Ketahui Apa Itu Sharenting, Kebiasaan Orang Tua Berbagi Mengenai Anak di Media Sosial: Seberapa Batas Amannya?

Orangtua kerap terlalu banyak membagikan informasi anaknya di media sosial. Sebenarnya seberapa aman batasan membagikan informasi ini?

Rizky Wahyu Permana
Oleh Rizky Wahyu Permana - Reporter
Ketahui Apa Itu Sharenting, Kebiasaan Orang Tua Berbagi Mengenai Anak di Media Sosial: Seberapa Batas Amannya?
Ilustrasi Anak Tersenyum (Bing Image Creator)

Di era digital ini, menjadi orang tua bukanlah tugas yang mudah. Media sosial, ponsel pintar, dan teknologi lainnya berkembang dengan kecepatan yang sering kali melebihi pemahaman kita, bahkan ketika niat kita adalah yang terbaik. Salah satu fenomena yang muncul akibat perkembangan ini adalah sharenting, yaitu kebiasaan orang tua membagikan foto, video, atau cerita tentang anak mereka di media sosial.

Meskipun tampaknya tak berbahaya, sharenting menyimpan risiko yang perlu dipahami oleh para orang tua. Dilansir dari UNICEF, Stacey Steinberg, seorang pakar di bidang hukum anak, memberikan panduan penting untuk melindungi privasi anak di dunia digital sekaligus membangun kesadaran tentang batas aman dalam berbagi.

Apa Itu Sharenting?

Sharenting didefinisikan oleh Steinberg sebagai tindakan orang tua membagikan hal-hal tentang anak mereka di luar lingkup keluarga. Ini bisa berupa unggahan foto di media sosial, tulisan di blog, atau video yang dikirim melalui platform pesan seperti WhatsApp.

Menurut Steinberg, "Ketika kita membagikan sesuatu tentang anak kita secara online tanpa melibatkan mereka dalam proses pengambilan keputusan, kita kehilangan kesempatan berharga untuk mengajarkan dan mencontohkan kepada anak pentingnya konsep persetujuan."

Ilustrasi Anak Tersenyum
Ilustrasi Anak Tersenyum Bing Image Creator

Mengapa Sharenting Perlu Dipertimbangkan dengan Hati-Hati?

Ada dua aspek utama yang perlu dipertimbangkan oleh orang tua sebelum membagikan konten tentang anak mereka secara daring:

1. Risiko Nyata terhadap Anak

Membagikan informasi pribadi anak secara online dapat menimbulkan berbagai risiko nyata, seperti:

Eksploitasi oleh orang jahat: Ada orang-orang yang mungkin memanfaatkan konten yang mereka temukan untuk tujuan yang tidak baik.

Pengumpulan data oleh pihak ketiga: Di beberapa negara, broker data dapat menciptakan profil digital anak berdasarkan informasi yang dibagikan, termasuk prediksi tentang perilaku atau masalah kesehatan di masa depan.

Penyalahgunaan gambar: Gambar anak dapat disalahgunakan untuk tujuan tidak pantas atau bahkan diubah menjadi meme negatif yang berpotensi viral.

Meski risiko ini belum terlalu umum saat ini, perkembangan teknologi seperti kecerdasan buatan dapat memperburuk situasi di masa depan.

2. Hilangnya Kesempatan Mengajarkan Nilai Privasi dan Persetujuan

Anak-anak, meskipun masih kecil, memiliki hak atas privasi dan persetujuan. Mulai dari memilih baju hingga cara mereka tampil di depan orang lain, preferensi mereka perlu dihargai.

"Ketika anak-anak belajar tentang media sosial sendiri, kita berharap mereka akan menghormati privasi kita dan tidak membagikan foto kita yang tidak kita inginkan," ungkap Steinberg. Dengan membangun komunikasi ini sejak dini, kita dapat mengajarkan kepada anak pentingnya menghormati privasi orang lain.

Bagaimana Perasaan Anak terhadap Sharenting?

Anak-anak dari segala usia menghargai otonomi mereka. Hal-hal kecil seperti memilih baju favorit atau apakah mereka ingin difoto dapat memiliki makna besar bagi mereka.

"Ketika anak-anak memiliki perasaan, itu adalah perasaan besar," ujar Steinberg. Penting bagi orang tua untuk memberikan ruang bagi anak-anak untuk mengungkapkan perasaan mereka, bahkan jika mereka belum bisa memberikan persetujuan yang sepenuhnya disadari.

Selain itu, ketika orang tua terlalu cepat membagikan momen tertentu, ada risiko bahwa kenangan anak dapat "ditulis ulang" oleh gambar atau video yang diunggah. Hal ini bisa mengaburkan ingatan alami mereka terhadap peristiwa tersebut.

Ilustrasi Anak Tersenyum
Ilustrasi Anak Tersenyum Bing Image Creator

Cara Melindungi Privasi Anak di Dunia Digital

Berikut beberapa langkah yang dapat diambil orang tua untuk melindungi privasi anak:

Hindari membagikan informasi terlalu pribadi

Hindari unggahan yang memalukan atau terlalu detail, termasuk foto anak dalam keadaan tidak berpakaian.

Libatkan anak dalam proses pengambilan keputusan

Jelaskan kepada anak mengapa Anda ingin membagikan sesuatu dan diskusikan bersama apakah itu pantas untuk diunggah.

Periksa pengaturan privasi akun media sosial

Pastikan Anda hanya membagikan konten kepada audiens yang benar-benar terpercaya.

Bersikap selektif terhadap konten yang diunggah

Hindari informasi yang dapat mengidentifikasi lokasi anak, seperti seragam sekolah atau tempat tinggal.

"Anak-anak kita adalah individu yang memiliki perasaan sendiri," ujar Steinberg. Dengan menghormati privasi mereka, kita mengajarkan nilai-nilai yang akan mereka bawa sepanjang hidup.

Jika Sudah Terlanjur Membagikan Banyak Konten, Apa yang Harus Dilakukan?

Jika Anda mulai merasa ragu tentang apa yang telah Anda bagikan, langkah pertama adalah mengambil napas panjang. Tidak ada orang tua yang sempurna, dan sebagian besar sharenting dilakukan dengan niat baik.

Anda bisa mulai dengan:

Meninjau unggahan lama dan menghapus konten yang dianggap tidak relevan atau terlalu pribadi.

Melibatkan anak-anak usia 9-10 tahun untuk mengevaluasi bersama unggahan media sosial Anda, sekaligus mengajarkan mereka pentingnya jejak digital.

"Generasi kita adalah generasi pertama yang membesarkan anak-anak di era media sosial, dan itu tidak mudah," tambah Steinberg.

Sharenting adalah bagian tak terpisahkan dari era digital, tetapi penting untuk melakukannya dengan hati-hati. Ingatlah bahwa anak-anak adalah individu yang memiliki hak atas privasi dan otonomi mereka. Dengan mempertimbangkan risiko dan melibatkan anak dalam proses pengambilan keputusan, kita dapat menjadikan sharenting sebagai alat yang positif, bukan ancaman.

"Anak-anak kita adalah generasi pertama yang tumbuh besar di dunia yang serba terbuka, dan kita adalah orang tua pertama yang harus menghadapi tantangan ini. Bersama-sama, kita bisa belajar melindungi mereka," ujar Steinberg.

Rekomendasi