Kisah Wong Bersaudara, Pelopor Produksi Film Fiksi Pertama dan Terpanjang Masa Hindia Belanda

Tiga bersaudara dari etnis Tionghoa ini cukup aktif dan terkenal di dunia perfilman era Hindia Belanda sekaligus pendiri dari The Great Wall Productions.

Adrian Juliano
Oleh Adrian Juliano - Reporter
Kisah Wong Bersaudara, Pelopor Produksi Film Fiksi Pertama dan Terpanjang Masa Hindia Belanda
Kisah Wong Bersaudara, Pelopor Produksi Film Fiksi Pertama dan Terpanjang Masa Hindia Belanda (Merdeka.com)

Kisah Wong Bersaudara, Pelopor Produksi Film Fiksi Pertama dan Terpanjang Masa Hindia Belanda

Tiga bersaudara dari etnis Tionghoa ini cukup aktif dan terkenal di dunia perfilman era Hindia Belanda sekaligus pendiri dari The Great Wall Productions.

Hindia Belanda bukan melulu soal penjajahan ataupun VOC. Namun, melihat sisi lainnya masih banyak yang bisa ditelusuri keberadaannya salah satunya yakni industri film.

Memang, film zaman itu belum secanggih dan sebagus sekarang. Tapi tanpa ada pelaku yang bergerak di bidang yang sama seperti Wong Bersaudara atau tiga bersaudara beretnis Tionghoa ini.

Mereka dulu cukup aktif dan terkenal dalam industri perfilman era Hindia Belanda. (Foto: Wikipedia)

Tiga bersaudara itu terdiri dari Nelson, Joshua, dan Othniel. Namun, kakak tertua yaitu Nelson Wong sudah tertarik duluan dengan dunia film sejak dirinya menempuh pendidikan di Amerika Serikat.

Nelson lalu memutuskan untuk fokus di studi teknik penciptaan imaji atau Imagemaking di Hongkong tahun 1920-an.

Melihat sang kakak tertua yang sibuk dengan dunianya itu memicu sang adik-adik yaitu Joshua dan Othniel untuk ikut terjun di kancah industri perfilman.

Seperti apa kisah dari Wong Bersaudara ini? Simak ulasan informasinya berikut.

Ditawar Membuat Film

Dihimpun dari beberapa sumber, saat Nelson tiba di Hindia Belanda tahun 1927 ia sudah menjalin kerja sama dengan rombongan teater.

Saat itu sang pemilik menawarkan pembuatan film kepada Nelson yang dibintangi oleh pemain-pemain teater.

Nelson yang tergiur dengan tawaran tersebut memaksanya untuk memindahkan keluarganya ke Hindia Belanda.

Meski awalnya tidak diketahui keluarganya, Nelson sudah memproduksi sejumlah film layar lebar dengan studio yang berbeda tetapi masih dalam satu nama perusahaan yaitu Halimoen Film.

Selain itu, mereka bertiga datang ke Hindia Belanda hanya dengan modal seadanya yaitu Pathe 35mm Cinecamera, perlengkapan pendukung, dan keahlian proses development film.

Produksi Film

Wong Bersaudara berhasil memproduksi film perdananya berjudul Lily van Java pada tahun 1929.

Ketika sang kakak tertua yakni Nelson jatuh sakit, Joshua bersama Othniel bekerja sama dengan Albert Balink dan Mannus Franken untuk memproduksi film "Pareh".

Pada tahun 1937, Wong Bersaudara kembali menjalin kerja sama dengan Albert Balink dalam sebuah film berjudul Terang Boelan. Film ini kemudian sangat laris dan otomatis membuat keuangan Wong Bersaudara meningkat pesat.

Kemudian, mereka bertiga masih konsisten produksi film namun di bawah perusahaan Tan's Film.

Setelah pendudukan Jepang, Joshua dan Othniel beralih profesi menjadi pedagang dan sempat vakum dari dunia film. Sampai pada tahun 1948 mereka comeback bersama Tan Bersaudara.

Kelola Laboratorium Film

Dilansir dari akun Instagram sinematografer_indonesia , ketiganya mengelola sebuah laboratorium film yang berlokasi di Bojong Loa, Bandung.

Untuk membagi pekerjaannya, mereka membaginya dengan sistem jobdesc, apabila dua orang sudah ada di bidang produksi, maka satu orang terakhir bertugas di pascaproduksi.

Film berjudul Lily van Java menjadi film produksi etnis Tionghoa pertama dan menjadi film fiksi terpanjang kedua setelah Loetoeng Kasaroeng di Hindia Belanda.

 Nelson pun bertanggung jawab sebagai sutradara dan juru kamera di bawah perusahaan Halimoen Film.

Film Bersuara di Hindia Belanda

Tahun 1935, Othniel merilis film Boenga Roos dari Tjikembang yang diambil dari sebuah novel. Film ini sebagai "film bersuara" bukan "film bicara" pada era Hindia Belanda.

Wong Bersaudara meminta bantuan Lemmens atau teknisi radio untuk membuat alat merekam suara.

Dari Wong Bersaudara, kita bisa belajar bahwa teknik film bukan hanya soal kualitas gambar/visual atau suara saja, melainkan alur cerita atau storytellingnya juga harus diperhatikan.

Dari mereka juga lahirnya kata-kata "juru kamera" atau "cameraman" yang berangkat dari pengerjaan teknis di lapangan hingga di laboratorium serta menyadari adanya kebutuhan asisten kamera dan teknisi pencahayaan dalam setiap proses produksi film.

Rekomendasi