Contoh Cerita Rakyat, Lengkap dengan Pengertian dan Jenisnya
Merdeka.com - Indonesia memiliki beragam cerita rakyat yang mengisahkan legenda-legenda di masa lalu. Kisah tersebut menceritakan berbagai jenis kehidupan dari mulai rakyat biasa, anggota kerajaan, hingga kehidupan hewan.
Meski seringkali diragukan keabsahannya, cerita rakyat masih sering diceritakan secara turun-temurun sebagai dongeng pengantar tidur. Ceritanya yang menarik dan penuh dengan pesan moral membuat cerita rakyat masih digemari dan hidup.
Berikut merdeka.com merangkum contoh cerita rakyat yang ada di Indonesia:
Pengertian Cerita Rakyat dan Jenisnya
Menurut Isnain (2007), cerita rakyat dapat diartikan sebagai ekspresi budaya suatu masyarakat lewat bahasa tutur yang berhubungan langsung dengan berbagai aspek budaya seperti agama dan kepercayaan, undang-undang kegiatan ekonomi sistem kekeluargaan, dan susunan nilai sosial masyarakat tersebut.
Ada sangat banyak sekali kategori daripada cerita rakyat. Namun, pada dasarnya, cerita rakyat dapat dibagi menjadi tiga golongan besar di antaranya: Mite (myth), legenda (legend), dan dongeng (folktale).
Contoh Cerita Rakyat Nusantara
Purbasari yang Berhati Mulia dan Purbararang yang Dengki
Contoh cerita rakyat berikut adalah cerita yang berasal dari Jawa Barat. Cerita Purbasari yang Berhati Mulia dan Purbararang yang Dengki dikutip dari laman PPID Kota Bandung:
Di tanah Pasundan (Jawa Barat), hidup seorang raja bernama Prabu Tapa Agung. Sang raja mempunyai dua orang putri bernama Purbararang dan adiknya, Purbasari. Suatu hari, raja memutuskan untuk menunjuk Purbasari menjadi ratu.
Keputusan itu membuat Purbararang marah. “Aku kan putri sulung, seharusnya ayah memilihku sebagai ratu,” gerutu Purbararang.
Muncul rasa dengki dalam hati Purbararang. la berniat mencelakakan Purbasari. la pun pergi menemui seorang penyihir. Penyihir itu memantrai Purbasari sehingga wajah dan sekujur tubuhnya memiliki bintik-bintik hitam.
“Orang yang dikutuk seperti dia tidak pantas jadi ratu!” ujar Purbararang kepada ayahnya. Raja akhirnya terpaksa mengusir Purbasari dari istana ke dalam hutan belantara.
Selama hidup di hutan, Purbasari berteman dengan hewan. Di antara hewan tersebut, ada seekor kera berbulu hitam yang misterius. Purbasari menamai kera itu, Lutung Kasarung.
Lutung Kasarung dengan setia menghibur Purbasari setiap hari. la mengambilkan bunga-bunga yang indah dan buah-buahan yang lezat untuk Purbasari.
Suatu malam saat bulan purnama, Lutung Kasarung menyuruh Purbasari untuk mandi di telaga. Purbasari menuruti perintah Lutung Kasarung. Saat ia mandi, sesuatu terjadi. Kulitnya menjadi bersih seperti semula. Purbasari sangat terkejut dan gembira ketika berkaca melihat dirinya di telaga.
Sementara itu di istana, Purbararang memutuskan untuk melihat kondisi adiknya di hutan bersama para pengawal. Purbararang tak percaya melihat adiknya kembali seperti semula. Purbararang pun marah.
la berkata dengan sombong, “Kutukanmu memang telah punah. Tapi, seorang ratu harus mempunyai suami yang tampan. Calon suamiku sangat tampan. Mana calon suamimu?”
Purbasari kebingungan. Akhirnya, ia menarik tangan Lutung Kasarung. Purbararang tertawa terbahak-bahak, “Jadi, monyet itu tunanganmu? Mana ada ratu punya suami seekor monyet?”
Pada saat itu juga, Lutung Kasarung bersemedi. Tiba-tiba, terjadi suatu keajaiban. Lutung Kasarung berubah menjadi seorang pangeran yang berwajah sangat tampan.
Semua terkejut melihat kejadian itu. Purbararang akhirnya mengakui kesalahannya selama ini. la memohon maaf kepada adiknya dan memohon agar tidak dihukum.
Purbasari yang baik hati memaafkan kakaknya. Setelah kejadian itu, mereka semua kembali ke istana. Purbasari menjadi seorang ratu yang didampingi oleh seorang pangeran tampan.
Pesan moral dari Cerpen Rakyat Nusantara adalah jadilah anak yang baik hati. Anak yang baik hati selalu dilindungi oleh Tuhan dan doa-doanya akan selalu dikabulkan. Jangan jadi anak yang dengki dan suka mencelakai orang lain. Sebab, Tuhan benci anak yang dengki.
