Manajemen Persis Solo menanggapi dingin sanksi yang diberikan oleh Badan Olahraga Profesional Indonesia (BOPI). Sanksi BOPI yang meminta agar Persis Solo tidak boleh mengikuti kompetisi di Indonesia dianggapnya angin lalu.Pengurus Persis Solo, Paulus Haryoto mengatakan, sanksi yang dijatuhkan BOPI dinilainya tidak tepat. Paulus berdalih keluarga besar Persis Solo dari jajaran pengurus, eks pemain maupun suporter sedang dalam kondisi berkabung atas meninggalnya Diego Mendieta. Menurutnya, BOPI memberikan sanksi kepada PSSI. Sebab, Persis hanya terkena imbas perpecahan di tubuh PSSI. "Dualisme di PSSI yang membuat Persis dan klub - klub lain menjadi korban," ujar Paulus kepada merdeka.com, Kamis (6/12) di Solo, Jawa Tengah.Paulus adalah anggota DPRD yang juga Anggota Bidang Umum Pengurus Cabang PSSI Solo. Dia justru kembali menanyakan alasan BOPI saat menjatuhkan sanksi pada Persis.Jika alasannya hanya soal keterlambatan gaji, alasan tersebut kurang bijak karena klub lain juga mempunyai masalah yang sama. Paulus juga meminta BOPI memberikan kesempatan kepada Persis untuk menyampaikan penyebab kematian Diego."Yang berhak memberikan sanksi pada Persis seharusnya ya PSSI, bukan BOPI. Dasar mereka memberi sanksi apa," katanya. Selain kepada BOPI, Persis juga meminta PSSI agar tidak buru - buru memberikan sanksi. Pihaknya berjanji akan melakukan evaluasi, agar kejadian tersebut tidak terulang kembali di masa mendatang.Meski telah dikabarkan mendapatkan sanksi dari BOPI, Paulus mengaku hingga saat ini belum menerima surat resmi dari yang bersangkutan.Sebelumnya, kasus meninggalnya eks pemain Persis Solo versi PT Liga Indonesia Diego Mendieta mendapatkan kecaman dari berbagai pihak. Badan Olahraga Profesional Indonesia (BOPI) bahkan dalam waktu dekat akan memberikan sanksi berupa larangan klub kebanggaan wong Solo tersebut bermain dalam kompetisi profesional apapun di Tanah Air selama satu musim.