Tanggal 17 Ramadan adalah hari penuh berkah karena pada tanggal tersebut Alquran dan perintah salat turun. Namun di hari penuh kebaikan tersebut, di tanggal yang sama 40 Hijriah lalu, Amirul Mukminin Ali bin Abu Thalib ditikam sampai akhirnya meregang nyawa.Sayyidina Ali adalah korban dari fitnah dan kebencian yang dituai oleh pengikut Mu'awiyah, para pemberontak di Irak. Di ujung pedang Abdurrahman bin Muljam Al-Humairi nyawa Ali hilang saat hendak salat subuh. Diriwayatkan Ath-Thabari, pembunuhan Ali sudah direncanakan oleh Muljam dengan tujuan membalaskan dendamnya pada 17 Ramadan 40 Hijriah. Ibnu Muljam berkata, "Aku akan menghabisi Ali bin Abi Thalib!".Kepada seorang Syabib bin Bajrah al-Asyja’i al-Haruri, Muljam berkata Ibnu Muljam berkata, "Aku mengintainya di masjid, apabila ia keluar untuk mengerjakan shalat subuh, kita mengepungnya dan kita membunuhnya. Apabila berhasil maka kita merasa puas dan kita telah membalas dendam."Namun Syabub menolak bekerja sama dan mengutuk rencana Muljam. Muljam tidak hirau, maka ketika Ali keluar dan membangunkan jamaah untuk salat subuh, dengan cepat Muljam menancapkan pedangnya ke kepala Ali. Seketika darah mengalir sampai membasahi janggut Ali. Ali bertanya kepada Muljam soal tindakan kejamnya itu, dengan membawa asma Allah Muljam menjawab, "Aku telah mengasah pedang ini selama empat puluh hari supaya aku dapat membunuh dengan pedang ini,".Dikutip dari buku buku Peristiwa-Peristiwa Penting di Bulan Ramadan karya Abdurrahman Al Baghdady, Ali ra mengembuskan napas terakhirnya dua kemudian dan syahid di usia 58 tahun.
17 Ramadan, Ali berpulang dengan tragis ditikam karena dendam
"Aku telah mengasah pedang ini selama empat puluh hari supaya aku dapat membunuh dengan pedang ini," kata Muljam.
Rekomendasi