PKS terkesan alergi 'islah' karena gengsi kalah dari Fahri Hamzah

PKS terkesan alergi 'islah' karena gengsi kalah dari Fahri Hamzah. Keputusan Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Selatan (Jaksel) yang mengabulkan sebagian gugatan Fahri patut publik apresiasi. Direktur Eksekutif Voxpol Center, Pangi Syarwi Chaniago mengatakan setiap warga taat hukum harus menghormati putusan pengadilan.

Supriatin
Oleh Supriatin - Reporter
PKS terkesan alergi 'islah' karena gengsi kalah dari Fahri Hamzah
Fahri Hamzah dipecat PKS. ©2016 merdeka.com/arie basuki

Keputusan Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Selatan (Jaksel) yang mengabulkan sebagian gugatan Fahri patut publik apresiasi. Direktur Eksekutif Voxpol Center, Pangi Syarwi Chaniago mengatakan setiap warga taat hukum harus menghormati putusan pengadilan tersebut. "Keputusan pengadilan itu setingkat UU dan mengikat," kata Pangi kepada merdeka.com, Sabtu (17/12).Menurut Pangi, keputusan PN Jaksel tersebut menunjukkan kekalahan sebagian elite petinggi oligarki PKS (degradasi otoritas kekuasaan) dan injeksi politik bagi pembaharuan (dekonstruksi parpol). Situasi ini menjadi momentum emas bagi PKS untuk melakukan amandemen AD/ART partai sehingga bergeser ke AD/ART partai yang modern dan demokratis (restrukturisasi kekuasaan)."Negara kita adalah negara hukum, pakem hukum tertinggi adalah konstitusi, bagaimana memaknai konteks sebagian elite partai soal logika AD/ART PKS lebih tinggi dari UU dan konstitusi. Logika sesat tersebut yang sedang berkembang di internal PKS," turut dia.Pangi menambahkan, keputusan PN Jaksel mengabulkan sebagian gugatan Fahri juga menjadi preseden buruk bagi sebagian petinggi partai yang diduga membangkang kepada aturan negara. AD/ART partai dianggap lebih tinggi kedudukannya dari pada UUD 1945, hal itu mengancam konstelasi NKRI. "Ini bisa dikategorikan sikap makar dan menjadi persoalan yang agak serius," tegasnya.Penulis Buku Titik Balik Demokrasi ini mengatakan, sikap DPP PKS menyatakan banding adalah langkah konstitusional dan sah, untuk mendapatkan kepastian hukum. Di sisi lain, sikap itu dianggap malah melanjutkan konflik di internal partai."Ada kesan alergi 'islah' karena gengsi kalah dengan Fahri Hamzah. Kegaduhan, silang sengkarut kembali menjadi konsumsi publik," tuntas Pangi.

Rekomendasi