Meneguk Jamu Cekok Tertua di Yogyakarta, Berusia 1 Abad Lebih

Setiap hari banyak orangtua yang membawa malaikat kecilnya ke warung jamu ini. Meneguk jamu cekok legendaris Yogyakarta sejak 1875, Jamu Cekok Jampi. Para orang tua memercayakan tradisi cekok jamu yang telah dilakukan turun temurun sejak dahulu. Meminum jamu dengan cara cekok, jamu yang diperas ke dalam mulut.

Tyas Titi Kinapti
Oleh Tyas Titi Kinapti - Reporter
Meneguk Jamu Cekok Tertua di Yogyakarta, Berusia 1 Abad Lebih
Jamu Cekok Jampi Yogyakarta. ©2021 Merdeka.com/Budi Prast

Masih jam setengah 7 pagi, pintu warung baru saja dibuka. Seorang ibu dengan daster sudah hadir di depan pintu. Sambil menggendong buah hati dengan selendang yang melingkar di pundaknya. Membawa buah hati untuk meneguk jamu cekok legendaris Yogyakarta sejak 1875, Jamu Cekok Jampi.

Warung yang berada di Jalan Brigjen Katamso Yogyakarta, tepatnya di sebelah barat bekas THR Purawisata ini tak besar. Terlihat sederhana menyempil di tengah kota Yogyakarta. Tidak besar, hanya berukuran tidak lebih dua meter, memanjang ke bagian dalam. Meski kecil, namun setiap hari warung ini tak pernah sepi pengunjung.

Setiap pagi dan sore hari banyak orangtua yang membawa malaikat kecilnya ke warung jamu ini. Tempat ini menjadi salah satu pilihan pengobatan tradisional warga Yogyakarta jika anak sedang susah makan. Para orang tua memercayakan tradisi cekok jamu yang telah dilakukan turun temurun sejak dahulu.

Sayup-sayup suara tangisan anak kecil terdengar di warung ini. Beberapa anak kecil terkadang memang sering menangis setelah dicekok racikan jamu. Walaupun banyak anak yang meronta-ronta menolak minum jamu ini, tetapi akhirnya jamu tetap tertelan oleh anak dan memberikan khasiat.

Istilah cekok bermakna memaksa meminumkan jamu dengan cara diperas ke dalam mulut. Namun tidakasal memaksa memasukkan racikan jamu ke dalam mulut anak, ada trik sendiri saat mencekok. Layaknya dokter gigi, pegawai cekok melakukan aksinya dari belakang sang anak. Pasalnya, jika dari depan sang anak langsung menangis.

Untuk mencekok jamu ke mulut anak, digunakan kain bersih. Beberapa pengunjung terkadang membawa sendiri kain bersihnya. Ada syarat yang berlaku untuk cekok jamu ini, yaitu dua jam sebelum dicekok sang anak tidak boleh makan apa pun. Dikhawatirkan nanti anak akan muntah saat dicekok.

Aksi cekok jamu ini hanya diperuntukkan untuk bayi berusia 8 bulan hingga anak 2 tahun. Sebelum menginjak usia 8 bulan, lebih baik sang ibunda saja yang meminum jamu ini. Diperantarakan sang ibu melalui asi. Jika lebih dari 2 tahun, anak akan diberi jamu cekok dalam gelas kecil.

Selain mengobati anak yang nafsu makannya kurang. Racikan jamu ini terkadang ditambah bahan-bahan alami tertentu. Tergantung dengan keluhan anak, dari flu, batuk, gatal sampai demam. Meski identik dengan cara cekoknya, jamu cekok ini juga bisa dibungkus dan dibawa pulang. Pembeli juga bisa meminta penawar rasa pahit ketika meminum jamu di sini.

Setidaknya, setiap hari ada lebih dari 50 anak datang ke warung jamunya. Hal ini menunjukkan kepercayaan masyarakat terhadap jamu masih cukup tinggi.

Ada sejak 1875, racikan jamu ini tidak pernah berubah dari dulu. Turun temurun dari generasi pertama kakek KRT Kerto Wiryo Raharjo hingga ke generasi kelima, yakni Joni Wijanarko (56). Awal mula pembuatan jamu cekok berawal dari keprihatinan banyaknya anak kecil yang susah makan.

Layaknya jamu, bahan jamu cekok ini tanpa bahan kimia. Terdiri dari berbagai empon-empon (tanaman obat) seperti kunir, temu ireng, temugiring, temulawak, hingga daun pepaya. Menjaga kualitas jamu, proses produksi jamu cekok pun juga masih mengandalkan peralatan tradisional. Tanpa diblender, mereka menumbuk dengan lumpang bahan-bahan jamu. Setidaknya dibutuhkan waktu sekitar 2 jam untuk membuat jamu-jamu ini.

Meski khas dengan jamu cekok, namun tidak hanya jamu cekok saja yang dapat ditemukan di warung Jampi Asli ini. Ada juga jamu untuk melancarkan haid, pegal linu, masuk angin, batuk, galian kakung dan lain sebagainya. Setidaknya ada sekitar 25 jenis jamu disediakan di warung ini.

Setiap hari, warung ini buka mulai dari jam enam pagi hingga setengah delapan malam. Joni mematok harga yang sangat terjangkau, yaitu sekitar Rp 5 ribu dan Rp 6 ribu untuk orang dewasa.

Berkat konisten dan menjaga tradisi cekok, warung Jamu Jampi Asli mendapat nominasi penghargaan pelestari adat dan tradisi dari Dinas Kebudayaan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta pada 2014 lalu. Lebih dari 1 abad tepatnya 146 tahun hingga kini, warung ini melestarikan tradisi cekok yang jarang ditemukan di sudut kota.


Rekomendasi