ember pun menjadi alat wajib di tradisi ini.

Suara tawa pun mengiringi tradisi Siat Yeh. Tak bisa dipungkiri, rona kebahagiaan tersirat di wajah mereka. Tradisi unik ini memang menjadi tradisi yang selalu dinanti warga Desa Suwat bahkan juga pelancong.

Tradisi Siat Yeh, diawali dengan prosesi ruwatan. Mulanya, sejumlah warga disiram air kembang oleh seorang pinandhita (pemimpin agama). Kemudian, selanjutnya mereka dibagi menjadi dua kelompok dan saling siram air atau disebut Siat Yeh (perang air).

Air yang digunakan dalam tradisi pun juga bukan air sembarangan, air ini merupakan air suci yang berasal dari Tukad Melanggih. Sumber air ini terletak di bawah Pura Dalem.

Air dari Tukad Melanggih diketahui juga sudah lama digunakan sebagai sarana penyucian sejak dulu. Dalam sejarah, mata air di Desa Suwat diyakini sebagai obat segala macam penyakit dan air konsumsi utama para bangsawan pada zaman kerajaan.

Setelah ruwatan, selanjutnya warga Desa Suwat dibagi menjadi dua kelompok. Dua kelompok ini lah yang nantinya akan saling siram air suci. Gayung pun diangkat ke atas, menjadi tanda persiapan perang air akan segera dimulai.

"Tok..tokk" suara kentungan desa berbunyi, menjadi penanda perang air dimulai. Dengan sekejap mereka bergegas mengambil air suci dari ember yang tela disediakan. Melemparkan air ke arah lawan, saling kejar dan saling siram. Seru!

"Blassh, byurr byurr" Cipratan airnya segar menyejukkan badan. Diiringi dengan suara gelak tawa. Perempuan dan laki-laki, tua atau muda mereka nampak berbaur. Kegembiraan terpancar jelas dari raut wajah mereka. Tidak afdhal rasanya jika badan tak basah kuyup.

Dalam perang air ini, seluruh warga dari berbagai umur wajib terlibat. Bahkan tidak terkecuali bayi dan kakek atau nenek yang sudah tak mampu berjalan. Nantinya, mereka akan diberikan siraman atau sekedar di basuh. Hal ini katanya, dimaksudkan untuk membangkitkan rasa tanggung jawab bersama.

Selain prosesi ruwatan, dalam ritual ini warga juga memohon agar mata air yang disakralkan di desa ini terus menyembul sepanjang tahun dan tahun-tahun selanjutnya. Oleh karena itu, tradisi ini dilakukan setiap awal tahun sebagai sarana pembersihan diri.

Selain menjadi sebuah tradisi ini, acara ini juga menjadi kegembiraan warga desa. Oleh karena itu, akan terus dibangkitkan kembali sebagai hiburan rakyat yang pernah diwariskan oleh leluhurnya.

Rekomendasi