Laksamana Muda TNI (Purn.) John Lie Tjeng Tjoan atau biasa yang dikenal dengan nama Jahja Daniel Dharma ini lahir pada 9 Maret 1911 di Manado, Sulawesi Utara. Ia merupakan salah satu perwira tinggi milik kesatuan TNI AL etnis Tionghoa dan juga Pahlawan Nasional Indonesia.
Kehidupan masa kecil Lie sungguh berbeda dengan anak-anak lainnya. Ia lahir dari keluarga kalangan ekonomi yang berkecukupan, sang ayah merupakan seorang penguasaha di bidang transportasi.
(Foto: Wikipedia)
Mengutip esi.kemdikbud.go.id, anak kedua dari delapan bersaudara ini pada usia tujuh tahun sudah menempuh pendidikan formal di Hollandsch Chineesche School (HCS). Tahun 1920 ia terpaksa pindah ke Christelijke Hogeschool (CHR) dan selesai pada tahun 1927.
Selain pandai di bidang akademis, John Lie juga mendalami ilmu agama dengan taat melalui pendidikan formalnya.
Advertisement
Kehidupan Masa Kecil
Sejak kecil John Lie sudah sangat akrab dengan sungai, laut, dan aktivitas bongkar muat pelabuhan di Manado. Ia juga tinggal di wilayah pesisir yang membentuk karakter dan terbiasa dengan sifat egaliter, toleran, dan terbuka.
Kehidupan sehari-hari John Lie inilah yang membentuk dirinya saat sudah menginjak usia remaja hingga dewasa bahkan setelah dirinya menjadi seorang perwira TNI AL.
Kecintaannya terhadap kapal itu terbukti ketika sebuah kapal Eskader milik Angkatan Laut Belanda yang sedang bersandar di Pelabuhan Manado. Ia pun bertekad untuk bisa menaiki kapal tersebut namun tidak diizinkan.
Namun, ia tetap nekat dengan cara berenang ke laut lalu berkata “Kelak saya ingin jadi Kapten, suatu saat akan pimpin kapal begini". Inilah yang menjadi momen dirinya memiliki cita-cita sebagai seorang pelaut.
Advertisement
Pindah ke Batavia
Pada tahun 1928, ia pindah ke Batavia untuk mewujudkan cita-citanya. Ia sempat bekerja sebagai buruh pelabuhan di Tanjung Priok selama setahun. Lie juga mendapatkan pelajaran tentang ilmu pelayaran, menjangka peta, navigasi, hingga semboyan.
Kemudian pada tahun 1929 perusahaan KPM merekrut John Lie untuk bekerja sebagai Klerk Muallim III. Sejak saat itu sampai menjelang Perang Dunia II ia kerap sekali menghabiskan waktu di lautan untuk berlayar dari satu pulau ke pulau lainnya.
John Lie mendapatkan pengalaman begitu berharga ketika Perang Dunia II, karena posisi pemerintah kolonial Belanda mulai terpojok oleh serbuan tentara Jepang yang sudah berlangsung sejak bulan Januari 1942.
Saat itu John Lie mengikuti rangkaian practice training untuk mengasah kemampuannya seperti pengenalan taktik perang laut, pengoperasian senjata, administrasi perkapalan, sistem komunikasi, dan lain sebagainya.
Advertisement
Bertugas Selundupkan Barang
Pada awal tahun 1947, John Lie pernah mengawal kapal bermuatan karet 800 ton untuk diserahkan kepada Kepala Perwakilan RI di Singapura. Dari situlah, ia secara rutin melakukan operasi "penyelundupan" untuk mengelabui blokade Belanda.
Seluruh hasil bumi yang dikirim ke Singapura itu ditukar dengan senjata lalu diserahkan kepada prajurit di Sumatra untuk sarana perjuangan melawan Belanda. Lie pernah tertangkap oleh perwira Inggris setelah membawa barang selundupan berupa 18 drum minyak kelapa sawit.
Berkat kelihaiannya dalam membawa barang selundupan, ia kemudian ditempatkan di Port Swettenham di Malaya lalu mendirikan pangkalan Angkatan Laut untuk menyuplai bahan bakar, bensin, makanan, senjata, serta keperluan lainnya.
Advertisement
Andalan TNI AL
Pada tahun 1950, Lie kembali dipanggil untuk menjabat sebagai komandan kapal perang Radjawali oleh Laksamana TNI R. Soebijakto. Selain itu, Lie juga bergabung dalam penumpasan Republik Maluku Selatan dan PRRI/Permesta.
Ia pensiun dari TNI AL pada tahun 1966 dengan pangkat Laksamana Muda. Lie dikenal oleh kalangan tokoh militer sebagai sosok yang menjadi andalan. Prestasinya begitu gemilang serta menjadi andalan ketika puncak-puncak eksistensi republik. Selain itu, ia juga aktif dalam penumpasan kelompok separatis.