Pengamat sebut Rakuten mundur lantaran tak tahu tren Indonesia

"Orang Indonesia itu searching dulu dan lihat harga, yang benar-benar membeli cuma 17,3 persen."

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Pengamat sebut Rakuten mundur lantaran tak tahu tren Indonesia
Kun Arief Cahyantoro. ©2016 Merdeka.com

Merdeka.com - Berdasarkan data dari Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo), potensi e-commerce di Indonesia pada tahun 2020 sekitar USD 130 miliar. Namun sayangnya, belum sampai di angka itu, salah satu e-commerce asal Jepang yakni Rakuten memilih hengkang dari Indonesia. Mereka hengkang lantaran mengklaim sedang melakukan strategi baru untuk mencapai target pada lima tahun mendatang.

Langkah Rakuten mundur dari pasar Indonesia, sangat disayangkan dan menjadi sorotan beberapa pihak. Pengamat e-commerce, Kun Arief Cahyantoro, melihat keputusan yang dilakukan oleh mereka dianggapnya karena tidak memahami tren di Indonesia.

"Kalau saya melihat gini, karena mereka gak tahu tren," ujarnya ketika dijumpai di acara Lazada Indonesia, Jakarta, Senin (22/2).

Ia mengatakan berdasarkan data yang dimiliki. Untuk berbelanja online, masyarakat Indonesia cenderung melakukan pencarian terlebih dahulu untuk melihat harganya. Kemudian baru mereka benar-benar membeli setelah melihat harga yang ditawarkan itu.

"Trend yang pertama adalah bahwa orang Indonesia mereka itu searching dulu dan lihat harga, yang benar-benar membeli cuma 17,3 persen. Jadi contohnya dari 100 orang, yang beli cuma 18 orang," tuturnya.

Kendati demikian, tren itu bisa memicu perusahaan e-commerce untuk meraih pasar yang masih besar itu. Sederhananya, tantangan yang dihadapi pemain e-commerce saat ini adalah bagaimana mereka bisa menarik netizen untuk menjadi pembeli.

"Tapi ini juga opportunity bagi provider e-commerce. Meningkatkan agar ke 83 dari 100 orang ini bisa jadi pembeli. Setengahnya saja, gak usah setengah deh, dua kali lipat nya aja. Jadi akan lebih banyak bagaimana menarik para netizen menjadi the real buyer," ungkap dia.

Selain itu, tren yang kedua, juga harus dilakukan oleh e-commerce lainnya agar tak mundur seperti Rakuten dan mampu berinovasi sesuai dengan kebutuhan pengguna.

"Tren kedua aplikasi mobile itu menjadi personal shopper terkait segmentasi. Misalnya saya suka mobil. Mobil Mercy. Kalau saya masuk, mereka udah tahu apa yang saya cari. Ke depannya profiling bukan by segmentation, tapi personal profiling. Jadi, saya masuk bukan karena umur saya, jenis kelamin saya, intinya setiap orang itu berbeda-beda. Tren yang ketiga itu omni channel. Dan terakhir kembangkan mobile," imbuhnya.

Rekomendasi