5 Mitos populer tentang aborsi

Jumat, 30 Agustus 2013 19:05 Reporter : Kun Sila Ananda
5 Mitos populer tentang aborsi Ilustrasi janin. ©Shutterstock.com/Smit

Merdeka.com - Hingga saat ini aborsi menjadi hal yang kontroversi. Setiap orang tentu memiliki pendapat mereka masing-masing mengenai praktik aborsi. Pendapat ini tentunya dibentuk oleh pemahaman serta pengetahuan seseorang mengenai aborsi.

Meski begitu, tak jarang informasi yang didapatkan melalui aborsi hanya berupa mitos belaka dan bukan fakta yang sesungguhnya. Berikut adalah beberapa mitos yang banyak dipercaya mengenai aborsi, seperti dilansir oleh Opt (Options for Sexual Health).

#1
Mitos: Aborsi bisa dilakukan kapan pun dalam masa kehamilan
Fakta: Aborsi tak bisa dilakukan seenaknya kapan pun diinginkan oleh wanita. Di beberapa negara dokter diperbolehkan melakukan aborsi pada saat usia kandungan masih sangat muda, pada trimester pertama dan ada yang memperbolehkannya sampai trimester kedua. Meski begitu, melakukan aborsi pada usia kandungan mencapai trimester ketiga dilarang karena berkaitan dengan kehidupan janin dan ibu yang tengah mengandung. Sementara itu di Indonesia, aborsi sendiri merupakan tindakan terlarang jika bukan karena alasan kesehatan. Meski begitu, hingga saat ini aborsi masih menjadi pertentangan baik secara moral, hukum, maupun agama.

#2
Mitos: Aborsi lebih berbahaya dari melahirkan
Fakta: Sama seperti melahirkan, aborsi juga bisa menyebabkan komplikasi. Meski begitu penelitian di Kanada tak menunjukkan bahwa aborsi lebih bahaya daripada melahirkan. Hal ini bergantung pada praktik aborsi yang dilakukan. Yang paling berbahaya adalah melakukan aborsi melalui praktik-praktik ilegal pada orang yang tak memiliki kemampuan medis mumpuni serta dengan peralatan yang tak sesuai standar bedah.

#3
Mitos: Aborsi bisa menyebabkan kanker payudara
Fakta: Pada Maret 2003, National Cancer Insitute (NCI) di Kanada menunjukkan tak ada kaitan antara aborsi dengan risiko kanker payudara. Untuk itu, hingga saat ini belum ada bukti jelas mengenai kaitan ini, serta dari mana mitos ini berkembang.

#4
Mitos: Aborsi menyebabkan depresi dan trauma psikologi berkepanjangan
Fakta: Trauma dan depresi setelah aborsi ini telah diajukan sebagai salah satu alasan penolakan aborsi oleh kelompok anti-aborsi di Amerika sejak tahun 1980-an. Meski begitu, peneliti tak menemukan adanya bukti bahwa wanita yang melakukan aborsi akan merasakan depresi atau trauma yang disebut post-abortion syndrome.

#5
Mitos: Daripada aborsi, lebih baik wanita gunakan kontrasepsi
Fakta: Tak ada kontrasepsi yang memberikan jaminan 100 persen berhasil. Sekitar 54 persen wanita yang berharap melakukan aborsi telah mencoba mencegah kehamilan. Selain itu, penyebab seorang wanita hamil bisa berbeda-beda. Bisa jadi seorang wanita telah mengalami perkosaan dan kemudian hamil. Hal ini tak bisa dicegah dengan kontrasepsi.

Itulah beberapa mitos dan anggapan yang banyak dimiliki oleh masyarakat saat ini. Hingga saat ini praktik aborsi memang masih menjadi kontroversi dan perdebatan, bahkan di Indonesia. Terlepas dari informasi di atas, sikap terhadap praktik aborsi kembali pada pemahaman dan kepercayaan masing-masing individu. [kun]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini