CEO PT Liga Indonesia Baru, Risha Adi Wijaya mengungkap alasan mengapa teknologi video assistant referee (VAR) belum digunakan Indonesia. Menurutnya, penggunaan teknologi tersebut membutuhkan biaya besar dan prosesnya yang rumit.VAR adalah asisten wasit sepakbola yang bertugas meninjau keputusan wasit kepala dengan melihat rekaman video instan. Fungsi utama VAR adalah untuk membantu wasit membuat keputusan.Risha mengatakan rencana menggunakan teknologi VAR sudah tercetus sejak lama. Namun, ada beberapa aspek yang menjadi pertimbangan."Alat bantu tentunya harus dikordinasikan juga dengan PSSI. Kalau kita bicara yang namanya VAR, itu prosesnya cukup panjang. Itu kemungkinan butuh waktu beberapa bulan, dan walaupun digunakan mungkin baru bisa dilaksanakan pada tahun 2019, karena dari sisi teknis VAR itu harus terkoneksi dengan kamera di stadion," ujar Risha saat ditemui Bola.net di Kantor LIB, Menara Mandiri, Jakarta Selatan, Kamis (5/4)."Lalu harus ada tim yang memantau pertandingan tersebut dalam bentuk mobile di masing-masih klub. Nah tim yang memantau itu akan menginformasikan setiap ada pelanggaran, gol, atau offside kepada wasit. Begitu pun wasit, wasit harus dibiasakan dengan menggunakan VAR, dan itu semua perlu biaya yang cukup besar," tambahnya.
Risha pun mengaku sudah pernah menyampaikan hal ini kepada PSSI. Tapi sekali lagi, tak mudah untuk menerapkan teknologi VAR dalam waktu dekat. Selain faktot ongkos, PSSI masih belum menyepakati soal VAR juga karena masih terbatasnya akses siaran langsung pada setiap pertandingan."Contohnya, Perseru Serui yang notabennya dari sisi tranportasi untuk mengangkat peralatan broadcast tidak mudah. Kalau semua pertandingan sudah live broadcasr kemungkinan untuk menggunakan VAR itu lebih gampang," tutupnya. (fit/asa)