Mengenal Kuau Raja, Burung Eksotis Asal Sumatera yang Dianggap Bisa Deteksi Gempa

Senin, 12 Oktober 2020 07:01 Reporter : Nurul Diva Kautsar
Mengenal Kuau Raja, Burung Eksotis Asal Sumatera yang Dianggap Bisa Deteksi Gempa Burung Kuau Raja. ©2020 pinterest / mayatrgn

Merdeka.com - Salah satu anugerah terbesar dari negara Indonesia adalah terdapatnya beragam jenis fauna yang unik dan eksotis. Seperti yang bisa kita lihat pada Burung Kuau Raja.

Burung yang dikenal berasal dari Sumatera Barat ini mampu menunjukkan keindahannya melalui ratusan corak bulat kecil, berbentuk mata di antaranya bulu-bulunya saat sedang mengepakkan sayap raksasanya.

Selain itu Kuau Raja juga dikenal memiliki warna coklat cerah yang makin mempercantik tampilannya. Diketahui hewan tersebut merupakan keluarga dari Argusianus argus atau Great Argus (dalam Bahasa Inggris).

2 dari 6 halaman

Ciri Khusus

burung kuau raja
Pinterest/parennyawi ©2020 Merdeka.com

Unggas jenis ini diketahui tidak bisa terbang jauh namun tetap bisa berlari secara cepat. Burung Kuau Raja ini dapat melompat dari satu pohon ke pohon lain dan memiliki pendengaran yang tajam.

Karena tak bisa terbang tinggi seperti burung pada umumnya, Kuau Raja tidak membuat sarang di atas pohon. Dikutip dari greeners.co, Burung Kuau Raja ini membuat sarang di daratan yang rindang untuk memudahkan pencarian makanan seperti semut, hewan siput hingga biji-bijian yang mudah dijangkau.

Selain itu Kuau Raja juga memiliki ciri khusus lain seperti bulu berwarna cokelat kemerahan dan kulit kepala bercorak biru. Burung eksotis asal Sumatera ini memiliki bobot hingga 10 kilogram dengan panjang mencapai 200 cm pada Kuau Raja jantan dewasa.

Untuk Kuau Raja betina dewasa mereka memiliki ciri bulu sekunder di sayap dengan ukuran yang pendek. Serta memiliki motif bulu yang tidak terlalu bervariasi dibandingkan dengan burung jantan.

3 dari 6 halaman

Menjadi Maskot

burung kuau raja
Wikipedia ©2020 Merdeka.com

Menjadi unggas eksotis, Burung Kuau Raja digunakan menjadi maskot. Seperti ikon fauna dari Sumatera Barat bersamaan dengan pohon andalas yang juga menjadi maskot fauna di wilayah tersebut.

Penetapan tersebut berdasarkan Keputusan dari Menteri Dalam Negeri, nomor 48 tahun 1989 yang berisi tentang Pedoman Penetapan Identitas Flora dan di Fauna Daerah.

Kemudian Kuau raja jantan pun sempat diabadikan dalam perangko seri "Burung Indonesia: Pusaka Hutan Sumatra" pada 15 Juli 2009. Selain itu dijadikan juga maskot Hari Pers Nasional 2018 yang saat itu digelar di Padang, Sumbar, 8 Februari 2018.

Bahkan di buku karya Charles Darwin yang berjudul The Descent of Man (1874), sang illustrator gambar TW Wood menggambarkan Burung Kuau Raja saat sedang mengepakkan kipas raksasanya.

4 dari 6 halaman

Dianggap Bisa Mendeteksi Gempa Bumi

burung kuau raja
Pinterest/mboonyong ©2020 Merdeka.com

Sementara itu dikutip dari Antara, pada 2017 lalu Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Sumatera Barat, Yelflin Luandri, menyebutkan jika Kuau Raja bisa memprediksi terjadinya gempa bahkan tsunami.

Hal tersebut juga tertulis dalam buku Ensiklopedia Hewan Asli Indonesia Yang Punah. Disebutkan jika Kuau Raja bisa mengetahui akan terjadinya gempa besar yang akan terjadi dua hari kemudian.

Kendati tidak ada penelitian lanjutan akan hal ini, namun pada kedua sumber tersebut menyebutkan jika hewan tersebut memiliki insting. Peka saat merasakan gempa kecil sebelum munculnya bencana gempa besar. Sehingga unggas tersebut akan menunjukkannya dengan perilaku yang tidak biasa.

5 dari 6 halaman

Hampir Punah

burung kuau raja
Wikipedia ©2020 Merdeka.com

Belakangan diketahui jika Kuau Raja saat ini sudah mulai jarang ditemukan. Salah satu penyebab jarangnya hewan yang bersuara "ku-wau" setiap 15-30 detik ini adalah karena mereka merupakan hewan dengan sensitivitas tinggi saat terdapat aktivitas asing seperti perusakan hutan.

Bahkan Kepala Seksi Konservasi Wilayah II Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumbar Eka Damayanti menyebutkan jika di Sumatera Barat banyak aksi perburuan liar yang mengambil daging dan bulunya yang indah secara tak terkendali.

Untuk mencegah hal itu BKSDA Sumbar mulai melakukan penanganan serius, dengan melakukan pendataan sejak pertengahan 2018. Selain itu pihaknya juga menerbitkan payung hukum melalui Peraturan Pemerintah nomor 7 tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa.

6 dari 6 halaman

Kepedulian Organisasi Burung Internasional

Upaya perlindungan Kuau Raja juga digalakkan oleh organisasi burung internasional International Ornithologists Union, yang merupakan sebuah wadah berisi para peneliti burung (ornithologist) yang memasukkan Kuau Raja dalam daftar burung harus dilindungi.

Senada dengan itu, pada 26 November 2013 lembaga konservasi dunia International Union for Conservation of Nature (IUCN) mengeluarkan red list yang memasukkan kuau raja dalam Appendix II CITES dengan status Near Threatened atau mendekati nyaris punah seperti yang dilansir dari indonesia.go.id.

[nrd]
Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini