Sekjen PDIP Sebut Fadli Zon Contoh Degradasi Kepemimpinan yang Luar Biasa

Kamis, 7 Februari 2019 18:29 Reporter : Ahda Bayhaqi
Sekjen PDIP Sebut Fadli Zon Contoh Degradasi Kepemimpinan yang Luar Biasa Hasto Kristiyanto dan Nindya Auliya Mugni. ©2019 Merdeka.com/ahda bayhaqi

Merdeka.com - PDI Perjuangan bertemu tokoh budaya di Museum Bumi Ageung Cikidang, Cianjur, Jawa Barat, Kamis (7/2). Sekretaris Jenderal PDIP Hasto Kristiyanto, Wasekjen PDIP Ahmad Basarah, dan Ketua DPD PDIP Jabar TB Hasanuddin, disambut penampilan pencak silat dan pembacaan puisi.

Hasto mengapresiasi puisi yang dibacakan anak perempuan yang masih bersekolah SMP kelas 1. Dia malah membandingkan hobi berpuisi Wakil Ketua DPR Fadli Zon. Menurut Hasto, puisi politisi Gerindra itu tanpa kebudayaan karena berisi makian.

"Membaca puisi pun kalau tanpa kebudayaan hanya puisi makian termasuk kepada seorang ulama itulah yang dilakukan oleh mohon maaf pak Fadli Zon wakil ketua DPR," ujar Hasto.

"Mosok wakil ketua DPR kalah sama adik kita dalam membuat puisi dan membaca puisi, itu adalah sebuah degradasi kepemimpinan yang luar biasa," tegasnya.

Kalau dinilai, puisi yang dibuat anak bernama Nindya Auliya Mugni bisa dapat angka 9 kata Hasto. Sedangkan, puisi ala Fadli Zon hanya angka 3.

"Ya kalah jauh, kalah jauh sama yang ini. Kalau nilainya tadi 9, yang sana 3,"kata Hasto.

PDIP juga dihadiahi sebuah antologi puisi bertajuk "Tak ada hoaks dalam tubuhku". Menurut Hasto antologi puisi buatan Yusuf Gigan itu sebagai bentuk kritik terhadap Fadli.

"Ini sekaligus sebagai otokritik bagi mereka yang menggunakan puisi hanya sebagai alat kekuasaan. Sebagai alat untuk menghina ulama," kata Hasto. [rnd]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini