Gangguan mental, depresi dan kecemasan menjadi salah satu isu kesehatan global yang sering disorot. Terlebih kondisinya meningkat pascapandemi.
Kondisi tersebut mengacu pada data World Health Organization (WHO) di 2022. Tercatat satu dari delapan orang di dunia hidup dengan gangguan mental, sementara angka depresi dan kecemasan meningkat hingga 25 persen pascapandemi.
Untuk di Indonesia, Riskesdas Kemenkes mencatat prevalensi gangguan mental emosional mencapai 9,8 persen, dan lebih dari 60 persen kasus tidak terdeteksi akibat minimnya pemahaman gejala awal serta stigma masyarakat.
Menyadari pentingnya isu ini, Direktur RS Puri Cinere, dr Putri Nadia, menegaskan komitmennya untuk menghadirkan layanan.
Pihaknya menghadirkan layanan yang tidak hanya bersifat kuratif, tetapi juga promotif dan preventif, termasuk pada isu kesehatan mental. Termasuk melalui edukasi dengan menggandeng komunitas hingga keluarga pasien.
“Edukasi mental health adalah bagian penting dari misi kami sebagai rumah sakit komunitas dan rujukan. Dengan meningkatnya kasus gangguan mental di masyarakat, deteksi dini dan pemahaman gejala awal menjadi kunci untuk mencegah kondisi berkembang lebih parah,” ujar dr Nadia dalam keterangannya, Sabtu (6/7).
Dokter Nadia juga mengajak masyarakat untuk melakukan pemeriksaan kondisi mental secara berkala. RS Puri Cinere juga menyediakan akses layanan profesional yang aman, nyaman, dan terpercaya.
Sementara itu, Psikolog Tri Iswardani Sadatun, menegaskan, deteksi dini merupakan langkah pertama menuju pemulihan. Sebab Banyak kasus gangguan mental yang memburuk karena tidak dikenali sejak awal.
"Dengan edukasi yang tepat, masyarakat dapat lebih cepat mengambil tindakan dan mendapatkan bantuan yang sesuai," jelas Tri Iswardani.