Selain menolak disamakan dengan umat lainnya, kaum Quraisy juga menolak ajaran Rasulullah SAW untuk menyembah Tuhan yang Esa sembari meninggalkan ajaran nenek moyang mereka yang menyembah berhala.Ajaran yang menjelaskan, orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan melakukan amal saleh akan dimasukkan ke dalam surga, sedangkan orang yang kafir akan dimasukkan ke dalam neraka Jahanam. Kaum Quraisy mempertanyakan jika manusia yang sedang mengalami masalah hanya boleh berdoa kepada Allah SWT. Bagaimana mungkin Islam tidak mengakui adanya perantara antara manusia dan Tuhan? "Apakah dia menjadikan tuhan-tuhan itu Tuhan yang satu saja? Sungguh, ini benar-benar sesuatu yang sangat mengherankan," (Shad [38]: 5)Selain itu kaum Quraisy mempertanyakan, dakwah Rasulullah SAW, yang mengajarkan Allah SWT yang telah menciptakan manusia akan menghidupkan mereka setelah mati dan membangkitkan mereka dari kubur?Bagi mereka, hal ini merupakan penghinaan terhadap keyakinan yang mereka warisi secara turun- temurun dari para leluhur. Mereka menilai, penghinaan itu akan menghancurkan kebesaran dan kehormatan nama baik kaum Quraisy di mata kabilah-kabilah Arab yang lain. Tidak boleh ada seorang pun yang menghina dan merendahkan mereka dengan cara seperti itu. Tetapi ada pula kelompok orang dari kalangan aristokrat Quraisy yang menerima kebenaran ajaran Rasulullah SAW. Hal itu diakui oleh salah seorang pembesar Quraisy, Harts bin Utsman bin Abdi Manaf."Kami tahu bahwa apa yang engkau katakan itu benar. Tetapi jika kami mengikutimu, kami akan diperangi oleh seluruh bangsa Arab dan kami akan terusir dari tanah ini. Kami tentu tidak akan mampu melawan mereka semua," kata Harts kepada Rasulullah SAW.Kemarahan kaum Musrik semakin membara ketika mereka mengetahui bahwa di antara keluarga mereka sendiri ada yang telah memeluk Islam. Para "pengkhianat" itu disiksa sedemikian rupa agar mereka kembali menyembah berhala. Waktu itu merupakan periode yang paling sulit dalam sejarah penyebaran Islam pada fase-fase awal. Penyiksaan berlangsung di mana-mana. Begitulah pertentangan terjadi antara Rasulullah SAW dan para pengikutnya. Pertarungan antara kebaikan yang dibawa Islam untuk mengangkat derajat manusia dari keburukan yang diwarisi dari tradisi Jahiliah yang merendahkan kehormatan mereka justru mendapatkan pertentangan oleh sebagian umat Rasul.