Anggota Badan Pemenangan Nasional (BPN) capres nomor urut 02 Prabowo Subianto dan Sandiaga Salahuddin Uno, Nizar Zahro menilai, capres petahana Presiden Joko Widodo atau Jokowi tak pantas menyerang Prabowo dengan isu kepemilikan lahan pada debat capres 17 Februari lalu.
Dia pun menantang, Jokowi untuk membuka daftar lahan yang dikuasai oleh orang-orang terdekatnya. Pasalnya, kata Nizar, banyak lahan juga yang dikuasai oleh pendukung Jokowi.
"Lebih hebat lagi, bila Presiden Jokowi berani membongkar para pendukungnya yang memiliki lahan lebih luas dari yang dimiliki oleh Prabowo. Semut di seberang kelihatan tapi gajah di pelupuk mata tidak terlihat. Ini pepatah yang layak disematkan kepada Jokowi," kata Nizar dalam keterangan tertulisnya, Selasa (19/2).
Selain menantang untuk membuka data lahan yang dimiliki pendukungnya, Nizar juga meminta Jokowi mengungkap lahan yang yang dikuasai asing. Nizar juga merinci perusahaan yang menguasai lahan.
Mulai dari Grup Wilmar (dimiliki Martua Sitorus dan kawan-kawan), Sinar Mas (Eka Tjipta Widjaja), Raja Garuda Mas (Sukanto Tanoto), Batu Kawan (Lee Oi Hian asal Malaysia), Salim (Anthoni Salim), Jardine Matheson (Henry Kaswick, Skotlandia), Genting (Lim Kok Thay, Malaysia), Sampoerna (Putera Sampoerna), Surya Dumai (Martias dan Ciliandra Fangiono), dan Provident Agro (Edwin Soeryadjaya).
Lalu Grup Anglo-Eastern (Lim Siew Kim, Malaysia), Austindo (George Tahija), Bakrie (Aburizal Bakrie), BW Plantation-Rajawali (Peter Sondakh), Darmex Agro (Surya Darmadi), DSN (TP Rachmat dan Benny Subianto), Gozco (Tjandra Gozali), Harita (Lim Hariyanto Sarwono), IOI (Lee Shin Cheng, Malaysia), Kencana Agri (Henry Maknawi), Musim Mas (Bachtiar Karim), Sungai Budi (Widarto dan Santosa Winata), Tanjung Lingga (Abdul Rasyid), Tiga Pilar Sejahtera (Priyo Hadi, Stefanus Joko, dan Budhi Istanto), dan Triputra (TP Rachmat dan Benny Subianto).
Politikus Partai Gerindra ini juga meminta Jokowi mengungkap dana sertifikat yang dikeluarkan oleh kementerian Agraria tata ruang atau Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) untuk lahan reklamasi pada 2017 sekitar 3.120.000 meter persegi ke salah satu perusahaan. Dia yakin Jokowi mengetahui persis terkait hal tersebut.
"Kami tantang Presiden Jokowi untuk segera mengumumkan lahan-lahan tersebut. Bila Jokowi tidak berani maka bisa disimpulkan Jokowi takut pada aseng atau asing," ungkapnya.
"Jadi, pernyataan Jokowi hanya takut kepada Allah, bisa dibuktikan dengan membuka data pemilik tanah yang super luas baik atas nama pribadi atau perusahaan," ucapnya.