Kucing menjadi hewan yang banyak digemari masyarakat berbagai usia. Hewan menggemaskan ini dipelihara dan dijadikan hobi dengan merawatnya. Namun tak jarang beberapa orang menganggapnya hewan pengganggu. Jika melihat adanya kucing akan disingkirkan jauh-jauh. Meledaknya populasi kucing juga membuat pemelihara dengan kucing berlebih akan membuang sebagian kucing mereka. Sungguh malang memang.
Namun sosok yang satu ini berbeda, yang belakangan menjadi teladan para penyayang binatang. Dialah Sri Sumini wanita tua berusia 56 tahun atau yang akrab disapa Mbah Sendang. Perasaan iba dan kasihan pada kucing terlantar membuat hatinya tergerak untuk memungutnya. Tak peduli meskipun hanya seorang penjual gerabah, ia mampu merawat seorang diri kucing terlantar yang berjumlah 28 ekor.
Bahkan beberapa kucing telah diadopsi oleh pemilik barunya. Meski telah dirawat dengan teliti, namun serangan virus juga turut mengurangi jumlah piaraan kucingnya hingga kini.
©2021 Merdeka.com/Yoyok Sunaryo
Kucing yang ia pungut berasal dari kompleks Pasar Jongke, Laweyan, Surakarta. Pasar memang menjadi sasaran beberapa warga Solo untuk menelantarkan kucing-kucing mereka. Di samping kiosnya tersusun beberapa kandang yang bakal merumahkan kucing-kucing liar di sekitar pasar.
Keteladanan Mbah Sendang membuat warga sesama pedagang menyebutnya sebagai “Dokter Kucing Liar”. Pasalnya, kucing yang sedang sakit, akan tetap dibiarkan berada di dalam kandang. Rutin diberikan makan dan perawatan agar kembali sehat dan bisa berkeliaran kembali seperti biasa.
©2021 Merdeka.com/Yoyok Sunaryo
Kecintaannya pada kucing begitu terlihat jelas. Setiap hari di sela-sela kesibukannya berdagang, ia menyempatkan merawat kucing. Ia rela menyisihkan keuntungan berjualan gerabah dan perlengkapan dapur untuk menghidupi puluhan kucingnya. Tidak banyak, bahkan dalam sehari ia hanya mampu menjual beberapa gerabah saja.
Kucing yang sehat akan diberikan kebebasan mencari makan sendiri di sekitar pasar. Tujuannya ialah agar memberikan sifat alamiah kucing sebagai predator untuk berburu tikus yang kerap merugikan pedagang.
Ia tidak serta merta melepas liarkan sepenuhnya para kucing. Meski dibiarkan mencari makan, kucing-kucingnya tiap hari selalu datang menghampiri. Tak berpikir panjang, Mbah Sendang selalu memberikan makan untuk kucing-kucingnya yang tersayang.
Advertisement
©2021 Merdeka.com/Yoyok Sunaryo
Puluhan tahun Mbah Sendang berjualan di Pasar Jongke. Setidaknya lebih dari 20 tahun terakhir ia mulai memberikan perhatiannya pada kucing liar di pasar. Ketenaran Mbah Sendang di media sosial berbuah manis. Para relawan dan pemerhati satwa Kota Solo secara sukarela membantu Mbah Sendang. Obat-obatan, vaksin, hingga vitamin diberikan berkala kepada kucing-kucing asuhan Mbah Sendang.
Beberapa pembeli gerabahpun juga turut memberikan perhatian pada Mbah Sendang. Biasanya para pembeli mendonasikan uang kembalian mereka membeli gerabah untuk membelikan pakan bagi kucing Mbah Sendang.
Hal tersebut membuat Mbah Sendang menjadi gembira, ia berharap agar kucing-kucingnya senantiasa selalu sehat. Dengan adanya bantuan obat-obatan, setidaknya turut meringankan Mbah Sendang untuk merawat kucing terlantar di usianya yang kini senja.
©2021 Merdeka.com/Yoyok Sunaryo
Pengalaman Mbah Sendang mulai menyelamatkan kucing di Pasar Kleco bermula saat berusia muda. Saat itu ia berusia 25 tahun menemani ibunya berdagang di pasar. Ia melihat seekor anak kucing yang terlantar. Padahal kucing kecil tersebut harus berada dalam lindungan induknya. Mulailah saat itu, anakan kucing ia pelihara hingga sehat dan dewasa.
Baginya, kucing sudah menjadi keluarga. Sosok Mbah Sendang tentu dapat menjadi teladan bagi para pecinta hewan lainnya. Menjaga, merawat, dan mempersilahkan kucing hidup berdampingan dengan manusia.