Sepak Terjang Alexsandro Alvino, Remaja 16 Tahun Asal Pekanbaru Dapat 3 Penghargaan Sekaligus dari NASA

Ada 3 kerentanan yang ditemukan oleh remaja ini. Ketiganya begitu penting.

Fauzan Jamaludin
Oleh Fauzan Jamaludin - Reporter
Sepak Terjang Alexsandro Alvino, Remaja 16 Tahun Asal Pekanbaru Dapat 3 Penghargaan Sekaligus dari NASA
Sepak Terjang Alexsandro Alvino, Remaja 16 Tahun Asal Pekanbaru Dapat 3 Penghargaan Sekaligus dari NASA (Foto: Alexsandro Alvino)

Namanya Alexsandro Alvino. Seorang remaja (16) asal Pekanbaru, Riau, ini sungguh membanggakan. Pada Juni lalu, ia mendapatkan 3 penghargaan sekaligus dari NASA.

Penghargaan yang diberikan NASA kepadanya lantaran ia berhasil menemukan kerentanan pada sistem organisasi luar angkasa asal Amerika Serikat (AS) itu.

“Iya, saya dapat 3 penghargaan sekaligus karena menemukan 3 kerentanan,” ujar Alex saat berbincang dengan Merdeka.com, Senin (14/7).

Alex melanjutkan, 3 kerentanan itu yakni kebocoran data pribadi (Personally Identifiable Information/PII) yang berhasil ia ungkap dengan memanfaatkan Google Dorking.

Teknik pencarian lanjutan di mesin pencari untuk menemukan informasi sensitif yang tersembunyi atau tidak sengaja terekspos di internet.

“Nah, itu adalah kerentanan yang dimana terungkapnya identitas seseorang, atau data sensitif seseorang. Saya menemukan itu menggunakan metode google dorking, yang dimana saya mencari data-data sensitif dari staff NASA maupun astronot,” jelasnya.

Dampaknya, jika data itu terekspos oleh penjahat siber, maka tidak menutup kemungkinan hacker bisa memanfaatkannya untuk menyebarkan kebohongan di internet.

“Itu bisa digunakan untuk menakut-nakuti atau menipu publik,” ungkapnya.

Kemudian yang kedua, ia menemukan kerentanan berupa broken link hijacking pada domain utama NASA, termasuk akun media sosialnya. Hacker, kata Alex, dapat mengambil alih username dari platform media sosial yang sudah tidak lagi digunakan NASA.

“Misal NASA memiliki username untuk Instagram yang sudah tidak lagi digunakan, namun diambil alih oleh hacker dijadikan seakan-akan akun Instagram tersebut valid, termasuk memberikan centang biru,” terang dia.

Ketiga adalah kerentanan Unauthorized Admin Panel Access. Kerentanan ini sederhananya bisa mengubah status jabatan seseorang. Menurutnya, ini adalah kerentanan yang sangat berbahaya. Ia mencari akses-akses yang dijadikan pintu masuk hacker untuk menjadi privilege admin.

“Jadi ibaratnya seorang karyawan, dia nemu celah, yang tiba-tiba bisa mengubahnya menjadi manajer,” ungkapnya.

Awal Mula Ketertarikan

Siswa SMK Metta Maitreya kelas XII ini bercerita awal mula ketertarikannya di dunia keamanan siber. Ia mengaku menekuni dunia cyber security ini saat kelas XI. Ceritanya ada seorang temannya melakukan spam SMS ke Whatsapp-nya.

“Saya sempat kaget karena bisa masuk sampai 20 SMS dalam waktu kurang dari satu menit. Orang-orang waktu itu memanggil dia hacker, jadi saya penasaran dan mulai mencari tahu apa itu hacker. Awalnya saya cukup kagum, karena saya pikir itu sesuatu yang hebat. Belakangan saya baru tahu itu cuma mainan saja,” kata dia.

Dari itulah awal mula Alex belajar mengenai keamanan siber. Ia pun mengaku bahwa keterampilannya tidak didapatkan dari kursus. Ia murni mengembangkan ilmunya secara otodidak.

“Belajarnya otodidak. Memanfaatkan bahan-bahan yang ada di internet atau cari informasinya pakai AI,” jelasnya.

Orang-orang terdekatnya bangga dengan penghargaan yang ia terima. Hanya saja beda perlakuan. Misalnya saja orang tua Alex. Orang tuanya sejauh ini support namun belum maksimal.

“Karena orang tua saya punya bisnis, mereka tentu berpikir, kalau bukan saya atau adik saya yang melanjutkan, lalu siapa lagi? Wajar saja, semua orang tua pasti ingin ada kepastian untuk masa depan anak-anaknya,” ujar dia.

Namun lain hal dengan teman-teman dan guru-gurunya di sekolah. Ia bercerita bahwa teman-teman di sekolah sangat menghargai pencapaiannya.

Sekolah pun mendukung penuh dengan memberikan hadiah sebagai bentuk apresiasi. Namun, ia mengakui bahwa sejauh ini belum ada respons atau penghargaan dari pemerintah setempat.

“Kalau dari pemerintah sendiri, sejauh ini belum ada,” kata dia.

Rekomendasi