Bayi-bayi mungil ini nampak menikmati ayunan yang menggantung di halaman Masjid Sultan Syiar Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Musik rebana mengalun pelan mengiringi gerakan ayunan ke depan dan ke belakang diiringi. Di depannya sang orang tua bayi mungil itu tangannya menengadah, memanjatkan doa dan lantunan syair-syair Maulid Habsy.
Itu lah suasana yang ada dalam tradisi Bauyun Maulud. Sejak pagi halaman masjid tertua di Kalimantan Selatan ini sudah ramai. Berbondong-bondong orang tua membawa sang buah hati. Dari bayi, balita hingga yang sudah duduk di bangku sekolah pun ikut diboyong.
Untuk mengikuti tradisi Baauyun Maulud. Tradisi yang sudah mengakar kuat di Banjarmasin. Tak pandang umur, orang tua, anak-anak, lansia mereka semua menanti giliran duduk di ayunan. Mencoba mencari berkah hidup lewat ayunan Baauyun Maulud.
Deretan ayunan yang terbuat dari kain sarung wanita atau tapih bahalai terlihat menggantung. Meski terlihat sederhana, namun kain ayunan ini cukup kokoh. Kain ayunan ini terdiri dari tiga lapis. Lapisan paling atas adalah kain sasirangan, kain tenun khas Banjar.
Di atas ayunan tergantung berbagai hiasan seperti pohon kelapa, pisang, kue cincin, ketupat, janur, uang dan lain-lain. Bayi-bayi ini tersenyum manis, tenang menikmati gerakan ayunan. Meski beberapa kali isak tangis bayi-bayi mungil terdengar di tengah acara.
Sesuai dengan namanya, kata Baayun artinya ayunan, sedangkan kata Maulud artinya kelahiran Nabi Muhammad. Baauyun Maulud berati mengayun sebagai bentuk rasa syukur atas kelahiran Nabi Muhammad SAW. Melalui tradisi ini warga berharap anak-anak mereka bisa berakhlak mulia, seperti yang dimiliki Nabi Muhammad SAW.
Untuk mengikuti Baayun Maulid ada piduduk atau syarat upacara sendiri. Untuk anak laki-laki, piduduk terdiri dari 3,5 liter beras, gula merah, dan garam. Sedangkan untuk anak perempuan ditambah minyak goreng dan sedikit garam.
Advertisement
Sudah dilakukan sejak ratusan tahun, tradisi ini pertama dilakukan oleh keluarga kerajaan Banjar. Sultan Suriansyah merupakan raja muslim pertama Kerajaan Banjar. Tradisi baayun berlanjut namun jarang digelar karena mahal.
Namun kini, Baayun Maulid menjadi tradisi rutin di gelar setiap peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, yang jatuh pada 12 Rabiul Awal. Tradisi ini pun menjadi momen yang selalu dinanti oleh warga Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Selain itu, mengikuti tradisi ini dipercaya akan mendapat berkah hidup.
Dahulu tradisi ini bernama Baayun anak, dimana peserta khusus untuk anak-anak. Namun, seiring masuknya ajaran Islam tradisi ini menjadi Baayun Maulud. Tak hanya bisa diikuti oleh bayi atau anak-anak saja.
Baayun Maulud juga diikuti sejumlah orang dewasa bahkan sejumlah orang lanjut usia. Mereka ikut untuk memenuhi nazar atau janji. Sama seperti peserta lainnya, mereka duduk di atas ayunan kain sambil diayun-ayunkan.
Terlepas dari itu, makna prosesi Baayun Maulud guna menanamkan kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW. Tak lupa juga untuk meneladani setiap akhlaknya.