Cuaca yang sangat panas di Thailand ternyata menyebabkan beberapa pembalap MotoGP mengalami luka bakar, khususnya di area kaki mereka. Hal ini diungkapkan oleh para pembalap setelah menyelesaikan 26 lap dalam balapan Grand Prix di Sirkuit Buriram pada hari Minggu (2/3/2025). Kondisi cuaca yang terik ini benar-benar menguji ketahanan para pembalap, terutama sejak hari Sabtu, saat sesi kualifikasi dan balapan Sprint berlangsung.
Dalam balapan Sprint, Fabio di Giannantonio bahkan menyatakan bahwa ia terpaksa kembali ke garasi di tengah balapan karena mengalami luka bakar di tangan, kaki, dan lehernya, meskipun durasi balapan tersebut lebih singkat.
'Diggia' akhirnya berhasil menyelesaikan balapan hingga garis finis pada hari Minggu, tetapi ia harus menggunakan sistem pendingin di beberapa bagian baju balapnya. Sementara itu, beberapa pembalap lainnya tidak memiliki sistem pendingin yang sama dan juga mengalami luka bakar di berbagai bagian tubuh mereka. Siapa saja pembalap yang mengalami masalah ini? Mari kita simak ulasannya lebih lanjut.
Advertisement
Jack Miller dari tim Prima Pramac Racing
Jack Miller mengalami luka bakar di bagian paha dan lengannya akibat suhu yang tinggi, serta karena fairing motor YZR-M1 yang hampir lepas. Kondisi fairing yang tidak terpasang dengan baik ini menyebabkan panas dari mesin motor tidak terbuang ke belakang, melainkan justru mengarah ke tubuh Miller.
Dia mengungkapkan, "Saya mengalami sedikit masalah dengan fairing, saat itulah saya kehilangan kontak dengan grup depan. Salah satu klipnya terlepas, dan seluruh fairing mulai longgar... Selain itu, saya kepanasan karena semua udara panas langsung mengarah ke saya, bukan keluar dari bagian belakang motor. Itu bikin balapan yang sudah panas jadi makin panas," ujarnya melalui Crash.net. Pengalaman tersebut menunjukkan betapa pentingnya komponen motor dalam menjaga kenyamanan dan keselamatan pembalap saat berlaga di lintasan.
Advertisement
Alex Rins dari tim Monster Energy Yamaha
Alex Rins mengungkapkan bahwa ia tidak dapat menahan rasa panas yang menyengat mulai dari Lap 7 pada balapan utama yang berlangsung pada hari Minggu. Ia menjelaskan bahwa balapan kali ini sangat menguras tenaga para pembalap, karena mereka harus menghadapi suhu tinggi yang berasal tidak hanya dari cuaca, tetapi juga dari mesin motor mereka sendiri.
Rins menyatakan, "Kaki saya benar-benar 'hancur', sepenuhnya terbakar. Bahkan saat Sprint (pada Sabtu), saya sudah sedikit merasakan panasnya, tetapi sejak Lap 7 hari ini, saya benar-benar tidak bisa menahannya. Saat memasuki trek lurus belakang, saya hampir mengeluarkan kaki dari motor untuk menghindari rasa terbakar ini," ungkapnya melalui Crash.net. Ia juga menambahkan, "Kondisi cuaca sedikit lebih baik dibanding kemarin. Langit lebih berawan dan suhu sedikit lebih rendah. Namun, tentu saja, lap demi lap, mesin 1000cc membuat kami makin merasakan panasnya. Hari ini benar-benar kondisi yang ekstrem, begitu juga kemarin."
Advertisement
Joan Mir dari tim Honda HRC Castrol
Mulai dari posisi ke-11, Joan Mir sebenarnya memiliki potensi untuk bersaing di antara tujuh besar, bahkan berusaha keras untuk mengejar Jack Miller yang berada di posisi keenam. Namun, pada Lap 15, juara dunia Moto3 2017 dan MotoGP 2020 ini mengalami insiden di Tikungan 12 yang mengakibatkan ia tidak dapat menyelesaikan balapan.
Mir mengungkapkan bahwa motor RC213V yang ia kendarai mengalami masalah overheating. "Kami mengalami kendala overheating, jadi kami harus mengatasinya pada masa mendatang. Kami melakukan beberapa perubahan, tetapi perubahan-perubahan ini membuat situasi lebih buruk daripada Sabtu," ungkap Mir kepada GPOne. Ia juga menambahkan, "Hari ini saya benar-benar ambil risiko kaki terbakar. Sulit rasanya bertahan di atas motor. Sepanjang karier saya, saya tak pernah mengalami hal macam ini. Kecelakaan saya terjadi karena saya merasa kebakaran dan saya melakukan kesalahan," lanjutnya. Hal ini menunjukkan betapa seriusnya masalah yang dihadapi Mir saat balapan.
Advertisement
Fabio Quartararo dari tim Monster Energy Yamaha
Fabio Quartararo memulai balapan dari posisi ke-10, namun langsung terjatuh ke posisi ke-18 pada lap pertama akibat kesalahan saat start. Sejak saat itu, ia berjuang keras untuk memperbaiki posisinya, tetapi usaha tersebut ternyata tidak mudah. Pada akhirnya, ia hanya mampu finis di posisi ke-15. Sama halnya dengan rekan setimnya, Rins, 'El Diablo' juga mengalami masalah dengan luka bakar di kakinya. "Usai masuk garis finis, kaki kiri saya terbakar. Ini kondisi yang ekstrem. Anda tidak sering menemui kondisi sepanas itu," ungkap Quartararo. Ia menambahkan, "Mungkin jika lapnya lebih sedikit, balapannya bakal jauh lebih buruk, tetapi bagi para pembalap, kami sudah mencapai limit."
Quartararo juga mengungkapkan keraguan mengenai balapan di sirkuit tersebut di masa depan. "Jujur, saya tak tahu apakah kami akan kembali ke sini pada 2026 pada bulan yang sama," ujarnya kepada media. Ia mencatat bahwa saat tes pramusim, suhu cuaca lebih baik, yaitu 4-5 derajat lebih rendah. "Apakah kami sudah bicara di rapat Safety Commission untuk memperpendek balapannya? Tidak, karena masalah ini baru muncul pada Sabtu siang," jelasnya. Quartararo menambahkan, "Saya sendiri bakal setuju jika balapan dengan lap yang lebih sedikit," menunjukkan keprihatinannya terhadap kondisi ekstrem yang dialaminya dan rekan-rekannya di lintasan.
Sumber: Crashnet, GPOne