Tak Hanya Pada Ibu, Depresi Pasca Melahirkan Juga Terjadi di Ayah

Rabu, 12 Desember 2018 08:14 Reporter : Rizky Wahyu Permana
Tak Hanya Pada Ibu, Depresi Pasca Melahirkan Juga Terjadi di Ayah Ilustrasi depresi. ©Alamy

Merdeka.com - Pasca melahirkan, depresi kerap kali dialami wanita karena berbagai hal seperti hormon serta berbagai hal yang menyebabkan mereka kesulitan. Namun ternyata depresi pasca melahirkan ini tak hanya dialami oleh wanita saja namun juga pada suami mereka walaupun tidak ada perubahan dari segi fisik.

Dilansir dari The Guardian, sebuah penelitian yang dilakukan di Swedia selama 10 tahun ke belakang menemukan bahwa terdapat banyak pria yang mengalami kesulitan ketika bertansisi menjadi ayah. Penelitian ini sendiri coba untuk melihat apakah gejala depresi pasca melahirkan pada pria ini benar terjadi.

Dari 447 ayah di Swedia yang menjadi responden penelitian tersebut, diketahui bahwa sebanyak 28 persen mengalami angka tingkat depresi di atas rata-rata. Secara umum, sebanyak empat persen mengalami depresi tingkat menengah. Kurang dari seperlima ayah yang mengalami depresi tersebut mencoba mencari pertolongan mengenai kondisi yang mereka alami.

Penulis utama dari penelitian tersebut, Elisa Psouni dari Departemen Psikologi Universitas Lund menyebut bahwa Edinburgh Postnatal Depression Scale (EPDS) yang digunakan pada pria dan wanita tak dapat secara akurat menangkap depresi yang dialami oleh ayah. Hasil penelitianya menunjukkan tingkat depresi yang lebih tinggi pada ayah karena memasukkan beberapa gejala depresi umum pada pria seperti kemarahan, mudah tersinggung, mudah terhasut, bekerja lebih lama dan lebih banyak minum.

Depresi pada ayah ini ditengarai ternyata karena sebagai seorang ayah yang masih baru mereka mengalami kesulitan menyesuaikan diri. Psoumi percaya bahwa ayah mengalami masalah yang sama dengan ibu seperti mencoba menyesuaikan diri untuk mengasuh anak sambil bekerja.

Ayah yang mengalami depresi ini juga umumnya menghadapi tekanan dari luar seperti masalah pekerjaan, selain itu ketika pasangan mereka mengalami depresi, maka gejala depresi yang mereka alami juga berlipat. Kurang tidur, memiliki anak kembar dan perselisihan yang terjadi antara suami istri juga dapat berpengaruh pada terjadinya hal ini.

Ayah yang depresi cenderung untuk lebih sedikit bermain dan tertawa ketika bersama anak mereka. Depresi ini kemudian juga dapat berpengaruh pada anak yang berdasar sebuah penelitian menyebut bahwa pada usia tujuh tahun, anak tersebut bakal mengalami masalah untuk dapat berperilaku dengan baik.

Untuk menangani masalah ini, terapi kognitif dapat dilakukan atau juga dengan konsumsi antidepresan. Psouni sendiri mengatakan bahwa jika ada tanda-tanda dari depresi ini maka harus segera dilakukan penanganan karena efek jangka panjangnya bisa berbahaya.

"Salah satu hal yang paling buruk adalah ketika depresi ini baru disadari setahun setelah terjadi sehingga setahun pertama dari kehidupan anak berlalu begitu saja," terangnya. [RWP]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini