Wakil Ketua DPRD Provinsi Jawa Tengah, Setya Ari Nugraha, menyoroti kompleksitas Tantangan Jurnalis Era Digital. Perkembangan teknologi yang begitu cepat disebutnya sebagai pemicu utama perubahan lanskap media saat ini. Ia menekankan bahwa diskusi ini menjadi ruang penting bagi insan pers. Tujuannya untuk memperkuat peran dan eksistensinya di tengah arus informasi yang kian deras.
Pernyataan tersebut disampaikan dalam sebuah diskusi kelompok terpumpun yang diselenggarakan oleh DPRD Jateng dan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kabupaten Banyumas. Acara bertema "Jurnalis di Era Digital: Antara Konten, Cuan, dan Tantangan Digital" ini berlangsung di Purwokerto, Banyumas, pada hari Minggu. Kegiatan ini bertujuan memperkuat kapasitas jurnalis lokal. Mereka diharapkan tetap adaptif menghadapi berbagai perubahan zaman.
Diskusi tersebut dihadiri oleh anggota PWI Kabupaten Banyumas dan Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) Koordinator Daerah Banyumas Raya. Selain Setya Ari Nugraha, Ketua PWI Kabupaten Banyumas Lilik Darmawan turut menjadi narasumber. Pendiri Lintang Academy, Selastio Fadli, juga hadir memberikan pandangannya. Mereka membahas berbagai aspek penting yang dihadapi para jurnalis saat ini.
Advertisement
Advertisement
Kolaborasi dan Profesionalisme di Tengah Arus Digital
Setya Ari Nugraha menegaskan bahwa media dan jurnalis merupakan mitra strategis dalam menyampaikan informasi pembangunan. Kolaborasi serta kerja sama yang baik harus terus dijaga, mengingat Tantangan Jurnalis Era Digital semakin kompleks. Jurnalis dituntut tidak hanya menghasilkan konten yang menarik. Mereka juga harus tetap berpegang pada objektivitas, kode etik, serta tanggung jawab publik.
Profesionalisme dan tanggung jawab publik menjadi landasan utama bagi setiap jurnalis di era modern. Tantangan di era digital bukan hanya soal algoritma media sosial dan persaingan konten semata. Dampak polarisasi informasi juga dapat memicu perpecahan di masyarakat. Oleh karena itu, peran jurnalis sangat krusial dalam menjaga persatuan bangsa.
DPRD Jateng memberikan apresiasi tinggi kepada para jurnalis yang terus menjaga profesionalisme mereka. Mereka secara konsisten menyuarakan isu-isu strategis di Jawa Tengah, khususnya di wilayah selatan. Kawasan tersebut masih menghadapi berbagai persoalan pembangunan dan kemiskinan. Peran media dalam mengangkat isu ini sangat vital untuk mendorong perubahan positif.
Advertisement
Advertisement
Adaptasi Jurnalis dan Ancaman Kecerdasan Buatan
Ketua PWI Kabupaten Banyumas, Lilik Darmawan, berharap diskusi ini dapat memperkuat kapasitas jurnalis lokal. Tujuannya agar mereka tetap adaptif terhadap perubahan zaman yang begitu cepat dan dinamis. Ia menyatakan bahwa jurnalisme tetap relevan di era digital. Meskipun demikian, bidang ini mengalami transformasi signifikan dalam cara penyampaian informasi.
Tantangan utama bagi jurnalis adalah bagaimana menjaga kredibilitas di tengah banjir informasi yang seringkali tidak terverifikasi. Selain itu, mereka juga harus menguasai multimedia untuk menyajikan berita dalam berbagai format. Membangun kedekatan dengan audiens juga menjadi krusial di era interaktif ini. Kemampuan beradaptasi dengan teknologi baru adalah kunci keberhasilan.
Selastio Fadli dari Lintang Academy memaparkan berbagai perkembangan teknologi informatika. Ia secara khusus menyoroti penggunaan Kecerdasan Buatan (AI) yang kini semakin masif. AI dinilai sebagai salah satu Tantangan Jurnalis Era Digital yang signifikan, khususnya bagi media daring. Teknologi ini berpotensi mengubah kebiasaan konsumsi berita masyarakat.
Advertisement
Menurut Fadli, penggunaan AI dapat membuat masyarakat malas membaca berita langsung dari sumbernya. Mereka cukup memerintahkan aplikasi AI untuk mencarikan berita yang diinginkan tanpa harus membuka laman media daring. Dengan demikian, penggunaan AI dikhawatirkan tidak akan menambah jumlah kunjungan pembaca media daring. Lintang Academy siap membantu jurnalis yang ingin mempelajari teknologi informatika secara gratis.
Sumber: AntaraNews