Jejaring sosial jadikan penggunanya anti sosial [Part 2]

Jejaring sosial dapat menyebabkan penggunanya menjadi anti sosial

Sannidya Ayu Andriana
Oleh Sannidya Ayu Andriana - Reporter
Jejaring sosial jadikan penggunanya anti sosial [Part 2]
Anti sosial. ©2013 Paperbecause.com

Kini, kebanyakan orang sekarang hanya mengandalkan jejaring sosial untuk bersosialisasi. Mereka bahkan merasa lebih nyaman untuk berinteraksi secara online daripada bertemu secara langsung. Dengan demikian, semakin terkikis lah budaya ramah tamah, silaturahmi, dan saling sapa yang ada selama ini.

"Kita terus-terusan berkirim sms dan bermain jejaring sosial sehingga kita tidak merasa kesepian. Tetapi ternyata, kita malah mengabaikan orang-orang dan dunia yang ada di sekitar kita", ujar seorang Psikolog bernama Sherry Turkle.

Sherry Turkle adalah seorang psikolog dan profesor dari studi ilmu pengetahuan sosial dan teknologi di Institut Teknologi Massachuset. Dia telah melakukan penelitian bagaimana teknologi telah mempengaruhi kita untuk menyendiri maupun berhubungan secara nyata dengan orang-orang di sekitar kita. Turkle telah menerbitkan sebuah buku berjudul "Alone Together: Why We Expect More From Technology And Less From Each Other".

Penggunaan jejaring sosial jika tidak dilakukan secara berlebihan tentu tidak akan berdampak negatif. Malah, hal tersebut dapat menjadi sarana komunikasi dan silaturahmi yang efektif.

Bagaimana menurut Anda? Apakah kita akan membiarkan diri kita menjadi manusia anti sosial justru karena menggunakan jejaring sosial seperti Facebook dan Twitter? Dengan lebih bijaksana dan tidak berlebihan dalam menggunakan jejaring sosial adalah salah satu cara agar kita dapat terhindar dari perilaku anti sosial.

Rekomendasi