Suharsono, calon bupati Bantul yang sempat disebut-sebut sebagai boneka mengaku pernah mendaftarkan diri sebagai calon bupati Bantul, melalui PDI Perjuangan. Namun saat itu, nampaknya partai berlambang moncong putih itu tidak berminat menggaetnya.Suharsono menyatakan, saat mendaftar dia mengaku mendapat dukungan dari 14 PAC PDI Perjuangan di Bantul."Saya dulu mendaftar ke PDIP karena saya tidak memiliki partai. Waktu mendaftar banyak dukungan dari internal PDIP sendiri," kata Suharsono saat ditemui merdeka.com di rumahnya, Kamis (10/12).Suharsono pun mengikuti seleksi calon bupati hingga tingkat DPP PDI Perjuangan. Di sana, Suharsono mengikuti tes psikologi dan wawancara dilakukan oleh Ketua DPP PDI Perjuangan, Idham Samawi, yang juga suami dari calon petahana Bupati Bantul, Sri Suryawidati."Saya ini orang psikologi. Saat tes psikologi itu ya bagi saya sudah biasa. Tapi karena yang melakukan tes itu suami bu Ida (panggilan Sri Suryawidati) ya saya akhirnya gugur," ujar Suharsono.Meski gugur, Suharsono tidak patah semangat. Dia terus mencari partai politik yang mau mengusungnya. Akhirnya, Partai Gerindra dan Partai Kebangkitan Bangsa bersedia mengusungnya dalam Pilkada. Dia lantas berpasangan dengan Abdul Halim Muslih."Saya ini wong ndeso, cita-cita jadi petani. Tapi saya bisa meyakinkan kalau saya punya visi membangun Bantul lebih baik. Sampai kemarin, sebagian massa PPP itu mendukung saya, meski partai mendukung bu Ida. PDIP juga begitu, sebagian tetap mendukung saya," tutup Suharsono.
Dulu ditolak PDIP, Suharsono kini unggul di Pilkada Bantul
Suharsono mengaku pendukungnya di Pilkada Bantul bukan cuma Gerindra dan PKB, tetapi ada dari PDIP dan PPP.
Rekomendasi