Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Menjaga Cita Rasa Mie Lethek Khas Bantul dengan Tenaga Sapi

Menjaga Cita Rasa Mie Lethek Khas Bantul dengan Tenaga Sapi Mie Lethek Bantul. ©2021 Merdeka.com/Dika Sinatra

Merdeka.com - Tangan para pekerja tak henti mengaduk adonan mie yang mulai mengeras. Dibantu dengan sapi jantan yang berputar mengelilingi alat mesin. Sesekali terdengar suara lenguhan hewan mamalia berkaki empat ini. Ya, berbeda dari pabrik mi lainnya, proses pembuatan Mi Lethek khas Bantul Yogyakarta masih menggunakan cara tradisional.

Bukan hanya dari para tangan-tangan manusia saja, pabrik mi yang berada di Dusun BendoTrimurti Srandakan, Sawahan, Trimurti, Bantul ini masih mengandalkan tenaga sapi jantan dalam proses pembuatannya. Tenaga sapi digunakan untuk menggerakkan silinder dengan berat sekitar 1 ton. Silinder ini berfungsi sebagai alat pengaduk bahan-bahan mi.

Pabrik Mi Bendo yang sudah berdiri sejak 1940-an ini mampu membuktikan ketangguhannya. Di tengah kemajuan teknologi, pabrik ini mampu bersaing dengan pabrik Mi Lethek yang menggunakan mesin. Mie Lethek Bendo ini kekeh menjaga cita rasa Mi Lethek yang melegenda.

mie lethek bantul©2021 Merdeka.com/Dika Sinatra

Bukan tanpa alasan mengapa tetap kekeh mempertahankan pembuatan tradisional dengan sapi. Dengan tenaga sapi, nantinya akan menghasilkan adonan Mi Lethek yang bagus. Selain itu, tentu saja perawatannya (alat penggiling) lebih mudah daripada mesin.

Setidaknya, ada 3 sapi yang bergantian membantu proses penggilingan. Kurang lebih sebanyak 1 ton lebih adonan mie lethek yang digiling setiap harinya. Nantinya, sapi ini akan memutari area lingkaran yang cukup luas kiranya 9 meter persegi.

Sementara para penggiling akan mengaduk adonan dari bahan tepung tapioka dan gaplek ini secara bergantian sembari sapi berputar. Proses penggilingan mi lethek dilakukan sebanyak 6 kali dalam sehari.

mie lethek bantul©2021 Merdeka.com/Dika Sinatra

Setelah diselinder adonan dimasukkan ke mesin pres. Dari mesin menjadi mie panjang-panjang sebagai bahan utama produksi Mie Lethek. Karena tidak mengandalkan mesin, maka waktu produksi mi lethek pun cukup lama. Apalagi jika cuaca sedang mendung atau hujan.

Mi jenis ini umumnya juga tidak bisa bertahan terlalu lama karena tidak mengandung pengawet. Namun, jika disimpan dengan mie lethek mampu bertahan sekitar 3 bulan.

mie lethek bantul©2021 Merdeka.com/Dika Sinatra

Lethek sendiri dalam bahasa Jawa artinya kotor atau kusam. Nah mie ini dinamakan mie lethek karena secara visual warnanya kusam. Warnanya yang lethek (kusam) merupakan warna asli tapioka atau tepung ketela yang dijemur di bawah sinar matahari.

Meski begitu proses pembuatannya terkesan jauh dari kata kotor atau kusam sehingga sangat aman dikonsumsi. Bahkan, Mi Lethek diklaim lebih sehat karena tidak mengandung pengawet dan pemutih saat diproduksi.

mie lethek bantul©2021 Merdeka.com/Dika Sinatra

Mi yang bertekstur mirip bihun ini bisa disajikan digoreng atau direbus. Biasanya ditambahkan telur atau sayur-sayuran sehingga menjadi sajian yang terbilang sehat.Biasanya mie ini diolah menjadi bakmi jawa goreng maupun kuah.

Mie Lethek yang berlabel mi Bendo asli cap garuda sudah berdiri lawas dan cukup terkenal di Yogyakarta. Mi Lethek khas Batul ini pun menjadi wisata kuliner wajib saat berkunjung ke Yogyakarta. (mdk/Tys)

Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP