Bemain imbang tanpa gol di babak pertama dan kedua. Bermain imbang di babak tambahan, kemudian berharap untuk adu penalti. Dalam adu penalti Lionel Messi menjadi penendang terakhir bagi Argentina dan keluar sebagai pahlawan, setelah sebelumnya penendang terakhir dari Jerman melambung tinggi ke atas gawang, atau justru ditepis.
Mungkin juga peluang emas Messi di menit 46 yang berhasil lolos dari jebakan offsides dan tinggal berhadapan satu lawan satu dengan Manuel Neuer bisa berbuah manis.
Sayangnya dua cerita tersebut hanya sebuah impian rakyat pendukung Albiceleste di Final Piala Dunia 2014, dan Messi gagal mengkudeta Diego Armando Maradona sebagai Tuhan sepak bola Argentina yang baru.
Ia berangkat ke Barcelona saat berusia 13 tahun untuk melakukan sebuah perawatan hormon demi pertumbuhan dirinya. Badannya terlalu kecil, apalagi bila dibandingkan dengan Gerard Pique. Saat itu ukuran tubuhnya hanya sekitar lima sampai tujuh kaki, sehingga dijuluki Flea.
Namun itu dulu, kini Lionel Messi dirinya tumbuh menjadi manusia sepak bola yang hampir sempurna, kalau saja kemarin ia dan rekan-rekannya mampu mempersembahkan juara dunia untuk ketiga kalinya bagi negara yang menganggap sepak bola adalah sebuah agama, Argentina.
Empat kali, Messi dinobatkan sebagai pemain terbaik dunia. Dia telah memenangkan tiga kejuaraan Eropa bersama Barcelona. Beberapa menganggapnya sebagai pemain terbesar sepanjang masa. Semakin berat beban emosional Messi ketika ia gagal melakukan seperti apa yang dilakukan Maradona lakukan di tahun 1986.
"Messi adalah St Peter, tapi Maradona adalah Tuhan," kata Mariano Capretti, yang keluarganya memiliki sebuah pabrik pakaian di Buenos Aires.
Tidak adil rasanya bila membandingkan Mardona dan Messi. Dari era-nya saja kedua pemain setidaknya berjarak sekitar 20 tahun. Bagi penikmat di era Maradona, tentu akan menganggap Maradona lebih hebat, begitu juga sebaliknya.
Di mata sebagian orang, khususnya kaum muda di Argentina, yang belum lahir ketika Maradona dalam kemuliaan-Nya, Messi telah menjadi sosok yang dihormati.
"Messi empat kali pemain terbaik dunia tahun ini. Jika Messi memenangkan Piala Dunia, ia akan menjadi pemain terbaik sepanjang masa. Maradona terkenal di seluruh dunia, tetapi beberapa orang tidak menyukainya. Saya tidak tahu siapa saja yang tidak suka Messi." kata Ivan Ramadhan, pemuda asal Argentina seperti dikutip dari nytimes.com
Kemudian masih banyak hal yang harus dikaji lebih dalam untuk membandingkan apple to apple antara Maradona dan Messi. Misalnya, torehan gelar, torehan gol atau soal kehidupan kedua pemain misalnya.
Atau juga bagaimana pengaruhnya antara kedua pemain dalam sebuah tim. Pelatih Alejandro Sabella pernah menyebutkan kalau "Messi bagai air di padang pasir."
Atau juga gelandang Argentina, Javier Mascherano yang bilang kalau "Dia memberi kita ilusi, membuat kita percaya bahwa kita bisa menjadi juara. Dia dari luar angkasa."
Di luar itu semua perdebatan panjang tentang siapa lebih hebat antara sang senior dan si junior tidaklah habis dalam satu malam. Semuanya tergantung Anda melihat dari kacamata mana.