Sejak Kapan Quick Count Jadi Acuan di Indonesia?
Merdeka.com - Quick count atau hitung cepat dalam sering dilakukan oleh beberapa lembaga setiap pemilu. Metode ini dinilai paling praktis dan cepat dalam mengetahui siapa pemenang Pemilu. Quick count sering dilakukan untuk mengetahui hasil pemilihan kepala daerah, anggota legislatif dan presiden-wakil presiden.
Hitung cepat sendiri adalah metode verifikasi yang dilakukan dengan menghitung persentase hasil pemilu di tempat pemungutan suara (TPS) yang dijadikan sampel. Cara ini dianggap mendekati akurat.
Namun, hasil quick count bukan hasil resmi yang akan dipakai KPU dalam menentukan hasil Pemilu. Hasil resmi Pemilu tetap mengacu pada penghitungan manual. Berikut adalah ulasan singkat mengenai sejarah adanya quick count di Indonesia:
Hitung Cepat Mulai Dikenalkan Tahun 2004
Rekonstruksi prajurit tni pembunuh kacab bank BUMN. ©2025 Merdeka.comMetode hitung cepat mulai dilakukan pasca-reformasi, tepatnya tahun 2004. Waktu itu, Ketua badan Pengawas Lembaga Penelitian Pendidikan Penerapan Ekonomi dan Sosial (LP3ES), Roestam Efendi mengatakan LP3ES pertama kali memperkenalkan metode hitung cepat dalam Pemilu 2004.
"Upaya menemukan metodologi quick count sudah dilakukan LP3ES sejak tahun 1997, kebetulan waktu itu saya Direktur LP3ES (1993-1999)," tulis Roestam.
Rakyat Pertama Kali Memilih Langsung Tahun 2004
Rekonstruksi prajurit tni pembunuh kacab bank BUMN. ©2025 Merdeka.comSebelum 2004, rakyat belum memilih secara langsung wakilnya di DPR, DPRD Provinsi, dan DPRD Kabupaten/Kota. Kemudian pertengahan tahun 2004, masyarakat bisa memilih langsung capres dan cawapres pilihan mereka. Hal itu tercantum dalam Undang-Undang No.23 Tahun 2003 Tentang Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden, Komisi Pemilihan Umum (KPU).
Proses Hitung Cepat Sempat Tak Dipercaya
Rekonstruksi prajurit tni pembunuh kacab bank BUMN. ©2025 Merdeka.comMetode hitung cepat masa kini terbilang lebih cepat dibandingkan 2004 lalu. Pada tahun 2004, sistem penghitungan KPU yang paling diandalkan. Sedangkan proses hitung cepat masih diragukan saat itu. Namun di sisi lain, tahun 2004 penghitungan KPU dinilai lamban oleh LP3ES. Akhirnya pihak LP3ES melakukan quick count alias hitung cepat dengan bantuan The National Democratic Institute for International Affairs (NDI).Hasilnya, hitung cepat ala LP3ES lebih cepat satu hari daripada hitung manual dari KPU. LP3ES merilis hasil pemilu tahun 2004. Sehari kemudian, hitung manual KPU baru keluar.
Pernah Uji Coba Quick Count Diam-Diam
Rekonstruksi prajurit tni pembunuh kacab bank BUMN. ©2025 Merdeka.comRoestam menceritakan pernah melakukan metode hitung cepat itu secara diam-diam di Indonesia pada Pemilu 1977. Hasilnya, ada perbedaan angka yang signifikan antara quick count LP3ES dengan hasil PPI (Panitia Pemilihan Indonesia)"LP3ES secara diam-diam melaksanakan quick count khusus DKI Jakarta untuk melihat apakah ada kecurangan dalam penghitungan suara," ujar dia.LP3ES, kata Roestam, menyimpulkan memang ada kecurangan dalam penghitungan suara pada pemilu masa Orde Baru. "Tapi waktu itu LP3ES tidak berani mengumumkan," katanya.
Metode Hitung Cepat Mulai Diandalkan Tiap Pemilu
Rekonstruksi prajurit tni pembunuh kacab bank BUMN. ©2025 Merdeka.comHingga saat ini, metode hitung cepat bisa diandalkan oleh masyarakat. Karena, menurut Roestam, proses hitung cepat menjadi alat kontrol terhadap kemungkinan kecurangan. "Justru alat kontrol terhadap kemungkinan kecurangan penghitungan suara resmi," jelas Roestam.Setelah era reformasi, LP3ES melakukan sejumlah hitung cepat di sejumlah pemilu dan hasilnya selalu akurat. Pada Pilpres pertama tahun 2004, LP3ES bahkan memberanikan diri menyatakan bahwa SBY - JK akan menjadi Presiden dan Wakil Presiden, meskipun hasil KPU belum diumumkan."Ternyata kemudian hasil KPU tidak berbeda dengan hasil quick count LP3ES. Sejak saat itulah quick count jadi semacam rujukan hasil pemilu," ujarnya.
(mdk/has)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya