Ketua Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) Muhammad Isnur mendesak aparat kepolisian dan tentara untuk menahan diri saat menghadapi massa aksi unjuk rasa. Desakan ini disampaikan menyusul situasi demonstrasi yang berujung kericuhan di beberapa titik di Jakarta pada Sabtu malam hingga Minggu dini hari.
Isnur menduga, tak sedikit warga yang menjadi korban dan mengalami kekerasan selama momen tersebut, sehingga penting bagi aparat untuk tidak menunjukkan arogansi. Dia menekankan bahwa penguasa harus memerintahkan aparatnya untuk mengedepankan sikap humanis dalam berinteraksi dengan rakyat.
Situasi di lapangan digambarkan cukup mencekam, mendorong YLBHI untuk meminta semua pihak, baik tentara maupun polisi, agar menahan diri. Pendekatan humanis diharapkan dapat mencegah eskalasi konflik dan meminimalkan korban yang berjatuhan.
Advertisement
Advertisement
Desakan YLBHI untuk Pendekatan Humanis
Muhammad Isnur secara tegas meminta aparat kepolisian agar tidak mempertontonkan arogansi, kekejaman, dan kekuatan senjata kepada massa demonstran. Menurutnya, pendekatan yang humanis adalah kunci untuk meredam potensi kericuhan dan menjaga situasi tetap kondusif.
Isnur menekankan bahwa aparat harus mampu menghadapi rakyat dengan cara yang beradab dan penuh pengertian, bukan dengan intimidasi. Sikap menahan diri ini sangat krusial untuk memastikan hak-hak warga negara dalam menyampaikan aspirasi tetap terlindungi.
Kondisi mencekam yang terjadi di beberapa lokasi unjuk rasa menjadi latar belakang utama desakan YLBHI ini. Mereka berharap agar insiden kekerasan tidak terulang dan setiap unjuk rasa dapat berjalan damai tanpa menimbulkan korban.
Advertisement
Advertisement
YLBHI Lakukan Pendataan Korban Kericuhan
Hingga Minggu siang, YLBHI masih terus melakukan pendataan terhadap jumlah korban atau orang-orang yang ditangkap akibat aksi semalam yang mengalami kericuhan. Upaya ini dilakukan untuk mendapatkan gambaran jelas mengenai dampak dari insiden tersebut.
Untuk mempercepat proses pendataan, YLBHI telah mengerahkan tim khusus yang terdiri dari paramedis, paralegal, dan perwakilan dari berbagai kantor LBH. Tim ini bekerja secara sinergis di lapangan untuk mengumpulkan informasi yang akurat dan komprehensif.
Pendataan ini menjadi langkah awal YLBHI dalam memberikan bantuan hukum dan medis kepada para korban. YLBHI berkomitmen untuk memastikan bahwa setiap individu yang terdampak mendapatkan pendampingan yang layak dan hak-haknya terpenuhi.
Advertisement
Advertisement
Kronologi Kericuhan dan Dampaknya
Aksi unjuk rasa yang berujung kericuhan dilaporkan terjadi sejak Jumat hingga Minggu dini hari di beberapa lokasi strategis di Jakarta. Titik-titik kericuhan meliputi sekitar kompleks parlemen Senayan, Semanggi, Kwitang, Senen, hingga Tanjung Priok, menunjukkan luasnya cakupan insiden.
Kericuhan tersebut tidak hanya menyebabkan bentrokan antara massa dan aparat, tetapi juga berujung pada insiden penjarahan. Sejumlah rumah anggota DPR dilaporkan menjadi sasaran penjarahan, termasuk rumah Ahmad Sahroni, Eko Patrio, hingga Uya Kuya.
Peristiwa ini menambah daftar panjang dampak negatif dari unjuk rasa yang tidak terkendali. YLBHI berharap insiden ini menjadi pelajaran bagi semua pihak untuk mengedepankan dialog dan pendekatan damai dalam setiap penyampaian aspirasi.
Advertisement
Sumber: AntaraNews