Mengenal Sosok LN Palar, Tokoh Penting Perjuangan Kemerdekaan Indonesia di Jalur Diplomasi

Sosok pria ini memiliki peran penting dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia di ranah diplomasi.

Adrian  Juliano
Oleh Adrian Juliano - Reporter
Mengenal Sosok LN Palar, Tokoh Penting Perjuangan Kemerdekaan Indonesia di Jalur Diplomasi
Sosok L.N. Palar, pejuang kemerdekaan Indonesia melalui jalur diplomasi. (© 2023 merdeka.com)

Sosok pria ini memiliki peran penting dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia di ranah diplomasi.

Lambertus Nicodemus Palar dikenal sebagai diplomat dan politisi yang pernah menjadi perwakilan Indonesia di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Ia merupakan sosok sosok yang begitu penting dan berjasa untuk Indonesia.

Lahir di Tomohon, Sulawesi Utara pada 5 Juni 1900, LN Palar merupakan lulusan Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) di Tondano.

Ia lalu menempuh pendidikan di AMS Yogyakarta. Di sekolah tersebut ia mulai mengenal ide-ide nasionalis dan dunia politik.

Tahun 1922, LN Palar meneruskan pendidikannya di ITB. Di kampus ini ia bertemu dengan Soekarno dan mahasiswa nasionalis lainnya.

Sayang ia akhirnya berhenti kuliah lalu kembali ke Minahasa karena sakit.

Tahun 1924, ia kembali kuliah di Fakultas Hukum Universitas Indonesia dan bergabung dengan para penganut paham Sosialis-Demkorat.

Tahun 1930, LN Palar tergabung dengan Sociaal-Democratische Arbeiders Partij (SDAP). Ia kemudian ditunjuk menjadi sekretaris Komisi Kolonial SDAP pada 1933.

Melansir dari Antara, LN Palar menikah dengan Johanna Petronella Volmers dan menjadi ketua seksi Indonesia di Partai Sosial Demokratik Belanda.

Lalu, pada 1945, LN Palar mengisi kursi Parlemen Belanda (Tweede Kamer) melalui partainya. Tetapi ia mengundurkan diri saat Agresi Militer Belanda I.

Setelah itu, LN Palar dipanggil untuk kembali pulang ke tanah air untuk ikut bergabung dalam memperjuangkan Indonesia melalui jalur diplomasi.

Untuk memperjuangkan Kemerdekaan Indonesia melalui jalur diplomasi, Presiden Soekarno meminta LN Palar untuk menjadi juru bicara Indonesia di pertemuan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Saat itu, LN Palar membuka kantor perwakilan RI di New York, Amerika Serikat dibantu oleh Sudarpo, Soedjatmoko, dan Sumitro. Statusnya dan delegasi Indonesia di PBB saat itu masih sebagai peninjau.

Setelah Indonesia telah diakui kedaulatannya dan menjadi anggota PBB pada tahun 1950, barulah LN Palar dan delegasi lainnya menjadi perwakilan resmi dengan status keanggotaan penuh.

Setelah memperjuangkan Indonesia melalui jalur diplomasi, LN Palar diminta untuk ikut serta dalam persiapan Konferensi Tingkat Tinggi Asia-Afrika 1955 yang diikuti negara-negara yang baru saja merdeka. Saat itu LN Palar masih menjabat sebagai Duta Besar Indonesia untuk India.

Setelah konferensi, LN Palar kembali menjalankan tugas diplomatisnya sebagai Duta Besar Indonesia untuk Uni Soviet sekaligus Jerman Timur.

Kemudian, ia juga pernah menjabat sebagai Dubes RI untuk Kanda pada tahun 1957 sampai 1962.

LN Palar pensiun dari dunia diplomatik pada tahun 1968. 

Ia sempat kembali ke Ibukota dan melakukan kegiatan mengajar, pekerjaan sosial, dan ditunjuk sebagai penasihat Perwakilan Indonesia di kancah PBB.

LN Palar mengembuskan nafas terakhirnya di Jakarta tahun 1981 yang meninggalkan istri, dan 3 orang anak. 

Rekomendasi