Poco baru saja meluncurkan smartphone terbarunya, yakni Poco X2. Namun sayangnya, Poco mengambil jalur yang tak sama dengan apa yang membesarkan namanya dulu, yakni tidak merilis flagship.
Poco X2 sendiri adalah smartphone papan tengah dengan berbagai aspek yang mumpuni, terutama sektor layar yang memiliki kecepatan refresh 120Hz. Namun, prosesor yang diusung adalah Snapdragon 730G, tidak satu tingkatan dengan pendahulunya, Poco F1 yang membawa Snapdragon seri 800.
Nah, Android Authority mewawancara General Manager dari Poco yakni Manmohan Chandolu, terkait alasan belum dirilisnya flagship dari Poco.
Chandolu menjawab, secara umum, Poco yang merupakan startup belum memiliki cukup dana untuk memodali smartphone besutannya dengan prosesor/chipset terbaik.
Chandolu menyebut bahwa chipset seri 800 saat ini harganya mahal.
Advertisement
"Chipset saat ini, semua chipset seri 800 (Snapdragon besutan Qualcomm), harganya sangat mahal. Dan Snapdragon 865 jadi generasi 5G pertama yang membuatnya jauh lebih mahal," ungkap sang GM.
Ia menyebut bahwa untuk menyematkan Snapdragon 855, performanya tidak terlalu jauh dengan Snapdragon 845 yang ada di Poco F1. Namun untuk menyematkan Snapdragon 865, terdapat transisi 4G ke 5G yang membuatnya mahal.
Karena itu, Poco mengambil langkah untuk menyematkan chipset octa-core Snapdragon 730G yang jauh lebih terjangkau.
Chandolu percaya bahwa Poco X2, sama halnya Poco F1, akan tetap jadi perangkat yang dicintai karena performa unggulnya, dan jadi perangkat game-sentris.
Advertisement
Poco F2 Tak Ada?
Sejauh ini pun, Chandolu menolak untuk mengonfirmasi adalahnya Poco F2 yang diharapkan merupakan flagship.
Selain karena soal biaya yang telah dijelaskan, ia tak terlalu optimis untuk membawa smartphone 5G ke pasar berkembang seperti India.
Seperti yang kita tahu, Poco adalah smartphone dengan harga terjangkau. Tentu menyalahi ideologi untuk menyematkan konektivitas 5G di perangkat yang berharga murah dan providernya juga belum siap.
"Ini bukan hanya soal chipset, kan? Kami juga ingin infrastrukturnya siap," ungkap Chandolu. "Sekali lagi, apa gunanya memiliki chipset jika infrastrukturnya tak tersedia" tutup sang manajer.
Bisa disimpulkan, kita mungkin tak akan bertemu dengan Poco F2, sampai konektivitas 5G jadi sesuatu yang mainstream di negara berkembang layaknya 4G saat ini.
Menurut Anda?