Indonesia terdiri dari beragam suku dengan prinsip dan keyakinan masing-masing. Suku Nias di Sumatra Utara memiliki kepercayaan sendiri yang disebut Fanömba Adu.
Kepercayaan ini merujuk kepada dewa pencipta, dewa atas dan dewa bawah semesta alam, hingga kekuatan roh halus.
Penamaan Fanömba Adu sendiri merujuk pada suatu ritual yang awalnya hanya berupa pemujaan terhadap benda-benda mati berupa patung. Kepercayaan ini lantas berkembang hingga berubah menjadi sebuah keyakinan bagi warga Suku Nias.
Patung yang menjadi media ritual tersebut memang dipercaya ditempati oleh roh-roh para leluhur. Selain itu, patung-patung tadi juga disimbolkan sebagai ksatria, pemburu andal, atau orang yang memiliki kekuatan.
Advertisement
Dilansir dari situs nusantarainstitute.com, akar dari Fanömba Adu sendiri adalah prinsip dan pedoman hidup masyarakat Suku nias yang masih kental dengan adat istiadat warisan leluhur mereka.
Banyak contoh yang bisa menggambarkan kepercayaan mereka terhadap nenek moyang. Salah satunya adalah adanya kitab hukum adat yang diberdayakan oleh bangsawan, hingga relief rumah adat mereka yang masih berkaitan dengan unsur Fanömba Adu.
Begitu juga dengan tradisi meletakkan jenazah di bagian rumah, prosesi ini masih termasuk dalam nilai-nilai Fanömba Adu. Meski sudah banyak yang beragama Katolik atau Kristen, namun masyarakat Nias masih terus menjalankan tradisi tersebut.
Advertisement
Dalam kepercayaan Fanömba Adu, masyarakat Nias mengenal dewa pertama yang bernama Lowalangi. Dewa ini dianggap sebagai yang terpenting dari dewa-dewa lainnya.
Lowalangi dianggap sebagai dewa penguasa dunia atas atau sang pencipta (Tuhan). Dewa ini memiliki wewenang untuk menjatuhkan hukuman kepada orang yang berbuat jahat. Kini, istilah Lowalangi digunakan sebagai penyebutan "Allah" bagi ajaran Kristiani di Nias.
Selain dewa, roh juga memiliki kedudukan penting dalam Fanömba Adu. Para penganutnya pun mengenal berbagai macam jenis roh mulai dari jelmaan dari orang yang sudah meninggal dunia atau dikenal berdasarkan apa yang dialami seseorang selama hidupnya.
Advertisement
Advertisement
Sama seperti agama atau kepercayaan yang kita kenal saat ini, Fanömba Adu juga mengenal ajaran adanya kehidupan setelah kematian. Mereka menyebutnya dengan Teteholi Ana'a atau dunia roh.
Seseorang harus berjalan menyeberangi jembatan yang dijaga ketat oleh seorang dewa. Tepat di bawah jembatan tersebut terdapat neraka dan hanya orang-orang baik yang bisa melewati jembatan tersebut dan masuk ke Teteholi Ana'a.
Para leluhur Suku Nias memiliki petuah hidup yang sudah menjadi pedoman para penganutnya. Bahkan, sampai sekarang petuah leluhur menjadi prinsip dan pedoman hidup masyarakat Nias.