Presiden PKS Sohibul Iman mempersilakan kader-kadernya berkampanye negatif untuk meraih suara dalam Pemilu 2019.Tapi Sohibul ingin kampanye negatif hanya sebesar 20 persen saja.
Menyangkut itu, Wakil Ketua Tim Kampanye Nasional Koalisi Indonesia Kerja (TKN KIK) Jokowi-Ma'ruf, Abdul Kadir Karding mengatakan, bahwa dalam konteks kampanye negatif, hal itu sebenarnya dibolehkan.
"Sepanjang memang kampanye itu dilakukan dengan data dan fakta. Namun menurut saya jangan mencari-cari, jangan fokus ke sana," jelasnya melalui pernyataan tertulis kepada wartawan, Senin (15/10).
Karding mengatakan, tujuan pilpres adalah membangun kebersamaan, membangun solidaritas, membangun demokrasi yang sehat, serta menjaga stabilitas dan keamanan. Dia turut menambahkan, masyarakat harus menjaga jangan sampai gaduh, menjaga toleransi dan persatuan.
"Sehingga kampanye negatif bisa kita lakukan dalam rangka betul-betul mengetahui tentang jejak rekam. Tetapi tidak boleh mendominasi seluruh kampanye kita selama 6 bulan ke depan," kata dia.
"Sementara yang tidak boleh adalah black campaign, artinya kampanye dengan hoaks, fitnah, tanpa data, merusak persatuan dan sebagainya," kata Karding.
Dalam pandangannya, yang pertama dijual dalam Pilpres dan Pileg adalah bagaimana menyampaikan rekam jejak dari paslon. Hal ini penting agar masyarakat tahu apa sesungguhnya yang menjadi watak dasar dan prinsip hidup seseorang yang sangat dibutuhkan dalam memimpin.
"Kedua, program apa yang akan disampaikan di depan, harapan-harapan apa yang ingin disampaikan di depan. Optimisme apa yang akan disampaikan di depan. Ketiga, tentu kerja apa, prestasi apa yang telah dicapai," lanjut dia.
Dengan itu, Karding menegaskan, dari 3 jenis kampanye, yang perlu ditonjolkan adalah kampanye yang bernuansa positif.
"Kampanye dengan cara-cara yang sopan, dengan tone-tone yang positif, menjaga kesejukan, menjaga optimisme masyarakat, memberi harapan-harapan. Dan yang lebih penting adalah memberi solusi-solusi terhadap masalah bangsa sekarang dan yang akan datang," tutup Karding.
Reporter: Ratu Annisaa Suryasumirat
Sumber: Liputan6.com