Sosok Ibrahim Marah Sutan, Kaum Intelek Masa Hindia Belanda Asal Padang Pariaman

Seorang tokoh intelektual, pendidik, penulis, dan tokoh pergerakan asal Minangkabau ini hidup di masa Hindia Belanda dan Orde Lama.

Adrian Juliano
Oleh Adrian Juliano - Reporter
Sosok Ibrahim Marah Sutan, Kaum Intelek Masa Hindia Belanda Asal Padang Pariaman
Sosok Ibrahim Marah Sutan, Kaum Intelek Masa Hindia Belanda Asal Padang Pariaman (Merdeka.com)

Setiap daerah tentu memiliki sosok atau tokoh intelektual yang cukup berpengaruh bagi kehidupan sosial masyarakat. Sama halnya dengan salah satu sosok kaum intelektual asal Padang yang satu ini bernama Ibrahim Marah Sutan.

Ia dikenal sebagai sosok intelektual, tokoh pendidik, penulis, hingga tokoh pergerakan awal kemerdekaan Indonesia di masa Hindia Belanda maupun Orde Lama. (Foto: Wikipedia)

Marah Sutan mengangkat seorang anak bernama Mohammad Syafei yang juga tokoh penting dalam pergerakan dan pendidikan Indonesia dan pendiri lembaga pendidikan menengah swasta yang bercorak khusus.

Selengkapnya, simak profil Ibrahim Marah Sutan yang dirangkum merdeka.com dari berbagai sumber berikut ini.

Profil Singkat

Ibrahim Marah Sutan adalah anak dari Bagindo Nagari, seorang penghulu dagang dari Bukittinggi dan ibunya adalah seorang gadis Kayutanam yang berasal dari Jawa Timur.

Namun, ada versi lain dari seluk beluk orang tuanya, sang ayah berasal dari Kayutanam dan ibunya adalah keturunan Jawa dari Pasuruan. Selama hidupnya, ia sudah berkeliling daerah untuk berbagi ilmu dari Aceh hingga Lampung, kemudian ke Pontianak ke Sambas.

Mengajarkan Soal Lingkungan

Melansir dari berbagai sumber, Marah Sutan tamat sekolah dari Kweekschool atau sekolah raja di Fort de Kock pada tahun 1890. Setelah tamat, di tahun yang sama ia menjadi guru sekolah rendah di Padang.

Selama mengajar, Marah Ibrahim banyak mengajarkan kepada muridnya tentang mengolah bumi di negeri Indonesia yang subur. Di Lampung, ia bahkan mengajarkan untuk memelihara ulat sutra.

Keresahan Marah Sutan

Melansir dari Instagram @cahayaguru, saat dirinya menjadi guru di Sukadana, ia merasa resah karena wilayah itu berlimpah hasil alam namun masyarakatnya miskin.

Kemudian, ia memiliki cita-cita untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat lewat pendidikan. Sang guru punya banyak gagasan, tetapi tidak seluruhnya diterima. Namun, Marah Sutan sangat bertekad kuat untuk membuat pendidikan bumiputera merdeka.

Di sisi lain, Marah Sutan tetap mengusahakan untuk menyekolahkan anak angkatnya, Mohammad Syafei.

Banyak Menulis Karya

Selama masa hidupnya, Marah Sutan banyak menulis buku untuk anak sekolah. Beberapa karyanya Djalan Ke-Timoer, Boenga Tjoelan, Pelita, dan Soear.

Rekomendasi