Contoh Cerita Rakyat Nusantara
Legenda Batu Batangkup
Legenda Batu Batangkup menceritakan kisah seorang janda bernama Mak Minah yang hidup bersama ketiga anaknya yang nakal, pemalas, dan jarang mendengar ucapan orang tuanya. Mak Minah selalu menyiapkan makanan dan mencari uang untuk biaya hidup sehari-hari.
Ia melakukan semua pekerjaannya sendiri tanpa dibantu anak-anaknya. Suatu ketika, Mak Minah sedang sakit dan badannya lemas.
Ia meminta tolong ketiga anaknya untuk memasak, tetapi ketiga anaknya tetap saja tidak mau mendengarkan ibunya. Esoknya, Mak Minah pergi ke tepian sungai dekat gubuknya dan menemukan batu yang bisa berbicara dengan manusia dan dapat membuka dan menutup seperti kerang.
Merasa lelah dengan ketiga anaknya yang nakal dan pemalas, Mak Minah pun meminta batu tersebut untuk menelannya. Rekomendasi cerita rakyat yang satu ini mengandung nilai-nilai moral bahwa seorang anak janganlah memiliki sifat pemalas, nakal, dan suka membantah nasihat orangtua.
Naga Rawa Pening
Zaman dahulu, di sebuah desa yang bernama Desa Ngasem, hiduplah seorang wanita yang bernama Endang. Wanita tersebut sedang hamil, namun ia sangat sedih karena bukan seorang bayi yang ia dilahirkan melainkan seekor naga.
Naga itu kemudian diberi nama Baru Klinting. Ia dapat berbicara layaknya seperti manusia biasa. Suatu hari, Baru bertanya kepada ibunya mengenai ayahnya.
Sang ibu pun akhirnya menceritakan kejadian yang sebenarnya dan memberikan klinting milik ayahnya sebagai bukti bahwa ia mempunyai ayah. Lantas, ia pun bergegas untuk menemui ayahnya yang sedang bertapa di dalam goa.
Setelah bertemu dengan ayahnya, malah ayahnya tidak percaya bahwa naga tersebut adalah anaknya. Lalu ia menunjukkan klinting yang diberikan oleh ibunya. Tetapi, ayahnya masih menginginkan dia untuk melakukan sesuatu.
Ia kemudian diminta untuk melingkari gunung tersebut, akhirnya Baru klinting melakukan apa yang ayahnya katakan. Akhirnya sang ayah pun percaya bahwa dia adalah anaknya.
Suatu hari, ada warga desa yang sedang mencari hewan untuk dijadikan santapan saat pestanya. Namun, warga desa tak kunjung menemukannya. Akhirnya mereka memutuskan untuk menangkap Baru Klinting yang sedang bertapa untuk dijadikan sebagai santapan mereka.
Arwah Baru menjelma menjadi seorang anak kecil yang sangat dekil. Kemudian ia mencoba untuk mendatangi pesta tersebut dan meminta makanan, namun mereka malah mengusirnya.
Lalu, ia bertemu dengan seorang nenek tua yang sangat baik hati. Nenek tersebut langsung memberinya makanan. Ia berpesan kepada nenek tersebut apabila mendengar suara gemuruh, nenek harus menyiapkan lesung.
Setelah itu, ia kembali lagi ke acara pesta tersebut dan Ia menantang para warga untuk mencabut pedang yang sudah ia tancapkan. Namun, tak seorang pun yang bisa mencabut pedang tersebut.
Akhirnya, ia cabut sendiri pedang itu dan muncullah air yang semakin lama menggenangi desa tersebut. Semua warga ikut tenggelam, namun tidak dengan nenek yang telah menolongnya. Itulah asal mula dari munculnya Rawa Pening.
Malin Kundang
Malin Kundang juga menjadi salah satu rekomendasi cerita rakyat anak Indonesia klasik yang dapat menjadi referensi bacaan bersama Si Kecil. Malin Kundang merupakan anak dari seorang janda bernama Mande Rubayah.
Malin merupakan anak yang rajin dan penurut. Namun suatu ketika, Malin meminta izin sang ibu untuk pergi ke kota.
Awalnya, sang ibu tidak mengizinkan Malin, tetapi karena Malin ingin mengubah nasib menjadi lebih baik, ibu Mande akhirnya mengizinkan. Setelah bertahun-tahun lamanya merantau, Malin pun berhasil menjadi pria sukses dan kaya raya.
Bersama istrinya, Malin mengunjungi tempat tinggal sang ibu, tetapi ia tidak mengakui keberadaan ibunya di depan istrinya yang telah meludahi Mande. Malin pun dikutuk oleh Ibu Mande menjadi batu.
Cerita rakyat ini mengajarkan bahwa seorang anak jangan pernah menjadi anak durhaka dengan melupakan sang ibu meskipun sudah menjadi sosok yang sukses.
(mdk/amd)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya