Menjelang tahun politik masyarakat diimbau untuk memperkuat kebersamaan. Jangan sampai ada pihak menggunakan politik identitas demi kepentingan sesaat yang dapat merusak persatuan.
Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Abdullah Jaidi mengimbau seluruh pihak untuk tidak menghalalkan segala cara untuk mendapatkan tujuan politik. Terutama dengan melakukan ujaran kebencian, intoleransi berbau SARA, apalagi yang menggunakan mimbar agama.
"Saya berpesan agar Pemilu tahun depan jangan dijadikan ajang perseteruan tapi kita manfaatkan Pemilu untuk merajut kebersamaan dan persatuan bangsa," ujar Abdullah dalam keterangannya, Rabu (22/2/).
Abdullah berharap pada Pemilu nanti menjadi pembelajaran untuk bisa menunjukkan kesantunan dan saling menghargai dalam menyikapi perbedaan pandangan politik. Hal ini perlu dilakukan agar masyarakat tidak mudah dibenturkan.
"Tidak ideal jika kita saling menghujat dan menjatuhkan. Agenda politik lima tahunan ini tidak menjadi pemicu permusuhan di antara kita," tutur mantan Ketua Umum PP Al-Irsyad Al-Islamiyyah ini.
Terlepas apapun yang dijanjikan, lanjutnya, para pihak yang bersaing perlu memperhatikan adab atau kesantunan dalam bertindak dan bertutur kata terhadap sesama anak bangsa.
"Kita boleh berbeda agama, pandangan, atau kepercayaan, tetapi sebagai warga negara kita harus mengutamakan kebersamaan dalam menjunjung tinggi dasar negara, yaitu Pancasila," jelasnya.
Dalam sila pertama Pancasila, jelasnya, terdapat nilai Ketuhanan. Selanjutnya, terdapat nilai persatuan Indonesia yang menggambarkan kebersamaan anak bangsa. Peradaban Indonesia akan semakin matang jika bisa menyingkirkan perselisihan dari perbedaan yang ada.
"Tujuan kita semua adalah menciptakan suasana rukun, damai, saling menghormati dan menghargai," tandasnya.